Teknik Ko-munika-si Ilmiah; harapan yang tersimpan.

Dhia Shofi S
Aug 27, 2017 · 2 min read

Memang saya belum terlalu banyak bercerita dalam wadah ini. Saya memutuskan untuk berpindah hati -awalnya tumblr, lalu ikutan pindah kesini agar lebih mudah membaca tulisan kawan-kawan (yang ternyata banyak yang jenius dan perspektif menulisnya sangat luas; saya senang) dari berbagai pihak dan berbagai bahasa. Sejujurnya, saya sendiri baru ingat saya ditugaskan untuk menulis harapan dan apa-itu-komunikasi oleh dosen saya, ditengah ke-chaos-an dimana saya lupa password blendedlearning saya. Website NIC pun tak bisa dibuka. Ah, alangkah menarik memang hidup ini.

Sekarang, saya sudah memulai semester 7, dimana saya dihadapkan pada kenyataan hidup. Sudah dipaksa memulai Tugas Akhir (tentu saja ternyata saya belum sesiap itu), tahun depan ayah saya sudah pensiun (yang memaksa saya untuk lebih cepat menyelesaikan tugas akhir karena masalah dana), dan tentu saja pertanyaan “apakah yang akan saya lakukan sekarang?”.

Kemungkinan besar, saya akan menjadi peneliti disamping keinginan saya untuk menjadi penjual pelet burung/ikan (agar pengerjaan Tugas Akhir saya tidak sia-sia). Tentu saja, hal ini berhubungan dengan berkomunikasi. Menjadi penjual barang/jasa tidak bisa diam saja, bukan? Bisa-bisa, pelanggan saya lari. Apalagi menjadi peneliti, bagaimana bisa saya menyebarkan hasil penelitian saya kalau saya sendiri tidak bisa berkomunikasi?! Apa pula lah yang sudah saya kerjakan selama +- 4 tahun di kampus. Sudah nilai jelek, berkomunikasi pun tak bisa? Waduh.

Tentu saja dalam konteks ilmiah, cara penyampaian apa yang ada di kepala kita kepada orang lain agar mereka mengerti adalah suatu hal yang berbeda dengan penyampaian informasi biasa. Kita tidak akan bisa menjelaskan bentuk ke-ilmiah-an yang kita kuasai secara gamblang kepada orang awam karena mereka tidak akan mengerti. Bagaimana mau mengerti, melihat poster hasil TA yang sering terpajang di lorong lantai 2/3 Labtek XI SITH tiap mendekati kelulusan pun saya sering malas (padahal satu jurusan dengan kakak-kakak), apalagi kepada orang awam. Orang isi satu poster itu hanya tulisan saja. Gambarnya? Paling hanya grafik anu-sayatan organ ini-paling banter logo SITH/ITB. Maka dari itu, tantangannya adalah bagaimana orang mau tertarik membaca hasil karya kita, setidaknya agar mereka tertarik untuk sekedar berhenti dan membaca hasil karya kita diselingi dengan ooh di akhir.

Dengan tulisan ini, saya berharap sesudah saya mengambil mata kuliah ini, setidaknya saya makin mahir menulis, makin mahir pula bersilat lidah untuk mengarang rangkaian kata demi kata untuk memenuhi jumlah minimal sebuah tulisan, juga agar saya dapat membuat sebuah karya yang tentu saja bermakna dan berfaedah. Juga saya harap, saya makin mengerti kaidah kepenulisan dan dapat melakukan proofreading sendiri sebelum hasil yang dikerjakan diserahkan. Terakhir, saya berharap agar nantinya hasil karya ilmiah saya diterima oleh banyak orang dengan banyak feedback pula, agar saya makin berkembang.

Bandung, 27 Agustus 2017

)
Dhia Shofi S

Written by

masih mencari cara untuk melarikan diri dari kesenangan duniawi; sedang berjuang untuk keluar dari jerat kebodohan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade