Langkah Awal Membangun Sebuah Startup

Biasanya startup bermula dari ide pendirinya. Ide tersebut didapat dalam kehidupan sehari-hari, atau merupakan keresahan anda sendiri terhadap suatu peristiwa atau masalah yang sedang dihadapi. Bisa kita ambil contoh ketika Anda kesulitan untuk mengingat sebuah kegiatan atau mungkin acara. Ide yang muncul di benak Anda pertama kali mungkin adalah membuat sebuah aplikasi sederhana berupa pengingat kegiatan atau bisa juga sebuah aplikasi ToDo List. Contoh yang lain yang bisa saya berikan mungkin sudah jamak dan ramai di ranah startup adalah masalah transportasi akhirnya munculah beberapa layanan seperti Gojek, Grab, atau Uber yang ingin mencoba memecahkan masalah tersebut.

Saya yakin Anda sudah memiliki ide yang layak untuk dieksekusi dan berpikir atau mungkin berasumsi beberapa orang juga memiliki keresahan yang sama dengan diri Anda. Namun jangan pernah terjebak dengan asumsi, karena asumsi dapat membunuhmu. Disinilah kemudian Anda perlu bertanya kepada diri Anda sendiri, “Apakah ide tersebut benar-benar menyelesaikan masalah banyak orang? Atau jangan-jangan hanya saya saja yang mempunyai masalah tersebut?”

Untuk itu perlu adanya validasi ide. Dengan memvalidasi ide maka sebenarnya akan menghemat waktu dan sumber daya yang dimiliki sehingga tidak perlu membangun sesuatu yang tidak diinginkan orang.

Langkah kecil yang perlu Anda lakukan adalah sebagai berikut di bawah.

1. Sebarkan ide Anda

Ketakutan pertama bagi para pemula adalah “nanti ide saya diambil”. Ada beberapa poin yang perlu digaris bawahi. (1) orang / teman yang Anda ajak bicara tidak peduli dengan ide Anda, namun dengan berbicara dengan orang lain, maka anda akan mendapat feedback. Apakah ide Anda Bodoh atau memang ide tersebut Cerdas. (2) Dengan mendengarkan orang lain, Anda dapat memperbaiki atau mempertajam ide Anda.

2. Buat Produk Mini

Produk Mini bukan berarti produk yang dikecilkan namun dapat juga berarti MVP (Minimum Viable Product) dari produk tersebut. Sebagai contoh apabila Anda memutuskan berjualan kue, maka sediakan beberapa potongan kue atau yang berukuran lebih kecil untuk melihat respon dari calon pembeli. Hal yang sama juga berlaku untuk suatu layanan / piranti lunak. Ingat yang dicari adalah feedback dari user atau pembeli.

Bagi yang belum pernah mendengar apa itu MVP. MVP adalah sebuah produk dengan fitur minimum yang digunakan untuk mempelajari timbal balik pengguna dan memvalidasi ide untuk kemudian dilakukan pengembangan fitur berikutnya berdasarkan timbal balik pengguna tersebut.

3. Pelajari Pasar dan temukan niche produk

Sembilan puluh persen dari ide yang pernah saya dengarkan bukanlah suatu ide baru, sebagai contoh apabila ingin mengembangkan suatu marketplace sudah ada beberapa pemain seperti Bukalapak, Tokopedia, Lazada, dsb. Pilihannya adalah mencari ide baru atau menemukan niche product. Hal ini yang dikenal sebagai UVP (Unique Value Proposition), dimana bisa saja suatu produk mirip dengan yang lain namun tetap ada suatu yang membedakan antar produk tersebut.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari artikel ini adalah jangan pernah takut untuk menyebarkan ide Anda. Semakin cepat kita dapat melempar produk kita ke pasar semakin cepat pula kita mendapat feedback dari pengguna. Dengan semakin cepat kita mendapatkan feedback maka semakin cepat pula kita dapat mevalidasi ide kita serta mempelajari dan menangkap peluang.