Cangkir Menstruasi, Kompleksitas Wacana Reproduksi dan ‘Ketubuhan’ Perempuan

Terlepas dari kenyataan bahwa menstruasi merupakan sebuah fenomena biologis yang sejatinya sama lumrahnya dengan metabolisme tubuh dan ekskresi, hal ini telah menjadi isu yang memiliki kompleksitas tersendiri. Kebanyakan agama besar memandang menstruasi sebagai suatu permasalahan, belum lagi sistem patriarki yang tidak bisa dinafikan pengaruhnya terhadap kebudayaan, pola pikir masyarakat maupun individu, dan interaksi sosial. Pada saat yang sama, pembahasan terkait tubuh, seksualitas dan reproduksi perempuan seringkali juga disetir atau dipengaruhi oleh sistem tersebut, yang terkadang terinternalisasi pada diri individu, bahkan perempuan sekali pun.

Dalam sejarahnya, melalui pendidikan agama dan moralitas, perempuan telah diajarkan -bahkan terkadang dipaksa- untuk tidak mencintai tubuhnya sendiri dan fenomena biologis yang mereka alami. Menstruasi dipandang sebagai suatu hal yang menyebabkan seorang perempuan dianggap “kotor” baik secara fisik, spiritual¹ maupun sosial². Pendidikan tentang seksualitas dan reproduksi perempuan -baik oleh orang tua atau institusi pendidikan- pun hampir tidak ada yang menuntun perempuan untuk mencintai dan “mengeksplorasi” tubuh mereka³. Dunia industri harus diakui berhasil memanfaatkan cara pandang tersebut dengan membentuk “mitos kepahlawanan” tentang produk mereka, yakni pembalut sekali pakai.


Mengapa Cangkir Menstruasi?

Media-media periklanan yang digunakan oleh para produsen pembalut sekali pakai untuk mempromosikan produk mereka selalu menjanjikan sejumlah inovasi yang dapat mencegah kebocoran. Ya, karena darah menstruasi adalah hal yang kotor dan tidak pantas untuk dilihat oleh orang lain, dan menstruasi adalah suatu hal yang tidak ingin diketahui oleh banyak orang, apalagi laki-laki. Paling tidak itulah yang selalu diajarkan kepada sebagian besar perempuan sejak memasuki usia reproduksi. Padahal pada kenyataannya, hampir semua perempuan pernah mengalami kebocoran saat menstruasi paling tidak sekali dalam hidupnya. Namun produsen pembalut sekali pakai tetap berhasil memenangkan hati perempuan dan masyarakat secara umum.

Iklan dan produk pembalut sekali pakai tersebut -seringkali tidak disadari- juga tidak mencantumkan efek samping yang dapat dialami oleh penggunanya. Begitu pun isu lingkungan yang disebabkan oleh sampah dari pembuangan produk pembalut sekali pakai. Pembalut sekali pakai dibuat dengan sejumlah bahan yang tidak mudah hancur melalui proses biodegradasi dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa didaur ulang, seperti plastik dan bubuk polimer.

Sementara itu, produksi komersial pembalut sekali pakai sudah dimulai sejak 1888 di Inggris dengan merek Southall dan Amerika Serikat dengan merek Lister’s Towel yang diproduksi oleh Johnson & Johnson. Dengan persentase populasi perempuan 49.55% secara global dan 131,88 juta dari 265 juta penduduk Indonesia adalah perempuan, tanpa perhitungan rumus matematika pun kita bisa membayangkan sampah yang telah dihasilkan karena penggunaan pembalut sekali pakai. Sekali lagi hal ini diperparah dengan kurangnya informasi dan edukasi terkait pengolahan sampah tersebut. Terkait dengan hal tersebut, cangkir menstruasi (menstrual cup) dapat menjadi sebuah solusi atas isu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pemakaian dan pembuangan pembalut sekali pakai.

Keputusan untuk mengganti produk kewanitaan bagi beberapa orang bukanlah hal yang mudah. Sekali lagi hal ini disebabkan karena sebagian besar dari kita telah terpapar dengan konstruksi “kepahlawanan” pembalut sekali pakai. Ditambah lagi dengan pembahasan yang telah saya sampaikan pada awal tulisan ini yang berkaitan dengan bagaimana perempuan mencintai dan memahami tubuhnya dengan segala fenomenanya.

