Sharing Knowledge #1 : Leader and Leadership ( Kepemimpinan Nabi Daud dan Sulaiman )

Sebuah kisah ada dua orang wanita yang menghampiri Nabi Daud karena merasa anak nya hilang. Kedua wanita ini saling tuduh dan menanyakan siapa yang lebih berkas atas anak tersebut. Nabi Daud menjawab permasalahan ini dengan memberikan kepercayaan kepada wanita yang lebih tua.

Alhasil, anak yang tersisa diserahkan kepada wanita yang lebih tua. Menurut Nabi Daud, wanita yang lebih tua memiliki kejujuran yang lebih baik daripada wanita muda. Namun, Sulaiman dengan kecerdasannya meminta izin kepada Nabi Daud untuk (ikut) menyelesaikan masalah tersebut. Nabi Sulaiman meminta Nabi Daud membaringkan anak yang diperebutkan untuk dibelah menjadi dua menggunakan pedang Nabi Daud. Sontak, wanita muda menangis histeris, meminta agar anak tersebut tidak diperlakukan seperti yang Nabi Sulaiman minta. Sedangkan, wanita tua hanya diam dan tercenggang. Wanita muda mengikhlaskan anak tersebut kepada wanita tua asal permintaan Nabi Sulaiman tidak dilaksanakan Nabi Daud. Nabi Sulaiman berkata : “ wanita muda inilah yang lebih berhak atas anaknya, tidak ada seorang Ibu yang tidah histeris mendengar anaknya akan dibelah dengan pedang“. Maka, Nabi Daud menyerahkan hak atas anak tersebut kepada wanita muda.

Kisah lain, ada seorang pemuda x yang meminta pertanggungjawaban pemuda y karena kambingnya yang telah merusak kebun pemuda x. Pemuda x meminta kebijakan Nabi Daud terhadap kerugian yang ia terima. Nabi Daud memutuskan agar kambing pemuda y diberikan kepada pemuda x. Namun lagi Nabi Sulaiman meminta izin untuk ( ikut ) dalam memberikan kebijakan terhadap dua pemuda tersebut. Nabi Sulaiman berkata, “ berikan kambing tersebut kepada pemuda x, susu, anak, dan bulu domba nya bisa diambil selama setahun. Pemuda y pun bisa menikmati hasil kebun pemuda x selama setahun. Setelah setahun, kambing wajib dikembalikan “

Dari dua kisah tersebut, dapat dipelajari bahwa sifat Nabi Daud dalam memimpin yang tegas dan memprioritaskan insting daripada analisis. Sedangkan Nabi Sulaiman, karena kecerdasan dan buku-buku yang ia baca mampu melengkapi Nabi Daud dengan baik. Sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih adil dan bijak untuk rakyatnya.

Allah berfirman dalam Al-anbiya ayat 78–79 :

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. 21:78–79)”

Firman ini menunjukkan kisah Nabi Daud dan Sulaiman yang tentu saja jauh dari kata “ raja yang tamak” dan “ lelaki perebut istri orang” seperti yang orang Barat sebutkan dalam buku-bukunya. Ibrah dari kepemimpinan yang dimiliki Nabi Sulaiman adalah, dalam setiap pengambilan keputusan harus “ win-win solution “. Maksudnya adalah memberikan keputusan yang tidak merugikan salah satu pihak saja tetapi menjadi keputusan terbaik untuk kedua pihak.

Semoga dengan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman kita dapat mengaplikasikan kepemimpinan prophetic untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Narasumber : Bang Bachtiar Firdaus ( Direktur Utama Rumah Kepemimpinan )

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.