Hablum minassapiens.

Diah Malik
Jul 25, 2017 · 2 min read

Hidup dengan sebagai (self-proclaimed) Introvert dan memiliki pekerjaan yang menuntut ekstroversi tingkat tinggi sering sekali membuat saya lelah. Saya hanya punya waktu beberapa jam untuk benar-benar sendiri, dan waktu ketika saya tidur tentunya tidak dihitung.

Di waktu sendiri yang cukup terbatas itu, saya biasanya melakukan jalan kaki di pagi hari, cukup satu sampai dua jam, kebiasaan yang rutin saya lakukan sejak bulan Oktober tahun lalu. Setidaknya dalam satu minggu saya meluangkan dua atau tiga kali untuk jalan-jalan dan mencoba rute aneh di sekitar kompleks perumahan saya. Dengan tujuan awal untuk menjaga kesehatan dan mendinginkan pikiran, saya ternyata memperoleh banyak manfaat dari ritual jalan-jalan ke kebon orang.

Saya sudah beberapa kali, walau tidak sering-sering amat, dikecewakan jika saya menaruh harapan pada manusia. Dan kemanusiaan. Semua manusia lebih sering menggunakan asas manfaat daripada altruis dan tentu saja hal itu sangat diwajarkan. Mungkin efek dari insting survival dan safety dimana orang-orang merasa bahwa mengambil manfaat dari orang lain adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh demi mempertahankan diri dan mengamankan diri.

Saya sudah menerima fakta tersebut. Saya tidak pernah berekspektasi terlalu besar pada apapun, termasuk pada manusia. Hingga pada akhirnya saya merasa yang tersisa dari hubungan antar-manusia bagi saya adalah mempersiapkan skenario terburuk.

Namun, selama saya beberapa kali berjalan-jalan sendiri di tempat-tempat terisolir, saya sering sekali mendapat perlakuan baik dari orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya. Perlakuan baik itu mulai dari hal sederhana seperi saling memberikan salam dan senyum, ditanya teresesat atau tidak, hingga level ditawari untuk diantar pulang sampai menyicipi sorabi yang sedang dibuat.

Hal-hal tersebut pernah terjadi pada saya di dunia nyata.

Dan sebagai orang dengan suuzon yang kuat, saya heran dengan saat-saat ketika saya menerima kebaikan tersebut, mekanisme pertahanan diri saya tidak jalan. Saya bisa saja berpikiran buruk tentang mereka, bahwa ketika orang bertanya saya tersesat atau tidak atau ketika menawari saya untuk diantar pulang, orang itu akan menculik saya lalu memanen organ tubuh saya untuk dijual di pasar gelap.

Tapi rasanya tidak. Saya merasa yakin bahwa mereka bertindak demikian karena basic human decency yang ada dalam setiap orang. Dan hal tersebut membuat saya sedikit lebih damai bahkan ketika saya merasa ada orang bertindak tidak baik pada saya, baik dengan niatan sengaja untuk menyakiti atau tidak. Bahwa kemanusiaan tidak seburuk itu.

Saya selalu ingat untuk berusaha berbuat baik dan jangan pernah memiliki niatan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain. Karena tanpa niat pun, kita selalu memiliki potensi “kecelakaan” untuk menyakiti orang lain tanpa kita sadari. Tapi dengan menjadi sadar bahwa jauh di dalam ingsun kita, kita punya human decency, rasanya sudah cukup.

Semoga selalu dalam keadaan baik.

    Diah Malik

    Written by

    vox nihili