A. (terjemahan)

Hanya melalui kematian kau akan tahu sejatinya jati dirimu.

“Looking up at the ancient columns in Salzburg.” by Inma Ibáñez on Unsplash

SAPI YANG MURUNG

A. memiliki mimpi yang terus terulang. Mimpi itu datang kepadanya hampir setiap malam tetapi begitu pagi tiba, ketika Goodman atau salah satu guru membangunkannya dan bertanya apakah dia ingat apa yang dia mimpikan, lekas dia menukas tidak. Bukan karena mimpinya menakutkan atau memalukan, hanya begitu aneh di mana dalam mimpi itu dia berdiri di puncak bukti berumput di samping sandaran papan kanvas, melukis pemandangan pastoral kehidupan pedesaan dengan cat air. Lanskap dalam mimpi itu amat memesona dan karena A. sudah masuk ke asrama sejak bayi, bukit rumput itu mungkin hanya tempat khayalan yang dia ciptakan atau memang tempat nyata yang pernah dia lihat. Mungkin lewat gambar atau film pendek yang pernah diputar di salah satu kelasnya. Satu-satunya hal yang menyebabkan mimpi itu jauh dari menyenangkan adalah seekor sapi besar dengan mata manusia yang selalu merumput tepat di samping sandaran lukisan A.. Ada sesuatu yang menyebalkan pada sapi itu: air liur yang menetes-netes dari mulutnya, muka murung yang dia tunjukkan pada A., dan bercak-bercak hitam pada punggungnya, tampak bukan sekadar bercak dan lebih mirip peta dunia. Setiap kali A. memimpikannya, hal itu membangkitkan perasaan yang sama dalam dirinya — tenang yang berubah menjadi frustrasi yang berubah wujud menjadi kemarahan yang segera beralih menjadi rasa haru. Dia tak pernah menyentuh si sapi di dalam mimpi, tidak pernah, tetapi dia sangat menginginkannya. Dia ingat dia mencari batu atau senjata lain, dia ingat dia ingin membunuh si sapi, hanya saja pada akhirnya selalu merasa kasihan. Dia tidak pernah bisa menyelesaikan lukisan yang sedang dia kerjakan di dalam mimpinya. Selalu terbangun terlalu cepat, terengah-engah dan berpeluh, tak mampu kembali tidur.

Dia tak pernah menceritakan tentang mimpi itu kepada siapa pun. Dia ingin ada satu hal saja di dunia yang cukup menjadi miliknya seorang. Dengan semua guru yang selalu mengintai di sekitarnya dan kamera-kamera yang terletak di setiap sudut sekolah, hampir mustahil untuk merahasiakan sesuatu. Sehingga padang rumput dengan sapi murung yang menatapnya menjadi hal yang paling mendekati sesuatu yang bisa dimiliki A. sebagai sebuah rahasia. Alasan lain, sama pentingnya, adalah bahwa dia tidak begitu menyukai Goodman, dan meskipun hanya hal kecil, menyembunyikan keberadaan mimpi ganjil itu adalah sebentuk aksi balas dendam yang tepat.

GOODMAN

Mengapa, dari seluruh manusia di dunia, A. membenci orang yang menolongnya lebih dari yang pernah dilakukan orang lain? Mengapa A. berharap malapetaka terjadi pada orang yang melindunginya setelah orang tua menelantarkannya, pada orang yang telah mengabdikan hidup untuk membantunya dan mereka yang menderita nasib yang sama? Jawabannya mudah: Jika ada satu hal di dunia yang lebih menjengkelkan daripada bergantung pada seseorang, itu adalah ketika orang itu terus-menerus mengingatkanmu bahwa kau bergantung padanya. Dan Goodman memang benar-benar jenis orang yang — menghina, mengendalikan dan merendahkan. Setiap kata dari mulutnya, bahasa tubuhnya, terang-terangan menunjukkan: Nasibmu ada di tanganku dan tanpa aku, kau sudah mati sejak dulu.

