Lagu The Kids Don’t Wanna Come Home: Bukan Nyuruh Kabur dari Rumah!

Dhea Sari
Dhea Sari
Jul 27, 2017 · 3 min read

The Kids Don’t Wanna Come Home (2017) | Durasi: 5 menit 16 detik | Penulis: Declan Mckenna |Track: 3| Album : What Do You Think About The Car? |Produser : James Ford

Setelah gue menggilai film Sing Street, kisah hidup seorang anak muda berusia 16 tahun berkebangsaan Irlandia dengan kecintaannya terhadap musik. Kini, gue benar-benar dibuat gila oleh seorang musisi muda berkebangsaan Inggris, bernama Declan Mckenna (ya agak ganyambung sih cuman maksudnya sama-sama cute gitu hehe)

Berawal dari memenangkan sebuah festival musik, Declan Mckenna akhirnya mengeluarkan debut album pertamanya di tahun ini. Dia emang baru berusia 18 tahun, tapi jangan salah, karya-karyanya bahkan gak bisa diremehkan sebagai hasil karya anak berusia 18 tahun. Latar belakang bagaimana dia bermusik gak perlu dipertanyakan lagi, karena Declan terlahir di keluarga yang memang mencintai musik pake banget.

Hal yang membuat Declan menjadi seseorang yang “something” banget adalah dia mampu mengemas perspektif dan perasaan yang ia miliki terhadap suatu isu ke dalam musik. Usianya terbilang masih muda untuk menghasilkan sesuatu yang ‘matang’ seperti itu. Iya tau, mungkin gue terlalu melebih-lebihkan, tapi cobain sendiri deh. Liat dia live juga kalau perlu, biar makin paham apa yang gue maksud hehe.

Lagu pertama yang gue dengar adalah The Kids Don’t Wanna Come Home. Saat itu, pas banget gue lagi ganti channel tv terus ada video clipnya. Kesan pertama gue adalah “lumayan nih musiknya, bocah ya kayaknya?” terus pas liat judulnya langsung lah terlintas pikiran meremehkan “ ah pasti lagunya tentang masa-masa labil memberontak (faktor orang tua dsb)”. Ternyata gue bener, tapi juga salah besar.

Berkat referensi dari seorang teman, gue coba lagi untuk mendengarkan lagu The Kids Don’t Wanna Come Home dengan khusyuk. Tiba-tiba gue merasakan hal yang lucu, karena gue menyadari bahwa judul lagu ini memiliki makna lebih besar dari sekedar cabut dari rumah.

“I don’t know what I want, if I completely honest

I guess I could start a war, I guess I could sleep on it”

Sumber: genius.com

Sebagai millennials, gue pernah merasakan atau gak pernah berpikir kek gini; “what happened with this world?”, “what happened with my country?”, “kenapa segala bentuk kekerasan diproduksi dan ditawarkan?”, “kok hutanya dibakar?”, “kok airnya beracun?”, “kenapa media gak henti-hentinya ngasih kita informasi yang bahkan gak penting buat kita?”, dan segala permasalah tetang kekuasaan, politik, SARA, yang gak ada abis-abisnya, yang dapat membangun sebuah kesadaran aneh di masyarakat.

Memang gak bisa dipungkiri, gue merasa mendapatkan terpaan informasi yang gak ada abis-abisnya setiap hari, setiap jam, setiap detiknya. Saking banyaknya informasi, sampai sulit membedakan mana yang benar atau salah, mana yang boleh atau gak boleh, sampai gue lupa akan hal-hal yang paling sederhana dan mendasar. Akhirnya, mungkin gue akan memilih untuk gak peduli karena hal-hal tersebut membentuk pikiran gue menjadi lebih sempit dan kurang peka dalam memandang suatu hal. Ya gimana mau peka, kalau kita aja sibuk mempermasalahkan benar dan salah. Gue menjadi jauh dari diri gue sendiri; seorang manusia, yang katanya punya hati nurani.

“New single ‘The Kids Don’t Wanna Come Home’ takes aim at the prevailing view that young people are apathetic, and instead asks the older generation what kind of world they want to leave behind.” Sumber: clashmusic

Secara gak langsung, Declan berhasil banget dalam mengekspresikan kegelisahan yang mungkin banyak dirasakan oleh generasi millenials. Lagu The Kids Don’t Wanna Come Home bukan nyuruh buat kabur dari rumah. Namun, itu adalah sebuah gambaran akan perasaan muak, bingung, kurang dihargai, dan tersesat yang gue dan mungkin millenials lainnya rasakan pada apa yang sedang terjadi di dunia saat ini. Karena dunia tempat kita hidup, adalah ‘rumah’ kita.

View all posts by dheazahara


Originally published at dheazahara.wordpress.com on July 27, 2017.

Dhea Sari

Written by

Dhea Sari

Senang meluapkan perasaanya terhadap film dan musik, serta hal-hal lain yang terkadang suka mengganggu pikiran.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade