Siapa yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan, maka ia akan terlindas zaman.

Sepertinya, ini yang benar-benar dipegang BTPN. Sebagai bank yang tidak terlalu terkenal (jika dibandingkan BCA, Mandiri, BNI, dan BRI), inovasi yang dilakukannya dengan membuka produk digital bernama Jenius, memang langkah yang jenius.

Setelah sekian lama menimbang dan tanya-tanya teman, akhirnya aku buka akun Jenius. Wah, gampang banget ternyata. Tinggal download aplikasinya, isi data, lalu verifikasi lewat video call. Langsung jadi rekening kita.

Jadi nggak perlu lagi nenteng bayi dan balita panas-panas siang bolong buat dateng ke bank, antre, baru dilayani. …


Peran Kita dalam Bermedia-sosial

Dini hari kemarin aku random baca utas twitter tentang sesembak yang hampir DO menjelang wisuda karena dituduh pelakor oleh seorang pria yang merasa pernah dia tolak via DM IG.

Awalnya sederhana, ada akun yang meritwit dan memviralkan tuduhan itu. Netizen murka dengan segala hal yang berbau pelakor, dilacaklah akun ig si Mbak, dan ketemulah nama aslinya yang masih terdaftar di sebuah universitas. Masalah makin membesar hingga ia dipanggil pihak kampus, meski belum ada satupun bukti tentang tuduhan itu.

Ngeri memang media sosial sekarang ini. Tiap orang bisa jadi pelaku, korban, detektif, dan hakim. Awalnya mungkin hanya ikutan cari info biar dianggap update dan mendulang banyak retweet. …


Waktu kehamilan pertama, saya nggak ketemu dokter SpOG yang sreg sampai tibanya waktu melahirkan saya di bidan. Dokter SpOG pertama yang saya kunjungi berdasarkan review di Google, awalnya terlihat meyakinkan karena kliniknya ramai betul. Saya datang dan menunggu sekitar 1 jam lebih, eh pas periksa nggak sampai 5 menit. 🙈

Kecewa sih, karena sebagai newbie, saya pengennya dikasih penjelasan yang panjang-lebar gitu, eh malah divonis bayinya sungsang padahal usia kehamilan baru 4 bulan. Terus aku kapok, nggak ke situ lagi. Ternyata kliniknya ramai karena beliau dokter perempuan, jadi banyak yang merasa nyaman kalau yang meriksa dokter perempuan.

Nah, alhamdulillah di kehamilan kedua ini, dapet info dan rekomendasi SpOG yang bagus dari sebuah komunitas ibu-ibu lokal. Oke, nyoba lah. Karena kabarnya juga biayanya terjangkau. …


Image for post
Image for post
Dokumentasi Perpustakaan Ganesa

Sebenarnya, saya sedih kalau lihat dan dengar ada orang dewasa yang bilang begini.

Padahal, di mana-mana saya lihat banyak anak yang antusias membaca. Dulu, saat saya K2N, anak-anak senang sekali dibawakan buku-buku cerita. Mereka rela menunggu perpus rintisan dibuka, dan bersemangat sekali saat acara baca buku dipindahkan ke pinggir pantai.

Di perpustakaan dekat rumah, ada banyak, banyak sekali, anak-anak yang datang untuk membaca dan pulang membawa buku pinjaman dengan riang. Rekan saya yang merintis taman baca juga melaporkan antusiasme para anak tetangga yang datang untuk meminjam buku dan kecewa saat teman saya harus mudik dan meliburkan sementara taman bacanya.

Saya rasa, bukan anak-anak yang malas membaca, tetapi kita orang dewasa yang “malas” untuk menyediakan aksesnya. Coba sekarang kita perhatikan, mana akses yang lebih mudah didapat anak-anak? YouTube atau buku-buku menarik untuk seumuran mereka? …


Image for post
Image for post
Pojok Baca kami di rumah, yang entah bagaimana, memandangnya saja membuat saya bahagia.

Punya banyak buku tak selamanya menyenangkan. Sepertinya saya sedang ada dalam fase hoarding alias menumpuk buku-buku. Sukanya beli, bacanya nggak. Selalu beralasan nggak ada waktu, padahal waktunya sering dipakai untuk scrolling lihat kehidupan orang. Dan buku-buku itu semakin menumpuk dan terlupakan.

Padahal, ketika membeli buku, harusnya kita juga membeli waktu untuk membacanya.

Sekarang sih, beli buku-buku novel bisa saya rem karena ingat pesan itu. Tapi, rasanya sulit sekali ketika berhadapan dengan buku anak. Karena umumnya buku anak bisa habis dalam sekali baca, jadi kayanya enteng aja borong langsung banyak buku. Banyak banget alasan untuk selalu mengetik “mau” di lapak online orang. …


Mengenalkan Alam dan Serunya Penjelajahan pada Ghams

Image for post
Image for post
Ghams’ first swimming at Umbul Kendat, Boyolali.

“You don’t raise your children in a bubble!”

Potongan dialog dari film Ricky and The Flash tersebut sempat membuat saya tersentak. Sebagai mamah muda yang lagi getol-getolnya belajar parenting, sering saya dapati berbagai berita dan artikel tentang betapa berbahayanya dunia di luar sana. Ingin rasanya terus memeluk anak, menjauhkannya dari berbagai pengaruh buruk yang mengancam. Namun, jika demikian, kapan anak akan belajar? Bukankah harusnya anak dikenalkan sedini mungkin kepada dunia dan seisinya?

Saat mengandung Ghams, saya suka sekali jalan-jalan. Entah itu sekadar belanja ke supermarket, berenang cantik ke pemandian alam Pengging, maupun motoran nyari hawa adem ke Tawangmangu. Bahkan di usia kehamilan menjelang 9 bulan, saya masih bisa jadi guide buat 3 keponakan cimit untuk main di Jogja Bay dan Kids Fun. Mungkin karena ini pula, meski masih bayi kecil, Ghams suka sekali diajak main. Matanya berbinar memandang jejeran barang yang dipajang di supermarket atau toko buku, persis seperti ibunya memandangi barang-barang diskonan. …


Image for post
Image for post

Saya dan suami menikah pada tanggal 13 Desember 2014. Hari itu adalah ulang tahunnya yang ke-34. Saya pilih tanggal itu untuk menikah dengan beberapa pertimbangan:

  1. Hari Minggu, kemungkinan teman-teman saya untuk hadir akan lebih besar
  2. Hari ulang tahun suami saya, sehingga hadiahnya kelak bisa rapel
  3. Ternyata tanggalnya cantik juga.

Awalnya, akad nikah yang digelar pukul 11 saya pikir cuma agar tidak terlalu pagi sehingga teman-teman saya bisa turut menyaksikan. Ternyata setelah ditelisik, menghasilkan angka cantik. Jam 11, bulan 12, tanggal 13, tahun 2014. Kebetulan yang cukup menyenangkan.

Kemudian Ghamal, putra kami, lahir pada 26 Januari 2016. Awalnya kami mengira letak tanggal cantiknya (selain wetonnya yang Selasa Kliwon dianggap hari baik bagi masyarakat Jawa, istilahnya Anggoro Kasih, sehingga sampai perlu dibuatkan ruwatan), hanya pada tanggal 26 yang jika dibagi 2 menghasilkan angka 13, tanggal lahir ayahnya (yang selalu dia banggakan) sekaligus tanggal pernikahan kami. Lalu iseng saya cocok-cocokkan dengan ilmu cocoklogi, maka 26 Januari 2016 jika diangkakan menjadi 26 01 2016, pengulangan yang lumayan cantik juga. …


Tamu Pembawa Berkah

Pernah nggak sih kamu (khususnya yang perempuan) merasa sebeeeeel banget ama pasangan karena hal-hal sepele?

Selama setahun menjalani pernikahan, umumnya perang dingin yang (hampir selalu) saya kobarkan berasal dari hal-hal sepele. Seringkali sepeleee banget. Sesepele apa? Sesepele tisu bekas berserakan, sesepele nanya nggak dijawab, sesepele adu argumen politik, dan masih banyak hal sepele lainnya yang saking banyaknya saya sampai lupa.

Memang kodratnya perempuan itu selalu menangan kan ya terhadap pasangan, jadi hal-hal sepele itu terasa prinsipil sekali. Dan jurus andalan perempuan kalau udah ngambek apa? Yak, betul. DIAM. Muahahahaha

Jadi, tingkat kebahagiaan perempuan itu berbanding lurus dengan jumlah kata yang keluar dari mulutnya. …


Image for post
Image for post

Saya ingat, itu adalah masa pasca-krismon 97, dan saya tinggal bersama nenek saya di sebuah desa kecil, puluhan kilometer jaraknya dari kota kabupaten. Di desa itu, berjarak beberapa rumah dari rumah nenek, ada sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang kembang kempis karena lebih banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anak-anaknya di SD Negeri, meski agak jauh. Murid-murid MI yang tak seberapa itupun lantas lulus satu per satu, MI tak lagi menerima murid baru, dan akhirnya kegiatan belajar mengajar pun terhenti. Gedung lantas beralih fungsi menjadi tempat mengaji kala sore hari, dengan guru-guru yang dibayar seikhlas hati.

Seperti sekolah pada umumnya, MI tersebut memiliki perpustakaan. Jangan bayangkan perpustakaannya seperti perpustakaan sekolah saat ini, apalagi perpustakaan UI. Buku-buku yang ada di sana umumnya buku-buku pelajaran yang dipakai turun-temurun oleh para siswa, serta buku-buku bacaan terbitan Balai Pustaka yang disuplai pemerintah. …


Sementara saya bergelung di balik selimut bersama suami dan bayi mungil kami, di luar hujan turun tak henti sejak petang tadi. Tiba-tiba terdengar bunyi “tulit-tulit” diiringi teriakan “baksooo, baksooo”.

Deg. Hati saya tiba-tiba terasa ngilu. Jam berapa ini? Batin saya. Segera saya meraih handphone dan melihat angka 22 lebih sekian menit.

Jam 10 malam, dan si bapak penjual bakso yang saban hari keliling kampung dengan sepeda dan dagangannya masih berusaha mengais rezekinya. Malam itu, sudah kali kedua ia lewat depan kontrakan kami, meneriakkan kata yang sama, dengan nada sumringah khas-nya.

Malam itu saya jadi sulit tidur. Membayangkan di luar sana banyak orang yang bekerja jauh lebih keras dari saya, dan hidupnya bahkan tak lebih mudah daripada saya. …

About

Diana Nurwidiastuti

penyuka buku diskonan

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store