Anak-anak yatim di asrama berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda dan komunikasi mereka terhambat satu sama lain, hanya saja mereka berbagi satu kenyataan sama tentang riwayat hidup mereka — semua anak yang ada di sana ditelantarkan di bangsal bersalin oleh orang tua mereka, setelah para orang tua itu tahu bahwa bayi mereka yang masih merah mengidap suatu penyakit. Penyakit genetis dengan nama Latin yang panjang. Namun, mereka menyebutnya “kejompoan” karena penyakit itu menyebabkan semua bayi yang terlahir dengan “kejompoan” akan menua 10 kali lebih cepat daripada orang biasa. Penyakit itu membuat pengidapnya berkembang dan belajar lebih cepat daripada orang lain. Akibatnya, di usia 2 tahun, A. sudah menguasai matematika, sejarah dan fisika untuk tingkat sekolah menengah atas, dia memahami betul banyak gubahan musik klasik dan lukisan-lukisannya sangat hebat. Menurut Goodman, lukisan-lukisan itu bisa dipamerkan di galeri dan museum di dunia luar. Namun, bersama dengan penyakit itu, segala keuntungannya memudar karena kerugiannya. Anak-anak itu tahu bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan mencapai usia 10 tahun, mereka akan mati karena penyakit-penyakit yang terkait usia udzur — kanker, stroke, berbagai gangguan jantung — mereka tahu bahwa jam biologis mereka akan terus berdetak dengan kecepatan yang menggila hingga jantung mereka yang usang dan robek berhenti berdenyut. Bertahun-tahun sudah mereka mendengar guru-guru menceritakan kisah sedih yang sama berulang kali. Tentang masa kecil pertumbuhan mereka, kisah-kisah bernada acuh tak acuh yang sama ketika mendongengkan cerita sebelum tidur, tentang bagaimana ibu-ibu mereka mengetahui ketika momen kelahiran mereka terjadi, kematian mengenaskan pun memburu mereka. Sehingga para ibu memilih untuk meninggalkan anak-anaknya. Memangnya, apakah orang tua mau memiliki pertalian dengan bayi yang… bagai sekotak susu yang sebentar lagi kadaluarsa?

Di jamuan makan hari libur saat dia sedikit mabuk, Goodman gemar bercerita pada anak-anak bahwa dia sebagai dokter kandungan muda, pernah bertemu seorang ibu menelantarkan bayinya yang menderita kejompoan, tentang bagaimana dia mengadopsinya dan dalam waktu tiga tahun dia mengajarkan segala hal pada anak itu, segala hal yang membutuhkan lusinan tahun bagi anak lain untuk bisa menyamainya. Nada bicaranya selalu penuh emosi, Goodman menjelaskan bagaimana anak itu tumbuh di depan mata kepalanya dengan kecepatan tidak wajar, seperti melihat kilas perkembangan tumbuhan yang dipercepat dari berkecambah, tumbuh, berbunga dan layu hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Goodman di waktu yang sama berkata dengan sama cepatnya, dia punya rencana untuk menolong semua bayi-bayi terlantar itu untuk menghadapi begitu banyaknya tantangan penyakit. Asrama yang didirikan Goodman di Swiss merawat anak-anak berpenyakitan dan tidak diharapkan itu, dia juga merancang pelajaran demi mempersiapkan anak-anak sesegera mungkin untuk menghadapi dunia di mana mereka bisa menjalani hidup mereka yang amat singkat dengan mandiri. Tiap kali Goodman bercerita, dia mengakhirinya dengan airmata dan anak-anak akan bangkit berdiri, bertepuk tangan dan bersorak. A. pun berdiri dan memberikan tepuk tangan, tanpa satu suara pun keluar dari mulutnya.

Sebelum anak-anak berangkat ke dunia luar, mereka diwajibkan oleh Goodman untuk lulus ujian Ketangkasan Hidup. Satu bulan sekali, ujian itu disesuaikan dengan kurikulum khusus tiap anak, dan mereka yang mendapat nilai sempurna akan lolos untuk wawancara pribadi. Desas-desusnya, Goodman memberikan pertanyaan sukar, menyerang, menghina dan bahkan memojokkan peserta ujian. Namun, jika kau berhasil bertahan, kau bisa keluar dari asrama dilengkapi dengan kartu identitas, surat rekomendasi rincian tentang keahlianmu, 1,000 franc Swiss dan satu tiket kereta menuju kota terdekat.

NADIA

A. ingin meninggalkan asrama melebihi apa pun. Melebihi keinginan mencium seorang gadis atau mendengar komposisi musik agung yang dimainkan malaikat, atau melukis karya seni yang sempurna. Dia berhasrat besar untuk lulus ujian dan wawancara lalu menjalani sisa hidupnya yang singkat di atas bukit rerumputan, di bawah langit biru, di antara orang-orang biasa. Bukan bersama anak-anak yang cepat menua dan guru-gurunya.

A. gagal lulus 19 kali dalam ujian Ketangkasan Hidup bulanan. Selama masa itu, dia menyaksikan banyak anak-anak lain meninggalkan asrama, beberapa lebih muda darinya dan bahkan tidak memiliki setengah kepintaran atau ketekunan dari yang A. punya. Akan tetapi, dia berjanji pada N. bahwa dia akan lulus ujian bulan April depan. N. juga belajar melukis, yang artinya A. bisa bertemu dengannya setiap hari. Hanya saja bahasa ibu A. adalah bahasa Jerman sementara N. berbahasa Perancis, komunikasi di antara keduanya terbatas. Itu tidak mencegah A. memberikan hadiah kecil setiap hari pada N.: origami burung camar yang dia lipat dan lukis, bunga asli yang dia curi dari vas di ruang makan, sebuah gambar makhluk bersayap menyerupai N. yang membumbung terbang di atas pagar kawat berduri yang menjulang tinggi.

N. bersikeras memanggil A. dengan nama yang dia reka, Antoine. Dan A. memanggilnya Nadia, seperti pesenam pemurung asal Romania namun lincah dari cuplikan film hitam-putih yang dia tonton. Berdasarkan pada aturan asrama, anak-anak diberi nama lengkap dengan akte dokumen yang cocok pada hari mereka meninggalkan asrama. Sampai hari itu tiba, tentu saja sangat terlarang untuk memanggil dengan nama atau panggilan selain huruf pengenal yang diberikan di hari mereka tiba di asrama. A. tahu bahwa ketika dia dan Nadia meninggalkan asrama, mereka akan menerima nama yang berbeda, lalu seluruh dunia akan memanggil mereka dengan nama baru itu. Namun baginya, gadis itu akan selalu menjadi Nadia.

DONOR RAHASIA

Kesepakatan antara A. dan Nadia sungguh sederhana. Lebih seperti harapan daripada kesepakatan — mereka berjanji satu sama lain bahwa mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk lulus ujian dan wawancara. Begitu mereka keluar, mereka akan menjalani sisa hidup bersama-sama.

Asrama sepenuhnya didanai dengan donasi dan tiap anak memiliki donatur pribadi rahasia. Merekalah yang menentukan masa depan anak-anak; surat identitas, nama yang akan pakai nanti, kurikulum pelajaran dan tujuan tiket kereta yang akan diterima anak-anak saat meninggalkan asrama. Karena Nadia berbahasa Perancis dan A. berlidah Jerman, mereka beranggapan bahwa tiket kereta mereka nanti akan membawa mereka ke kota yang berbeda di Swiss, karenanya mereka mengatur rencana: Yang pertama tiba di stasiun kereta akan mengukir nama kota tujuan di atas bangku paling utara. Lalu ketika mereka tiba di kota tersebut, mereka akan menuju ke pintu masuk utama stasiun kereta pusat tepat jam 7 setiap pagi sampai mereka saling menemukan kembali. Akan tetapi, mereka berdua harus lulus ujian terlebih dahulu. Penderma rahasia Nadia ingin dia menjadi dokter; jelas dilihat dari kurikulum pelajaran pribadinya. Dia gagal pada pelajaran anatomi di ujian terakhirnya. Tapi kali ini, dia berjanji pada A., dia akan siap.

Masa depan yang diharapkan donor rahasia A. sedikit kurang jelas. Beserta mata pelajaran seni, kurikulum pribadi A. khusus menekankan pada keterampilan sosial dan verbal. Di antara bidang lainnya, dia belajar debat dan menulis esei kritis. Apakah donor A. ingin dia menjadi seniman terkemuka di bidangnya? Guru seni? Eseis? Mungkin. Si donatur kiranya ingin A. menumbuhkan jenggot tebal dan liar sesuai sesosok bohemian. Karena tidak seperti anak-anak lain, A. tidak pernah menerima peralatan mencukur dan sekali dia menanyakan hal ini pada Goodman, Goodman memungkasnya dengan nasehat keras bahwa A. harusnya fokus pada ujian ketimbang “membuang waktu dengan omong kosong.”

Alasan mengapa A. yakin bahwa donornya ingin dia menumbuhkan jenggot adalah karena laki-laki itu sendiri juga berjenggot. Pernah sekali A. melihat dari balik jendela gedung olahraga, Goodman sedang berbincang dengan lelaki tua yang punya jenggot putih dan panjang. A. sedang berlari memutari lapangan, bisa melihat jelas Goodman menunjuk ke arahnya dan lelaki tua menatapnya penuh makna sambil mengangguk-angguk. Apa yang menyebabkan orang itu menginvestasikan banyak uang untuk pendidikan seorang anak terlantar? Kebaikan? Kedermawanan? Keinginan untuk menebus keburukan yang pernah dia lakukan? Dan mengapa dia memilih untuk menolong seorang anak yang secara genetis sudah rusak? Katakanlah, mengapa bukan anak genius yang bisa mengembangkan bakat luar biasanya dan mampu mengedepankan umat manusia? A. bertanya-tanya apakah dia akan berbuat hal serupa untuk anak yang sakit jika dirinya sendiri sehat dan kaya. Siapa tahu? Mungkin ada semesta lain di mana A. berdiri di sisi Goodman dan menunjuk satu anak, bisa saja itu Nadia, menjelaskan perkembangan, hobi, peluang Nadia untuk lulus ujian dan hidup di dunia luar, dunia tanpa proteksi yang melingkupinya.

UJIAN BULAN APRIL

Durasi untuk ujian tulis adalah empat jam lamanya. A. menyelesaikan ujian-ujian sebelumnya di menit-menit terakhir, dua kali dia harus menyerahkan hasil tanpa menjawab seluruh pertanyaan. Namun, kali ini dia sudah meletakkan pulpennya, rampung 25 menit sebelum waktu habis. Guru penunggu ujian bertanya apakah dia mau mengumpulkan lembar jawaban, tapi A. menolak. Terlalu banyak yang dipertaruhkan. Dia bersikeras dengan susah payah membaca ulang jawaban, mengoreksi kesalahan tanda baca, menulis ulang kata-kata yang takutnya belum ditulis dengan cukup tepat. Saat waktu ujian habis, dia yakin jawaban yang dia kumpulkan sempurna. Cukup yakin, di antara tujuh peserta ujian yang mengambil ujian bulan April, hanya dia dan Nadia yang lolos menuju sesi wawancara.

Dia bertemu Nadia ketika gadis itu selesai wawancara bersama Goodman. Nadia tidak bisa memberitahukan tentang apa pun karena guru privatnya ada di sampingnya, tapi wajahnya yang bersinar mengatakan segalanya. Sekarang, yang harus dilakukan A. adalah lulus wawancara dengan Goodman dan mereka berdua akan keluar dari sekolah. Yang mana yang akan mencapai stasiun kereta lebih dulu? Yang mana yang akan mengukirkan destinasi pada bangku tunggu? Akan tetapi memangnya benar ada bangku di sana? Mendadak, A. dilanda rasa cemas. Mimpinya bukan hanya tentang meninggalkan sekolah, tetapi meninggalkannya dan hidup bersama Nadia. Bagaimana jika, dikarenakan celah remeh pada rencana, mereka kehilangan satu sama lain? Pada akhirnya, mereka sama-sama tidak akan tahu nama baru mereka nanti; jika tak satu pun dari mereka bisa meninggalkan jejak nama kota tujuan pada tempat yang sudah disepakati, mereka bisa saja tidak pernah bertemu lagi.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Goodman.

“Hidupku. Masa depan yang sedang menungguku di luar sana,” bisik A. lalu segera menambahkan dengan penuh hormat, “dan betapa aku sudah berhutang berkat yayasan, khususnya kau, aku sampai di sini.”

“Kedengarannya seolah-olah urusanmu di sini sudah selesai dan kau melambaikan sapu tangan putih padaku dari jendela kereta,” ujar Goodman, mengalihkan mukanya menjadi senyum mengerikan. “Sebagai seseorang yang pernah gagal 19 kali, itu sedikit arogan, bukan?”

“Kali ini, aku lulus,” A. menggagap. “Yakin.”

Kau yakin,” Goodman menginterupsi, “tapi aku, sayangnya, kurang yakin.”

“Kali ini, semua jawabanku benar,” A. bersikeras.

“Ah,” desis Goodman, “Aku tidak meragukan yang itu. Tapi ujian tidak dinilai hanya dari jawaban benar yang tertulis di atas kertas. Yang terungkap di balik jawaban sebenarnya adalah niat dan karakter, berkaitan dengan hal itu, aku khawatir banyak sekali yang harus kau perbaiki.”

A. berdiri, terkejut. Dia berpikir keras dengan otaknya yang memanas untuk bisa membuat Goodman berubah pikiran, tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah “Aku membencimu.”

“Tak apa,” jawab Goodman, mengangguk dan cepat-cepat menekan tombol interkom, menyuruh guru privat A. membawanya kembal ke kamarnya. “Ada baiknya kau membenciku. Itu bagian dari perkembanganmu. Aku tidak melakukan pekerjaanku supaya dicintai orang.”

“Aku membencimu,” ulang A., merasakan amukan amarah terbit dalam dirinya, “kaupikir kau orang baik, tapi kau congkak dan keji. Tiap malam sebelum aku tidur, aku menutup mata dan membayangkan terbangun di pagi hari hanya untuk mendapatimu mati.”

“Sungguh, tidak apa-apa,” ujar Goodman. “Hukuman yang kuberikan padamu, kebencianmu untukku, itu proses yang sudah seharusnya mempersiapkanmu untuk tujuan yang lebih besar. Sementara, kasih sayang atau rasa terimakasih untukku bukan bagian dari rencana.”

KABUR

Membutuhkan empat petugas sekuriti untuk memisahkan A. dari Goodman. Selepas pergelutan hebat dengan mereka, A. melepaskan diri dengan mata hitam, lebam lebar di kening dan dua jari patah di tangan kiri. Tidak hanya itu, dia juga pergi dengan kartu pengenal penjaga yang berhasil dia lucuti saat berkelahi. Menyembunyikannya di dalam saku tanpa ketahuan.

Malam ini, A. berpura-pura tidur, pukul 1 dini hari dia diam-diam turun dari ranjang. Tahu persis dengan kartu curian dia bisa keluar dari sayap gedung tempat anak-anak diasramakan. Bagian baratnya adalah koridor tamu, anak-anak dilarang masuk ke sana, sementara di sebelahnya adalah gerbang keluar. A. belum pernah melewatinya, tapi dia yakin kartu di tangannya bisa membukakan jalan keluar untuknya. Jika tidak, dia bisa memanjat, menggali di bawahnya atau kalau perlu, menembusnya — dia akan melakukan apa saja demi hengkang dari sana.

A. berderap sepanjang koridor menuju ruangan tamu, menggunakan kartu identitas, membuka pintu besi yang berat. Sayap ini tempat di mana para pendonor rahasia tinggal di setiap kunjungan rutin mereka untuk memantau perkembangan anak asuhnya. A. membayangkan ruangan itu seperti hotel mewah megah dengan aula makan malam dan kandil raksasa menggantung, tapi ternyata jauh dari perkiraannya. Koridor utamanya menyerupai koridor di gedung kantor, setiap pintunya mengarah pada satu ruangan yang persis set panggung: satu mirip bungker militer; yang lain seperti ruang kelas sekolah dasar; dan yang ketiga memiliki kolam renang dengan sebujur mayat telanjang yang mengapung di tengah-tengahnya. A., menyinari sekeliling dengan senter tua yang dia temukan di bungker, memumpun fokus cahaya pada wajah si mayat. Tampak seperti kumpulan daging dan darah yang segembur bubur, tapi cepat A. mengenalinya: Dia menceburkan diri ke air, meraup jenazah Nadia yang tak berbusana. Pemuda itu hancur lebur. Luluh lantak. Kacau balau.

Pelarian diri ini semestinya menghantarkan kehidupan yang lebih baik yang dia idamkan lebih dari segalanya, tapi sekarang gairah itu padam seketika. Tanpa Nadia di sisinya, tak ada lagi hasrat pada apa pun. A. mendengar seseorang membilas toilet dan mengangkat kepalanya. Lelaki pendek, cungkring berambut merah dalam busana mandi keluar dari ruang ganti. Dia menatap A. seketika berteriak dalam bahasa Perancis. Dalam sekejap detik, ruangan dipenuhi para penjaga. Pria berambut merah mengucapkan sesuatu dalam suara yang parau, menudingkan telunjuk pada A. dan tubuh tak bernyawa itu. Para petugas keamanan melompat ke kolam dan berusaha memisahkan A. dan Nadia, sementara sekuat tenaga A. menolak melepaskannya. Ingatan terakhirnya yang tersisa adalah aroma tajam klorin dan darah di rambut Nadia lalu… kegelapan.

MURKA DAN KEBAIKAN

A. terbangun dalam keadaan terikat di kursi. Dia berada di ruangan pertama yang ia lihat di gedung tamu, bungker militer berdebu di mana senter tua dia temukan. Goodman berdiri di sampingnya.

“Ada yang membunuh N.,” sedak suaranya berkata.

“Aku tahu,” Goodman menganggukkan kepala.

“Kurasa pelakunya pria berambut merah itu, pendek …” A. mengerang.

“Semuanya baik-baik saja,” ujar Goodman. “Dia milik lelaki itu.”

“Baik-baik saja?” A. mengaum. “Dia dibunuh oleh orang sadis sinting! Panggil polisi!”

“Supaya bisa dibunuh, pertama kau harus menjadi orang,” Goodman menggurui, “dan N. bukan orang.”

“Beraninya kau. N. orang baik, wanita yang baik.”

“N. adalah klon. Dia adalah klon dari Natalie Loreaux, istri lelaki yang memesannya — Philippe, yang kau lihat tadi.” A. membuka mulut tapi udara menolak masuk ke paru-parunya. Ruangan berputar, jika dia tidak terikat ke kursi, pasti dia terjerembap.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” Goodman meletakkan sebelah tangannya ke pundak A.. “Natalie Loreaux yang asli masih hidup, sedang tidak sabar menunggu suaminya, Philippe, pulang dari perjalanan bisnis singkat ke Swiss. Setelah Philippe menumpahkan kemarahannya pada klon Natalie, dia akan lebih menghargai kebaikan Natalie. Kau dan aku sama-sama tahu dia memang baik.”

“Tapi dia membunuhnya,” A. bersungut-sungut.

“Tidak,” koreksi Goodman. “Dia menghancurkan klon.”

“Orang!” A. berkeras.

“Dia tampak seperti orang,” Goodman meralat lagi, “mirip denganmu seperti orang.”

“Aku ini manusia,” A. menjerit, “Lahir dengan penyakit itu dan ditelantarkan oleh …”

Namun, sorot mata Goodman yang menghinadinakan menahan A. melanjutkan kalimatnya. “Apa aku juga klon?” tanya A., airmata leleh di matanya. “Apa aku dipesan seseorang yang membenciku?”

“Tidak,” jawab Goodman dengan seulas senyuman, “kau, agak rumit urusannya jika menyangkut dirimu.”

“Rumit?” A. berkemam sementara Goodman mengambil cermin dari sakunya lalu menyorongkan pada A., ke depan wajah. Terpantul dalam cermin, A. bisa melihat mata hitam dan bekas darah kering di bawah alis kirinya, janggut tebalnya sudah habis dicukur, menyisakan selrik kumis kecil di bawah hidung, rambut di kepalanya tersisir menyamping tampak aneh dan bodoh. Begitu dia menatap cermin, A. pertama kali melihat dirinya dalam balutan seragam militer berwarna cokelat. “Namamu, A. sayang, adalah Adolf,” kata Goodman, “dan pemilikmu sebentar lagi tiba di sini.”

TABULA RASA

Pria tua berjanggut melemparkan tatapan menilai pada A.. “Lebih dekat, Tuan Klein,” Goodman menyarankan. “Dia terikat, tak bisa melukaimu.”

“Harus kuakui dia benar-benar mirip,” lelaki itu berbisik dengan suara gemetar.

Tidak mirip,” ralat Goodman, “Dia memang dia. Seratus persen Adolf Hitler. Bukan sekadar tubuh, tapi juga pikiran: pengetahuan sama, tempramen sama, talenta sama. Ingin kutunjukkan sesuatu.” Goodman mengambil tablet kecil dari tas di depan pria tua. A. tidak bisa melihat layarnya, tapi bisa mendengar suaranya sendiri berteriak pada Goodman, berkata bahwa dia membenci dan berharap Goodman mati.

“Iya, ‘kan?” ujar Goodman berbangga. “Lihat gerakan tangannya? Sekarang lihat ini.” Tiba-tiba A. mendengar suaranya mengatakan sesuatu yang belum pernah dia ucapkan, berbicara lantang tentang kedigdayaan Jerman yang tak terkalahkan. Goodman menyetop rekaman. “Lihat?” ujarnya pada Tuan Klein. “Mereka benar-benar sama. Kami mengambil pikiran, tabula rasa, mencampur segalanya. Kami sudah mempersiapkannya untuk hari penting ini sejak helaan napas pertamanya.”

Goodman meraih pistol dan pisau dari tas, menawarkan kedua benda itu pada Tuan Klein. “Entah yang mana yang kausuka,” dia mengendikkan bahu. “Lakukan apa saja yang kaumau. Kutunggu di luar.”

SOLUSI AKHIR

Tuan Klein mengacungkan pistol pada A., di kening. “Sudah lama kunantikan momen ini seumur hidupku,” ujarnya.

“Tembak,” desak A., “akhiri ini. Sama-sama menguntungkan untuk kita berdua.”

“Bukan begini,” murka lelaki tua itu. Bingung. Tangannya mulai goyah. “Harusnya tanyakan padaku kenapa aku membencimu, semestinya kau menangis, mengemis ampunanku dan setelah itu … Kau Hitler setan licik, di sisa terakhir hidupmu, mau mengibuli.”

“Aku Antoine,” A. berbisik dan memejamkan matanya. Membayangkan Nadia bersamanya di puncak bukit rumput, berdiri di depan sandaran kanvas, melukis matahari terbenam. Ceklikan logam pistol terkokang, terdengar di kejauhan.

Photo by Florian Pérennès on Unsplash

(Diterjemahkan secara lepas dari bahasa Inggris dalam majalah Wired edisi Science Fiction, Januari 2017. Terjemahan Inggris dari Ibrani oleh Sondra Silverston). Bisa dibaca daring di sini.

Like what you read? Give Dheril Sofia a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.