Mencintai Tuhan;

Dhia Shofi S
Aug 24, 2017 · 2 min read

Saya pernah mencintai seseorang yang berbeda agama dengan saya. Saya bertemu dengan seseorang ini di suatu ruang ekspresi. Awalnya biasa saja, saya tidak terlalu mengenal orang ini mengingat dia dua angkatan dibawah saya. Sampai suatu saat Tuhan YME mendekatkan diri saya dengan dia. Sejak saat itu, setiap gerak gerik yang dia lakukan, saya selalu perhatikan. Geli memang, tapi apa daya. Cinta memang buta.

Sampai pada akhirnya, saya merindukan alunan suara Al-Afasy saat membacakan surah Al-Mulk. Tetap saja saya indahkan apa yang hati saya sudah peringatkan. Saya mencari pelarian kepada lagu-lagu cinta andalan saya di playlist youtube. Tetap saja, tidak ada jawaban atas kegundahan saya. Hati saya terasa sakit, dan sedikit kosong.

Suatu saat, saya iseng membuka timeline Line disela keseharian saya. Tiba-tiba, ada suatu bagian artikel yang saya ingat sekali:

Jikalau hatimu terasa sangat menginginkan seseorang, ingatlah bahwa Allah SWT akan menimpakan kekosongan dalam hatimu. Agar kau tahu bahwa Allah SWT juga rindu padamu. Dia cemburu padamu. Agar kau sadar bahwa mengejar seseorang yang tidak pasti pun akan berujung pada sakitnya hati. Dia cemburu padamu. Agar kau sadar bahwa Allah SWT pun masih mencintaimu, ingin diingat olehmu di tiap gerak gerik yang kau lakukan, pada tiap nafas yang kau hirup, pada tiap zikir dan do’a yang kau panjatkan. Dia cemburu padamu yang hanya mengingat ciptaan-Nya yang bahkan suatu saat nanti -dengan seizinnya- tidak akan berjalan sesuai yang kau mau. Berpalinglah pada Allah SWT. Dia cemburu padamu.

JLEBB!! Potongan artikel ini tepat menusuk di hati saya. Saya berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku, tolonglah aku agar selalu ditetapkan pada Agama-Mu, agar tidak mudah berpaling dari apa yang sudah kau beri, agar tidak mudah dibujuk setan laknat”. Saya tepekur. Kegelisahan memuncak dalam dada saya. Segera saya raih headset dan memutar video Al-afasy, yang mana saja. Semoga badai ujian ini mereda.

)

Dhia Shofi S

Written by

masih mencari cara untuk melarikan diri dari kesenangan duniawi; sedang berjuang untuk keluar dari jerat kebodohan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade