source: https://dustn.tv/social-media-logos/

Telah Kaburnya Batas Ruang Publik dan Privat

dhea prayitno
Aug 31, 2018 · 3 min read

Akhir-akhir ini otak yang telah lama mangkrak dari fungsi aslinya untuk berpikir, akhirnya.. terpakai lagi untuk berpikir. Sedikit banyak karena pengaruh media sosial yang kian hari kian melelahkan. Banyak ditemui hal-hal yang seharusnya dikonsumsi sendiri saja malah bisa dengan mudahnya dikonsumsi khayalak ramai. Sebenarnya nggak cuman sekarang sih, kebiasaan curhat-curhat lucu di medsos sudah banyak digandrungi kawula muda dari jaman aku baru mau lulus sd.

Semuanya tergantung dari medsos yang lagi hype saat itu. Sebut saja friendster saat sd, facebook saat smp, twitter saat sma, path + instagram saat kuliah, sampai balik lagi ke twitter sekarang. Mulai dari curhat masalah cinta monyet yang unyu-unyu dengan segala kerumitan huruf bin angka nya, hingga curhat yang agak lebih berbobot kayak mengkritik pemerintahan saat ini.

Sebenarnya sama sekali nggak ada larangan untuk menulis apapun di medsos masing-masing. Cuman yang bikin mengkerut dahi adalah konten postingannya yang makin hari makin ‘curhat’. Dalam artian pengguna medsos seakan lupa dimana batas ruang privat dan publik di kehidupannya. Mungkin deep down pengguna yang bersangkutan berfikir kalau disitulah media dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu dihakimi masyarakat pada kehidupan nyata.

Tetapi yang menjadi masalah justru mereka kurang paham bahwa netizen masa kini benar-benar sedang susah diajak mikir positif. Netizen bermulut kejam bisa-bisa tanpa pikir panjang mengecap si pengguna medsos tersebut sebagai ‘alay’ atau ‘bucin’ atau ‘pansos’. (Okey mungkin selanjutnya aku bisa bahas juga mengenai labeling). Alay karena menggunakan huruf dan angka dalam postingannya, bucin karena terlalu membangga-banggakan kisah cintanya dalam postingannya, atau pansos karena ikut-ikutan posting sesuatu biar akunnya dinotice me senpai.

Walaupun kembali lagi, sebagai seorang netizen kita perlu memperbaiki tutur kata, disamping itu si pengguna medsos sedikit banyak perlu memilah-milah mana yang cucok dan tidak cucok dibagikan di medsosnya. Kenapa ini perlu? Jawabannya simpel, medsos adalah ranah publik, sedangkan nggak seluruh cerita harian kamu bisa dikonsumsi oleh publik.

Contoh nyatanya adalah ngomongin SARA. Menurut aku, sesimpel bertanya ‘apa agama kamu?’ saja kurang pantas ditanyakan di publik. Karena agama sifatnya privat. Setiap orang berhak menganut agama apapun berdasarkan keyakinannya. Untuk itu mengapa sifatnya menjadi privat di masing-masing individu. Meraih pembahasan ke arah sana lewat media sosial saja menurut aku sudah mencoba ikut campur dengan keyakinan yang dimiliki seseorang. Maka dari itu, nggak heran kalau pembahasan soal agama di medsos gabakal ada ujungnya. Karena semuanya merasa paling benar dan paling pantas diikuti. Secara otomatis pula memaksakan kehendak orang yang tidak satu keyakinan untuk menjadi yakin atas keyakinannya. Apakah itu mungkin? Tentu tidak sesimpel itu.

Contoh kedua adalah urusan rumah tangga. Entah kenapa selayaknya galau-galauan pas pacaran, seorang istri ataupun suami bisa dengan mudahnya membeberkan aib pasangan masing-masing dengan hanya berlandaskan amarah. Tujuan membagikan di medsosnya adalah untuk menarik simpati dan dukungan sebanyak-banyaknya atas kekesalan yang menimpa dirinya. Tapi tidak mempertimbangkan bahwa sebaik-baiknya istri/suami adalah yang bisa menjaga aib rumah tangganya. Kesal boleh, ngeshare jangan. Carilah solusi dari keluarga terdekat, atau minta bantuan kepada Yang Maha Kuasa. Ranahnya sama-sama privat. Tidak perlu susah payah menerima hujatan dari berbagai elemen masyarakat.

Mungkin semua curhatan itu bisa dikembalikan ke tempat semula, yaitu ranah privat. Buatlah segala hal yang selayaknya privat diselesaikan secara privat. Serta biarkan media sosial yang selayaknya publik, dijadikan media untuk hal-hal yang dapat dikonsumsi publik. Kritik pemerintah misalnya? menyuarakan perubahan mungkin? atau memberikan tips-tips yang bermanfaat sesuai dengan pekerjaan contohnya?

Suatu pelajaran yang sungguh berharga dari bermain media sosial. Nggak bisa ditampik bahwa teknologi semakin maju dan hidup semakin modern. Media sosial dan kehidupan sehari-hari nggak bisa terpisahkan lagi. Satu hal yang bisa dilakukan adalah menjadi bijak dalam menggunakannya.

Kenalilah lebih dalam yang mana yang masuk ruang publik, dan yang mana yang masuk ruang privat. Agar tak lagi kabur batas antara ruang publik dan privat di kehidupan kita.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade