Alasan-alasan Menurut Saya Mengapa Facebook Kembali Berjaya

Sekitar tahun 2014, kala ponsel saya mulai memadai, saya menginstall aplikasi Path. Saat itu, Path begitu happening. Bahkan politisi Aburizal Bakrie menanamkan sahamnya di aplikasi ini. Konon, Indonesia adalah pangsa pasar utama Path.

Ketika mulai menggunakan Path, saya (seperti juga kebanyakan penggunanya) sangat selektif memilih teman yang akan di-friend di Path. Maklum, saat itu Path hanya memperbolehkan penggunanya berteman dengan 150 akun lainnya. Hal itu rupanya yang membuat Path banyak diminati, utamanya oleh masyarakat urban, sebagai alternatif media sosial selain Facebook dan Twitter yang dianggap sudah membosankan. Eksklusivitas rupanya masih begitu seksi.

Saat itu yang paling mengasyikkan di Path adalah beredarnya berbagai meme seputar hal-hal yang sedang happening. Jadi berasa update banget kalo punya Path. Yang membuat Path kemudian begitu melenakan adalah tampilan love, laugh, dan sad-nya yang terpampang nyata di bawah postingan kita. Jumlah love, laugh, dan sad yang kamu dapat, menunjukkan eksistensi kamu dan seberapa wow-nya postingan kamu.

Selain itu, fitur-fitur semacam wake up dan sleep, listening to, watching, dkk-nya itu bikin kamu bisa mengupdate hal-hal yang sebelumnya mungkin ga kebayang bakal kamu update. Seriously, wake up and sleep! Dunia harus tau kamu tidur berapa jam malam itu.

Setelah meme war meredup pamornya, maka Path jadi kian intim. Di linimasa saya, banyak sekali kebahagiaan yang dibagi. Mulai dari momen jalan-jalan ke luar negeri, makan di restoran terkini, kado dari pasangan terkasih, hingga beli ini-itu bertebaran sepanjang hari. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, kebahagiaan yang dijejalkan terus menerus justru akan terasa memuakkan. Terlebih jika itu datang dari orang-yang-sesungguhnya-tidak-terlalu-kita-pedulikan.

Saya kemudian merasa agak jengah dengan Path, dan tidak menemukan teman-teman saya di Twitter. (Linimasa Twitter saya lebih didominasi para selebtwit. Oiya, beberapa hari lalu muncul berita, laba yang dihasilkan twitter stagnan, sehingga mereka mengubah algoritmanya). Mungkin teman-teman saya lebih suka nge-Path.

Dengan beberapa alasan itu, saya kembali ke Facebook, ke pelukan Mark Zuckerberg (dan anjingnya, Beast, yang bulunya mirip kain pel itu). Di FB saya bertemu teman-teman lama, teman-teman SMA, SMP, SD, dan beberapa teman kuliah yang rupanya juga masih setia kepada FB. Akhir-akhir ini yang mengasyikkan, saya berteman dan mengikuti beberapa penulis, temannya teman yang statusnya asik-asik, dan tentu saja: toko-toko buku online. 😍

Apa yang membuat FB kembali menarik bagi saya?

1. All in one. Bisa dikatakan, FB adalah platform media sosial yang paling lengkap. Mau listening and watching udah ada, feeling blablabla ada, mau nulis catatan yang panjang pun bisa.

2. Penggunanya lebih heterogen. Makin tua saya makin sadar kalau membatasi pertemanan dengan orang-orang yang “selevel” atau “sepemikiran” dengan kita rupa-rupanya tidak baik. Buat saya pribadi, saya merasa lebih judgemental jika seperti itu, karena sense untuk merayakan perbedaan pendapat jadi tidak terasah.

3. Aplikasinya ga sering nge-hang macam Path. Entah hape saya yang emang kurang memadai atau gimana. Hehe

4. Lebih informatif. Banyak yang suka share resep, tips, dan berbagai informasi lainnya. Asiknya, kita bisa simpan link-nya kalau suatu saat perlu.

5. Karena M. Aan Mansyur sekarang (atau saya aja yang baru tau) juga lumayan sering muncul di FB. Aan Mansyur ini salah satu penyair yang puisi-puisinya kadang cuma bisa saya tanggapi dengan “aaah” saking melelehnya, atau justru dengan umpatan saking bagusnya. Muahahahaha.

Tapi, satu hal yang paling tidak mengasikkan dari Facebook adalah: masih ada aja yang share statusnya Jonru. Yelah.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Diana Nurwidiastuti’s story.