Makna dibalik sebuah percakapan
Sebagai seorang manusia, tentu saja saya dihadapkan dengan kenyataan bahwa saya tidak bisa hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri, setidaknya paling sedikit ada campur tangan dengan Tuhan-Nya; bertambah dengan izin orang tua; menjadi banyak dengan campur tangan kawan. Tapi, tentulah berbeda hubungan habluminallah dengan habluminannas. Tak ayal, kedua hubungan ini sama-sama melibatkan sebuah hal yang bernama komunikasi.
Komunikasi menjadi penting disaat ada suatu maksud yang akan disampaikan. Komunikasi terjadi dari bentuk terkecil mulai dari makhluk hidup (bahkan penyusunnya) sampai dalam taraf tertinggi -hubungan antar sang pencipta dengan seorang hamba. Suatu maksud tidak akan tersampaikan apabila dalam proses komunikasi itu sendiri mengalami hambatan. Sebagai contoh, saraf di tubuh kita pun memiliki bentuk komunikasi antar sesamanya dalam bentuk pengiriman sinyal listrik dengan muatan berbeda antar saraf. Apabila terdapat error saat pengiriman sinyal, seorang manusia dapat mengalami gangguan yang mengakibatkan penyakit. Atau dalam konteks manusia, dua orang yang berselisih terus saling melemparkan pendapat masing-masing dan merasa paling benar hingga titik tengah menjadi kabur. Hal ini tentu dapat merugikan banyak pihak.
Disinilah titik penting berkomunikasi. Komunikasi sangat diperlukan untuk meraih titik kesepahaman yang seragam. Atau mungkin dalam taraf meminta dan memohon. Lebih baik lagi apabila permohonan ini disampaikan kepada Tuhan, bukan kepada sesama manusia sambil saling menjilat.
Habluminallah adalah suatu komunikasi yang melibatkan antara sang pencipta (penulis adalah seorang muslim, tentu saja maksudnya hubungan antar manusia-Allah SWT) dengan seorang insan dalam bentuk apapun. Bisa dalam bentuk pujian, bisa dalam bentuk do’a, bisa dalam bentuk pengharapan, atau bahkan dalam bentuk keluhan. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat dahsyat menurut saya pribadi, karena tanpa seizinnya, melalui bentuk komunikasi seperti do’a-tangis-harap, seseorang tidak akan bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik -atau bahkan lebih buruk- apabila dibandingkan dengan katakanlah lima tahun silam. Tetapi, Tuhan memang akan selalu mendengarkan dan bentuk jawaban atas hasil komunikasi tersebut akan diberikan pada bentuk dan waktu yang saaaaangaaat tepat.
Terakhir dari saya, belajar berkomunikasi akan menjadi suatu wahana yang sangat bermanfaat dan tentu mendebarkan karena implementasi dari pembelajaran komunikasi dapat langsung diterapkan. Intan terbentuk dari hasil tekanan tinggi, begitu pula manusia. Manusia diharapkan dapat memiliki mental yang kuat apabila mendapat bentuk komunikasi yang benar pula. Terakhir, komunikasi yang tepat pun akan membuat si dia menjadi lebih dekat, bukannya berakhir dengan tamparan di pipi kanan. Semoga dengan komunikasi yang baik dan benar, apa yang kita harapkan bisa terwujud di masa depan. Aamiin.
Bandung, 27 Agustus 2017
masih belum bisa upload tugas, maaf kalau esai ini banyak yang tidak nyambung.