Walaupun cangkir menstruasi baru mendapatkan perhatian publik di Indonesia sejak sekitar tahun 2010, sebenarnya produk ini telah dipatenkan bentuk dan fungsinya sejak 1932 oleh McGlasson and Perkins. Dalam perkembangannya, cangkir menstruasi terus berevolusi untuk mendapatkan bahan dan bentuk yang sesuai dengan tujuan pembuatannya, dan tentu saja dengan mempertimbangkan beberapa isu yang berhubungan dengan tubuh dan organ reproduksi perempuan. Di samping itu, sejumlah penelitian juga terus dilakukan untuk mengetahui keunggulan dan juga efek samping cangkir menstruasi dibandingkan produk kesehatan yang lebih populer seperti pembalut kain (yang harus dicuci setelah dipakai), pembalut sekali pakai, dan tampon.

Sejauh ini, cangkir menstruasi telah dibuktikan lebih aman dibandingkan beberapa produk yang lain⁴. Cangkir menstruasi tidak mengandung bahan-bahan kimia seperti pemutih, gel, lateks dan lain-lain yang terdapat dalam pembalut sekali pakai dan tampon. Cangkir menstruasi akan menampung dan mencegah aliran darah dari uterus untuk keluar dari vagina. Sistem kerja tersebut mengurangi resiko tumbuhnya jamur pada organ vital yang disebabkan oleh paparan selama beberapa jam (setiap bulan) dengan benda yang menyerap dan menyimpan darah menstruasi. Selain itu, penggunaan cangkir menstruasi dapat menjaga keseimbangan tingkat pH organ reproduksi dibandingkan pembalut dan tampon. Hal ini karena cangkir menstruasi hanya menampung darah di vagina, dan tidak menyerapnya seperti pembalut dan tampon.

Di samping itu, cangkir menstruasi dapat digunakan berkali-kali selama beberapa tahun dengan penanganan khusus⁵ yang bertujuan untuk menjaga sterilitasnya. Beberapa manufaktur menyarankan penggunaan cangkir menstruasi maksimal selama 10 tahun. Oleh karena itu, cangkir menstruasi jelas dapat mengurangi isu pencemaran yang sebelumnya disebabkan oleh pembuangan pembalut sekali pakai dan tampon. Dan tentu saja, kita bisa menghemat pengeluaran bulanan yang biasanya kita gunakan untuk membeli pembalut sekali pakai.

Terlepas dari keunggulan tersebut, pemakaian cangkir menstruasi bagi beberapa perempuan bukanlah hal yang mudah. Berbeda dengan pembalut yang digunakan di daerah luar organ reproduksi, cangkir menstruasi harus dimasukkan ke dalam vagina. Maka pada pembahasan inilah kita akan kembali pada poin yang saya sebutkan di judul dan di permulaan tulisan ini, yakni terkait wacana “ketubuhan” perempuan, terutama di Indonesia.

Disadari atau tidak dan mau tidak mau pula, kita harus mengakui bahwa mitos keperawanan masih menjadi salah satu isu besar dalam wacana ketubuhan perempuan. Terlepas semakin meningkatnya kesadaran tentang betapa ganas dan latennya sistem patriarki menyusup dalam kehidupan dan interaksi sehari-hari, menjadi “perawan” masih dianggap sebagai sebuah kondisi yang ideal dan sepatutnya dimiliki oleh perempuan yang belum menikah. Mitos tersebut bertahan dengan langgengnya bersamaan dengan tabu yang melingkupi salah satu aktivitas seksual, yakni masturbasi. Menggelikan untuk menyadari laki-laki bisa begitu terbuka membahas aktivitas seksual mereka, mulai menonton film porno sampai coli. Sementara itu, tidak banyak perempuan yang terbuka dengan aktivitas seksual mereka dikarenakan adanya ketakutan tersendiri dengan label atau cap yang terbentuk secara sosial karena berjayanya sistem patriarki.

Mitos keperawanan dan ketakutan atas label tersebut selanjutnya berimbas pada pengambilan keputusan untuk menghentikan pemakaian pembalut dan beralih ke cangkir menstruasi. Memasukkan “benda asing” ke dalam vagina sama tabunya dengan masturbasi bagi perempuan; bahkan dapat dikatakan lebih kompleks, karena dibayang-bayangi dengan ketakutan “tidak perawan lagi”. Padahal penggunaan cangkir menstruasi secara teknis tidak akan menyentuh, apalagi merobek, selaput dara. Di samping itu, sejumlah penelitian⁶ telah membuktikan utuh tidaknya selaput dara tidak bisa menjadi bukti seorang perempuan pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya atau tidak. Selaput dara bisa robek karena trauma, bahkan beberapa perempuan lahir tanpa selaput dara, sehingga keperawanan tidak bisa dibuktikan dengan darah yang keluar karena robeknya selaput dara saat pertama kali berhubungan seksual.

Oleh karena itu, keputusan untuk beralih dan menggunakan cangkir menstruasi sebenarnya membutuhkan dialog dengan diri kita masing-masing sebagai perempuan. Sebanyak apapun ulasan yang telah ditulis terkait penggunaan cangkir menstruasi tidak akan membantu selama kita tidak menyadari kompleksitas yang mengelilingi kehidupan kita sebagai perempuan, baik secara individu maupun secara sosial dan budaya. Selanjutnya, saya akan membagi pengalaman memilih dan menggunakan cangkir menstruasi, sekali lagi tanpa bayang-bayang mitos dan tabu.


Bagaimana Memilih dan Menggunakan Cangkir Menstruasi?

Hal pertama yang perlu disadari dan dimiliki oleh perempuan yang ingin beralih ke cangkir menstruasi adalah pengetahuan atas keadaan fisik dan kesiapan mental. Masing-masing perempuan agaknya memiliki kondisi sistem dan organ reproduksi yang berbeda-beda, misalnya bentuk fisiologis vagina. Oleh karena itu, perempuan perlu melakukan observasi atas tubuhnya sendiri untuk bisa memahami keadaan fisiknya sebelum mengambil keputusan.

Cangkir menstruasi yang bisa diperoleh di pasaran secara umum tersedia dalam dua ukuran, yakni A dan B. Ukuran A disarankan bagi perempuan yang belum pernah melahirkan secara vaginal (vaginal birth), terlepas sudah aktif secara seksual atau belum. Sementara ukuran B dengan diameter yang lebih besar disarankan bagi perempuan yang telah menjalani persalinan secara vaginal. Hal ini dikarenakan ukuran vagina perempuan yang telah melahirkan secara vaginal dipercaya lebih lebar dibandingkan perempuan yang belum mengalaminya. Walaupun begitu, sekali lagi, pemahaman individu atas keadaan organ reproduksinya sangatlah penting⁷. Saya pun memutuskan untuk membeli cangkir menstruasi ukuran A karena belum pernah melakukan persalinan secara vaginal, tanpa melakukan konsultasi dengan ginekologis sebelumnya.

Pemahaman atas keadaan dan bentuk tubuh dan juga organ reproduksi menurut saya berpengaruh besar pada kesiapan seseorang untuk mulai menggunakan cangkir menstruasi. Beberapa orang mungkin akan memerlukan waktu untuk mempertimbangkan apakah mereka siap untuk memasukkan benda “asing” ke dalam vagina mereka. Kondisi mental agaknya memang sangat memengaruhi hal ini, sama halnya dengan kesiapan seseorang untuk melakukan hubungan seksual. Terkait dengan hal ini, jika kita telah memahami “keperawanan” bukanlah harga mati, dan juga kondisi organ reproduksi kita dengan baik, memasukkan cangkir menstruasi ke dalam vagina tidak akan menjadi sebuah masalah yang besar.

Setelah merasa siap untuk beralih ke cangkir menstruasi, saatnya memilih produk yang tepat. Di Indonesia, toko daring telah menyediakan bermacam merek yang bisa kita pilih. Saya mendapatkan rekomendasi dari seorang kawan untuk membeli produk OrganiCup Size A yang dijual oleh toko Ekko Store dan bisa didapatkan melalui transaksi daring di situs Tokopedia. Toko tersebut juga menyediakan produk cangkir menstruasi ukuran B dan juga OrganiWash, yakni sabun khusus untuk membersihkan cangkir menstruasi setelah dipakai dan sebelum penggunaan ulang. Rekomendasi dari kawan ditambah dengan ulasan konsumen yang baik menguatkan pilihan saya untuk membeli produk tersebut.

Produk OrganiCup dan OrganiWash dari Toko Ekko

Selanjutnya, silikon adalah bahan utama yang digunakan untuk cangkir menstruasi, sehingga memungkinkan untuk dilipat agar dapat dimasukkan ke dalam vagina. Dan begitu masuk dengan sempurna, cangkir menstruasi akan kembali ke bentuk asalnya di dalam tubuh untuk menahan dan menampung aliran darah. Cangkir menstruasi juga dilengkapi dengan batang yang memudahkan penggunanya untuk melepas cangkir dan membuang darah yang tertampung.

Cara melipat cangkir menstruasi sebelum dimasukkan ke dalam vagina

Gambar di atas adalah teknik yang saya gunakan untuk melipat cangkir menstruasi dan memasukkannya ke dalam vagina. Teknik tersebut bisa saja berbeda bagi pengguna yang lain, sekali lagi tergantung pada pemahaman individu terhadap bentuk fisiologis organ reproduksi masing-masing.

Secara umum, cangkir menstruasi sebenarnya jauh lebih nyaman untuk digunakan daripada pembalut sekali pakai. Tidak ada rasa sakit, mengganjal, atau hal-hal mengganggu lain. Selain itu, cangkir menstruasi sesuai untuk dipakai saat harus melakukan banyak aktivitas saat siklus menstruasi. Dengan beralih ke cangkir menstruasi, tidak perlu lagi membawa persediaan pembalut, kertas pembungkus, dan plastik yang biasanya digunakan untuk membuang sampah pembalut sekali pakai.


Yang Perlu Diperhatikan dalam Memakai Cangkir Menstruasi

Seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, bocor saat siklus menstruasi merupakan salah satu hal yang sangat sering dialami oleh perempuan. Penggunaan cangkir menstruasi tidak bisa menjamin seratus persen hal tersebut, karena ada kemungkinan untuk bergeser. Hal ini sebenarnya sama saja dengan penggunaan pembalut yang terkadang bergeser saat kita melakukan aktivitas atau tidak dipasang dalam posisi yang tepat. Dibutuhkan waktu dan “jam terbang” untuk bisa menemukan posisi yang tepat agar cangkir menstruasi bisa berfungsi dengan sempurna.

Serupa juga dengan keharusan untuk mengganti pembalut sesuai dengan kebutuhan, cangkir menstruasi juga perlu dilepas setelah digunakan selama beberapa waktu. Terkait dengan hal ini, volume menstruasi masing-masing perempuan pun tidak sama satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pemahaman terhadap volume menstruasi per hari juga dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam memakai cangkir menstruasi.

Selanjutnya, sanitasi yang bersih -terutama di tempat umum- dibutuhkan dalam pemakaian cangkir menstruasi, seperti air mengalir. Sementara itu pada kenyataannya, banyak toilet umum atau beberapa tempat di Indonesia yang tidak memiliki kualitas sanitasi cukup baik. Untuk menanggulangi hal ini, disarankan untuk membawa tisu basah (tanpa pewangi dan alkohol) selama menggunakan cangkir menstruasi, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Selain itu, sabun pembersih cangkir menstruasi juga sangat disarankan untuk selalu dibawa.

Cangkir Menstruasi, Ya atau Tidak?

Ya! Berikut beberapa alasannya:

  1. Cangkir menstruasi telah terbukti dapat mengurangi permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh sampah pembalut sekali pakai.
  2. Cangkir menstruasi mengurangi resiko vagina dan alat reproduksi lain terpapar dengan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam pembalut sekali pakai.
  3. Cangkir menstruasi dapat digunakan selama paling maksimal 10 tahun, sehingga dapat mengurangi uang yang sebelumnya kita pakai untuk membeli pembalut sekali pakai setiap bulan.
  4. Cangkir menstruasi dapat membantu perempuan semakin memahami tubuhnya (volume menstruasi, bentuk fisiologis vagina)

Catatan:

¹ Beberapa agama memiliki aturan yang membatasi perempuan yang sedang dalam siklus menstruasi untuk melakukan upacara peribadatan. Wacana ‘kesucian’ menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak diuntungkan dan seringkali menjadi korban politik dogma atau ajaran agama.
² Sejumlah komunitas masyarakat (terutama yang masih memegang teguh adat tradisional) memiliki aturan tertulis atau tidak tertulis tentang praktik segregasi bagi perempuan yang sedang dalam siklus menstruasi. Misalnya dengan menempatkan mereka di rumah terpisah atau tidak memberikan izin bagi mereka untuk berpartisipasi dalam upacara adat.
³ Masturbasi merupakan salah satu aktivitas seksual yang disarankan secara saintifik bagi perempuan untuk mengenali dan memahami tubuhnya sendiri, namun secara umum masih tidak bisa diterima oleh masyarakat.
⁴ Dengan pemakaian dan perawatan yang sesuai. Waktu yang direkomendasikan untuk memakai cangkir menstruasi -tanpa melepasnya dan membuang darah yang ditampung- adalah maksimal 12 jam per hari. Dua kasus TSS (Toxic Shock Syndrome) telah dilaporkan karena penggunaan cangkir menstruasi selama 7 hari tidak dilepas.
⁵ Penggunaan sabun khusus yang digunakan untuk membersihkan cangkir menstruasi setiap setelah pemakaian dan juga sebelum pemakaian kembali; serta merendamnya dalam air mendidih setelah siklus menstruasi berakhir untuk penyimpanan dan pemakaian pada siklus menstruasi sebelumnya.
⁶ Baca Rogers, Deborah J., Stark, Margaret (1998); Emma Curtis, Camille San Lazaro (1999).
⁷ Memeriksakan diri ke ginekologis mungkin akan dibutuhkan bagi beberapa orang untuk memastikan kondisi organ reproduksi sebelum memutuskan menggunakan cangkir menstruasi.