Bagaimana Rasanya Menikah?

Sebagai salah satu perempuan yang menikah relatif lebih awal di antara teman-teman saya, pertanyaan ini sering sekali saya dapatkan. Kebanyakan yang bertanya adalah teman perempuan, yang cantik, pintar, berkarier bagus, dan sudah ingin menikah. Kalau mereka galau soal jodoh, saya sering sekali ngomel. Kenapa mereka harus khawatir dengan jodoh kalau mereka sendiri adalah perempuan-perempuan dengan kualitas tinggi. Dan kata sok bijak yang paling sering saya berikan adalah: yakin aja, jodoh ga akan ketuker.

Terus terang saya bingung menjawab pertanyaan tersebut. Menikah itu rasanyaaaa.. Sebetulnya biasa saja. Cuma ya memang ada hal-hal yang berubah, meski tidak terasa drastis. Jadi biasanya saya jawab: enak, apa-apa ada yang nemenin. Hehe.

Tapi kalau mau dijabarkan, menikah itu rasanya campur-campur sih. Kalau kata seorang teman:

Ya setidaknya lo udah memecahkan salah satu misteri besar dalam hidup: jodoh.

Iya sih, tapi ada konsekuensinya. Mengutip perkataan seorang teman lagi:

Menikah adalah tentang memilih masalah apa yang kamu ingin hadapi seumur hidup.

Nah, itu. Apalagi saya yang punya suami freelancer, seringan kerja di rumah, ketemunya hampir 24 jam dalam sehari. Tapi berhubung dulu kami pacaran jarak jauh (dan cuma sebentar), jadi masa-masa awal pernikahan itu justru jadi momen memahami karakter asli masing-masing. Kadang ya kesal kalau lihat kelakuannya yang tidak sesuai keinginan saya. Tapi kadang terharu juga dengan hal-hal yang menurut saya unyu, sesepele dia membelikan donat kampung kesukaan saya di warung sepulang dia dari luar. Kadang setelah saya marah-marah, saya sering kasihan juga melihat dia yang cuma pasrah. Kalau lagi sadar, saya selalu mencoba meyakinkan diri saya bahwa dia itu pilihan saya dengan segala baik-buruknya.

Pernikahan itu tentang sejauh mana kita mampu menoleransi pasangan kita.

Satu hal yang paling menonjol dalam pernikahan adalah: terenggutnya kebebasan. Meskipun suami saya tidak membatasi saya untuk melakukan ini-itu, tapi tetap saja, ketika sudah terikat dengan pernikahan, mau tidak mau, suka tidak suka, ada beberapa hal yang menjadi tanggung jawab dan harus ditunaikan. Kalau ketika lajang dulu, saat weekend saya sering main pagi pulang malam, kini tentu saya tak akan tega melakukan itu. Kenapa? Ya kepikiran, suami udah makan belum. Apalagi ketika sudah punya anak. Bye, freedom! Haha.

Saat saya memutuskan untuk menikah, saya sebetulnya tidak cinta-cinta amat dengan suami saya. Namun, saat ini ketika saya memikirkan jika ada hal-hal buruk yang terjadi kepadanya, saya ketakutan dan menangis sendiri membayangkannya. Saya rasa, itu definisi cinta buat saya.

Perubahan signifikan menurut saya justru terjadi ketika hadir anak dalam pernikahan. Ketika kita bisa bersikap apa adanya dan seadanya terhadap pasangan, justru kita harus sangat berhati-hati dalam bersikap di hadapan anak. Karena tidak seperti pasangan yang mau tidak mau kita terima apa adanya, pada anak kita menitipkan harapan (yang kadang terlalu muluk dan sempurna) agar dia jadi manusia yang baik dari segala sisi. Maka itu menurut saya, perbedaan terbesar antara pasangan dan anak adalah:

Kita bisa mengawali pernikahan tanpa cinta, tapi tidak akan bisa kita melahirkan tanpa cinta. Orang yang pertama kali jatuh cinta padamu adalah ibumu.

Oh ya, selama setahun menikah, ada hal-hal lucu yang terjadi pada kami. Salah satunya adalah, kami pernah begitu bokeknya, sampai uang yang kami miliki tak sampai sepuluh ribu rupiah. Hahaha. Dari situ saya belajar untuk “mengutil” pendapatan suami saya yang selalu diberikan seluruhnya kepada saya. Kami juga sering mengumpulkan uang logam yang ternyata bisa membantu biaya persalinan. Hihihi.

Dan salah satu hal yang paling saya suka dalam pernikahan adalah: saya bisa mengeluarkan kentut super bau, menggenggamnya, dan membuka genggaman itu di depan hidung suami saya.

Hidup ternyata seseru itu.