Embun pagi turut menguap, berteman malam dengan segala batasnya.
Dititipnya sehelai rasa, sebab dalam bentuknya yang paling nyata, ia hanya dapat mengecupmu dalam kata.
Sesering apapun kau mengingat, ia sadar betul, kau buta aksara.
Sungguh, lupa menjadikannya nikmat paling kentara.
“Salam dari kaktusmu yang tak terawat.”
