Kisah Kampung Kami

pict. by wallpaperwide
We are born at a given moment, in a given place and, like vintage years of wine, we have the qualities of the year and of the season of which we are born. — Carl Jung

Beberapa malam kampung kami sering padam listrik setelah magrib, yang biasanya anak kami pulang larut karena masih ada ngaji di Mushola, kini terpaksa pulang lebih awal dan menangis ketakutan.

Selain itu cerita-cerita aneh terus membarui dan berkeliar di telinga kami sebelum anak-anak terlelap, alhasil mereka mendengar penuh kengiluan, orang tua seperti kami harus memperpanjang usus untuk mengurusi sedemikian masalah.

Langit tetaplah langit yang hanya bisa menjatuhkan hujan bukan makanan. Sedangkan kompor kami bukan lagi memakai arang, lah-jikalah listrik terus-terusan padam, kami curiga Tuhan menghabiskan air mata yang terus menjerit kelaparan.

Soal kelaparan bukanlah hal baru, kami juga sering mengais peluh dan mengikat perut dengan lengan baju, yang kami takutkan: anak kami kelaparan ilmu karena belajar saja tak berteman lampu.

Lah-jikalah ada lilin, sehari-duahari-tigahari: baru hitungan ringan lilin di warung sebelah habis. Kalau ada pun, harganya lebih murah bensin daripada lilin, kami curiga Tuhan mencipta aduh pada dada yang lembam.

Manusia serta setan di kegelapan bukanlah hal yang aneh, kami berteman, bahkan duduk bersama, merumuskan isu-isu negara, kami lebih takut keluarga kami mati kelaparan dan menjadi setan, dari pada takut setan yang asal-usulnya tidak jelas.

Like what you read? Give erdidik a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.