Kekerasan Verbal

Beberapa hari yang lalu saya bermimpi tentang Ayah saya. Di dalam mimpi saya, saya dan Ayah saya duduk berdampingan di kursi warna biru tua yang tak pernah diganti sejak saya kecil di teras rumah, kita berbincang begitu hangat. Ayah saya mengatakan bahwa beliau akan mengunjungi saya ke Salatiga.

Kata orang, ketika kita memimpikan seseorang, mungkin itu pertanda kita sedang merindukan orang tersebut. Saya juga pernah membaca artikel disuatu website, bahwa mimpi adalah kondisi ketika otak sedang menyortir memori dan kejadian-kejadian yang ada di dalam otak kita.

Saya justru bangun dari tidur dengan kebingungan tersendiri. Apakah saya merindukan Ayah saya ? Tidak sama sekali. Apakah saya pernah berbincang begitu hangat dan dekat dengan Ayah saya ? Saya tidak tahu dan saya tidak ingat. Mungkin tidak pernah sama sekali. Biasanya, Ayah saya datang ke dalam mimpi saya dengan amarah dan teriakannya, seperti yang dulu ia lakukan kepada saya.

Ayah saya sering sekali meluapkan amarahnya pada saya. Mengatakan kata-kata kotor, segala frustrasinya diarahkan ke saya. Sejak saya kecil, nada-nada frustasi Ayah sudah tidak asing lagi di telinga saya. Mengatakan bahwa saya tidak becus, tidak cukup ini itu, dan masih banyak lagi. Setelah saya dewasa, saya baru menyadari apa yang dilakukan Ayah saya adalah kekerasan verbal. Kekerasan memiliki berbagai macam bentuk, bisa dilihat disini

Kekerasan verbal mungkin terlihat sepele jika dibandingkan dengan kekerasan fisik. Tapi sebenarnya tidak. Kekerasan verbal mempengaruhi psikologi seseorang dan meninggalkan trauma. Apalagi hal tersebut dilakukan oleh orang tua. Saya pribadipun mengalami trauma yang luar biasa. Kadang ketika saya bersama Ayah saya, bayangan Ayah memaki saya muncul di pikiran. Saya pernah berpikir untuk melakukan bunuh diri karena secara emosional sangat menyiksa sekali, tapi saya masih bertahan sampai saat ini, pikiran tersebut sudah saya buang jauh-jauh.

Saya sempat membenci Ayah saya. Saya benci karena ia meninggalkan luka emosional pada saya. Tapi sekarang saya melepaskan itu semua. Saya memaafkan diri saya sendiri dan saya masih berjuang untuk memaafkan orang tua saya. Bukan karena orang tua saya, tapi demi saya sendiri. Saya tidak mau hidup menggenggam kebencian.

Mungkin dulu Ayah saya juga mengalami hal yang sama dengan saya. Mungkin dulu Ayah saya juga pernah membenci kakek atau nenek saya. Mungkin Ayah saya juga diam-diam menangis di malam hari. Mungkin Ayah saya sama terlukanya dengan saya.

P.S : Kalau kamu membaca ini dan kamu mengalami kekerasan verbal maupun fisik, segera ceritakan ke orang terdekat yang bisa dipercaya atau pergi konsultasi ke psikolog. Jangan dipendam sendiri ya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.