Perlombaan Yang Tidak Pernah ku Mulai

Disini disebuah ruangan segi empat aku meratapi sebuah perlombaaan. Aku yang kalah tanpa tahu kapan harus memulai.

~

Ini mungkin akan menjadi suatu kekalahan paling memalukan yang pernah aku alami. Sejenak aku terhentak dan tersorak akan melihat suatu perlombaan yang kurang menarik perhatianku. Saat itu tepat jam lima sore di hari kamis sebuah lorong yang akhirnya mempertemukan aku dengan sebuah perlombaan yang bahkan aku tidak mengira bahwa itu sebuah perlombaan.

Di sebuah lorong aku masih terduduk terdiam meratapi nasib malang. Aku memang dilahirkan dari jiwa-jiwa yang malang dan dibesarkan dengan kepasrahan. Hingga akhirnya aku sadar hidup ku akan menjadi berarti jika aku memenangkan perlombaan ini dengan hadiah mendapatkan kamu.

Tapi sayangnya walaupun hadiahnya mendapatkan kamu akan tetapi perlombaannya belum dimulai. Saat itu lah aku sadar bahwa aku harus merancang strategi untuk mengatasi halang rintang ini. Segala resiko sudah siap aku hadapi segala beban sudah siap aku lalui. Tapi aku sadar bahwa aku membutuhkan beberapa penyemangat ketika bertanding. Saat itu lah aku bertemu dengan beberapa orang yang pada waktu itu ~beberapa diantarannya sekarang sudah tidak~ dapat aku percayai. Dengan kepercayaan itu pula aku menjelaskan tentang perlombaan dan juga taktik ku yang ternyata salah satu diantaranya mempunyai perlombaan dengan hadiah yang sama. Singkat kata disitulah perjuangan kami dimulai!

Seiring hari berlalu pertandingan dia pun dimulai sementara aku masih menunggu dengan sabar kapan pertandingan ku akan dimulai. Dan tak butuh waktu lama dia memenangkannya.

Sontak sebagai teman seperjuangan aku senang dan semakin percaya dengan dia. Sampai akhirnya sebuah insiden yang biasa disebut sebagai pengkhianatan itu terjadi. Tanpa ku sadari ternyata dia mendukung salah seorang rival ku yang ternyata sudah hampir memenangkan perlombaan itu.

sakit~

sakit~

sakit yang teramat sakit~

Ternyata kamu juga sudah mengetahui rivalku. Dan kamu sama halnya seperti dia.

~

Sekali lagi aku nyatakan aku kalah dalam perlombaan, yang bahkan aku tidak tahu kapan itu dimulai. Perlombaan untuk mendapatkan hati kamu yang ternyata hampir di menangkan oleh orang lain.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated dhimas aditya prasetyo’s story.