Uang dan cara kita memperlakukannya
Jodhi P. Giriarso
53

Hai Jodhi, Menarik Sekali Artikelmu

Saya pernah punya pengalaman yang sama. Saat itu, medio 2011, saya sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa di pedalaman Alor Timur, NTT. Tahun depannya, saya berkesempatan melakukan program lanjutan. Masih di Alor Timur juga, hanya beda pulau.

Di desa pertama, listrik PLN sudah masuk, tapi hanya beroperasi mulai pukul 18.00–06.00. Mau cari sinyal? Harus jalan kurang lebih 1 kilometer ke arah desa sebelah yang merupakan ibu kota kecamata. Letaknya di sepanjang pantai yang dipenuhi kerikil, 100% penduduknya Protestan, dan mayoritas bekerja sebagai peladang. Ya, peladang. Kenapa bukan nelayan? Saya hanya pernah ketemu sekali referensi tentang ini. Rupanya dikarenakan rata-rata mereka adalah orang gunung yang “dipaksa” turun ke daerah tepi pantai agar mudah didata oleh pemerintah.

Oke, kembali ke desa pertama. Seperti kebanyakan desa di pedalaman, tak ada angkutan umum yg resmi beroperasi. Hanya ada truk yang dimodifikasi dengan diberi tempat duduk dan terpal sebagai atap, yang disebut “oto”, sebagai penghubung desa tersebut dengan ibu kota kabupaten, Kalabahi. Tanahnya gersang, tak ada sayur yang bisa ditanam. Air pun sulit diperoleh, tidak setiap rumah memiliki sumur. Tidak ada fasilitas kesehatan (perawat terakhir yang ditugaskan di sana memilih pergi karena tak betah), dan tidak ada pasar! Toko terdekat berada di desa sebelah, pemiliknya warga keturunan Cina yang sudah tua, yang sudah menetap di sana puluhan tahun.

Desa kedua, harus ditempuh dengan perahu motor kurang lebih dua jam dari Kalabahi. Sama-sama berada di sepanjang pantai, dan mayoritas penduduknya berladang. Belum ada listrik PLN yang masuk, meski sudah didirikan menara pemancar sinyal Telkomsel. Sebagian besar warga harus menyalakan genset untuk memperoleh listrik. Beberapa warga mengusahakan kebun sayur yang ternyata sukses menghasilkan sawi, bayam, dan beberapa jenis sayuran lainnya. Pasar tradisional hadir seminggu sekali di dermaga. Di dekat dermaga juga hadir Puskesmas dengan dokternya yang rata-rata mahasiswa PTT.

Sama seperti yang kamu utarakan, di kedua desa ini saya sulit sekali menemukan uang yang secara fisik terlihat bagus. Entah karena cara menyimpannya yang asal, atau memang perputaran uang yang itu-itu saja penyebabnya.

Cerita saya kebanyakan background-nya, ya. Hehe. Tapi karena tulisan kamu saya jadi terinspirasi untuk menulis lebih lanjut tentang dua desa itu. Keep writing and sharing! ☺