Melakoni Patah Hati

dhea prayitno
Aug 31, 2018 · 3 min read

Bagaimana mungkin, seseorang yang pada mulanya kamu pikir sebagai masa depanmu, dalam sekejap mata beralih menjadi masa lalumu?

Hal itu yang pertama kali terbesit ketika hatiku sedang terombang-ambing antara ingin berhenti tapi tidak sanggup untuk melangkah pergi. Sebuah patah hati yang tidak mungkin terjadi. Begitulah setidaknya yang aku rasa beberapa masa ke belakang.

source: instagram.com/bridgettdevoue

Yang aku tahu, dalam hubungan memang ada konsekuensinya. Kalau boleh mengutip dari ayah Pidi, beliau pernah menulis begini:

Tujuan pacaran

adalah untuk putus.

Bisa karena berpisah,

bisa karena menikah.

-Pidi Baiq

Sedikitnya aku bisa menerima konsep itu, karena memang begitulah adanya.

Pacaran menurutku seperti meniti jalan di tali yang menghubungkan dua tebing. Pemandangan di sepanjang perjalanan sungguh sangat menawan. Di ujung jalan telah disuguhkan tebing yang jauh lebih indah dibanding tebing tempat kita memulai. Tapi berjalannya perlu kehati-hatian yang extra. Salah sedikit bisa jatuh ke jurang. Sekalinya jatuh, sakitnya tanpa ampun. Menusuk, merasuk, menghancurkan.

Hal yang paling aku khawatirkan adalah menanggung rasa sakit itu. Dan disinilah ia, kekhawatiran yang datang seakan mau mengejek. Menyumpah serapah.

Kayaknya, perihal patah hati udah jadi rasa yang nggak perlu aku takuti lagi. Karena perjalanan karirnya di hidupku cukup mentereng di beberapa step kehidupanku. Kalau diingat-ingat, minimal sekali dalam satu periode sekolahku si patah hati ini selalu ambil peran penting.

Tapi, yang membuat tiap periode berbeda adalah bagaimana menanggapi si patah hati itu.

Pas cinta monyet SD, hmm.. nggak kerasa betul tuh patah hati.

Berikutnya pas SMP, ada rasanya, cuman nggak sakit.

Beranjak SMA, mulai benih-benih rasa sakit yang lumayan membekas, cuman durasinya nggak lama.

Nah saat kuliah ini..

Hal ihwal patah hati udah semakin kompleks, kadang bahkan sampai heran kenapa bisa sesakit ini.

Sempat beberapa kali terpikir di periode sebelumnya, bahwa patah hati harus ditanggapi dengan serius. Contohnya tergesa-gesa balas balik ke sumber penyebab patah hati. Auto bully lah, auto block lah, marah-marah lah, nggak terima lah. Ujung-ujungnya jadi penyakit hati. Double trouble.

Tapi yang terasa baru-baru ini rasanya lain. Justru tidak ada terbesit satu kali pun untuk membalas sakit yang dirasa kepada si penyebab. Yang bisa dilakukan hanya menerima, menerima, dan ikhlas. Bukan berarti nggak marah dan nggak nangis. Justru semakin nyaring amarahnya, dan semakin sembap mata dibuatnya.

Satu hal yang nggak akan pernah terlupa.

Rasa sakitnya.

Nggak ada penggambaran yang benar-benar bisa memberi contoh bagaimana rasa sakit dari patah hati kali ini. Dia sebegitu jahatnya bertengger di jantung hingga membuat sesak. Setiap kali diputar ulang kenangan-kenangan lalu, semakin terbenam rasa sakitnya. Sampai berubah menjadi pilu.

Pilu yang teramat sangat.

Untuk sebagian orang yang sedang tidak merasakan ini mungkin akan mengecap terlalu berlebihan. Atau mungkin sebagian orang yang tengah dirundung galau mungkin juga akan berkata kalau patah hati yang aku rasakan itu digambarkan terlalu drama. Disaat mereka tidak merasakan hal yang sama.

Tapi itulah adanya, sakitnya kurang lebih seperti itu. Sampai aku memutuskan bahwa yang ini benar cinta. Dan cinta kali ini telah dengan mudahnya merasuk ke seluruh tubuh dan bisa dengan mudahnya mengacaukan apapun yang ada didalamnya. Ini cinta, dan patah hati itu resikonya.

Saat berada di fase itu, semuanya perlahan berubah. Yang sebelumnya tidak sadar menjadi sadar. Yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas. Aku rasa hal ini yang menjadi keunggulan patah hati, tanpa banyak bicara ia memberi ruang kesendirian. Membuat siapapun yang merasakannya bisa lebih perlahan membaca keadaan. Serta lebih tenang dalam bertindak.

Berdamai dengan patah hati itu bukan perkara mudah. Semuanya kembali kepada yang punya rasa. Cukup sehari kah? atau mungkin perlu berhari-hari kah sampai sembuh? Tapi yang aku tau pasti, rasa itu pasti sembuh. Pasti. Dan aku percaya itu.

Dalam menghadapinya pun semua orang punya caranya masing-masing. Kalau aku sendiri justru mendengarkan lagu-lagu kenangan. Yang secara otomatis menarik keluar semua air mata tanpa perlu ditahannya. Sembari membiarkan hati merasakan sakit. Sama sekali tidak berusaha untuk menahan. Karena menurutku, semakin ditahan semakin terbendung. Semakin penuh bendungan tersebut, sewaktu-waktu bisa membanjiri karena tak dapat ditampung lagi.

Patah hati tetap bukan perihal yang mudah. Serius.

Tapi ketika kita bisa menghadapinya, mengontrolnya, atau bahkan membuatnya menjadi lebih baik, disitulah dengan berbesar hati kita bisa memberi apresiasi kepada diri sendiri.

Selamat dhee,

Kamu telah berhasil menghadapi si patah hati.

Bukan dengan membuangnya, tapi dengan berani menerimanya.

Apapun itu, sekarang aku lebih lega.

Aku memang sakit, tapi tidak apa-apa.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade