Selepas Shalat Malam

Layaknya petir di siang hari yang cerah. Seperti ada badai yang datang menerjang jiwa ini setiap kau mengucap namanya di hadap ku.

Kau yang dulu mengingkari janji dengan jari ini entah mengapa selalu mendapat percaya dari ku. Setiap senyum yang selalu ku rindu, berbalas rindumu untuk dirinya.

Mengapa pujangga selalu membuat puisi untuk sesuatu yang abstrak? Mungkin sesuatu yang abstrak itulah kelak menjadi jelas. Jelas.

Jelas sekali sinar matamu itu bukan untuk aku. Jelas sekali seluruh usaha ku ini hanya untukmu. Malangnya kau tak pernah menyadari itu.

Tak perlu kau tanya seberapa tabah daun menunggu embun jatuh. Tak perlu kau tanya seberapa tabah aku menunggumu yang selalu menunggunya. Tak perlu kau tanya seberapa kuat cintaku untukmu.

Mana yang lebih kuat?

Doa di sujud terakhir dan sajadahku atau handphonemu dan harapan untuknya?

Yogyakarta, 7 juni 2016

Oleh seorang pria yang merencanakan masa depannya bersamamu

Like what you read? Give dhimas aditya prasetyo a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.