1.

Yung, carane ben urep ki ora akeh masalah piye?”
“Gampang. Pergi ke suatu tempat, di sana tempat peperangan namun awakmu ora isoh lihat peperangan itu; tempat di mana ora bakal menolong padahal banyak yang sedang meminta tolong.”
“Di mana itu Yung?”
“Pemakaman.

Seorang bertanya kepada kakek, kalau itu aku masih seusia anak kecil yang merasa takut disunat.

2.
Setiap hari adalah masalah.
Kebodohan-kebodohan kian ramai menjadi jalan lain setelah mereka mencari aman. Aku kira mereka adalah mantan jago pemain petak umpet. Sebelum permainan di mulai, biasanya aturan dibuat: tidak boleh melebihi area inilah, itulah; atau tidak boleh bersembunyi di rumah — apalagi sampai pulang ke rumah, stel tv, makan, atau bahkan bersembunyi dalam lemari. Lucu memang mengingat usia kala itu. Namun, ladahlah mereka, kalau kejadian-kejadian tersebut kembali dialami seusia sepertiku yang juga masih takut disunat LAGI.

Setiap masalah adalah jalan baru menuju kebahagian.
“ASU”. Pasti kalian yang membaca kalimat di atas langsung mengeyahkan. Kemudian berujar, “Opo jal maksude!” Bisa saja menambahkan argueMasalah ki yo ngrekasakke, ora ono tembunge bahagia, Njer!”

Ngene lho. Djenar Maesa Ayu sebelum menulis pun sudah ada saja yang nyangkemin: koyo ra ono daerah liyo wae sing dicritakke! Kemudian menimpal dengan penjelasan sedikit merendah “daerah kui (red: selangkangan) ora usah dicritakke, anamung dinikmati wae. ” Sambil cengengesan.

Ada yang berkata begitu? BANYAK.

Itu masalah. Lantas Djenar berhenti menulis? ORA.

Dunia yang kian ribet — di mana klakson menjadi orkestra pagi dan sore hari (di mana kita tak bisa lagi menikmati embun, fajar, nyanyian burung-burung dan bahkan senja selalu buru-buru) adalah pertanda hidup hanyalah pengenalan, menyapa dan melupa. Dunia bukan tempatnya jatuh dari pendirian karena orang lain. “Lha, awakku ora njaluk mangan mbi dek’e Je ,” prinsip orang Jawa yang bermaksud tetap kokoh dengan stay cool-nya

Barangkali, masalah orang menjadi hidangan siap saji di setiap pergumulan. Membicarakan, menilai, adu argue (lagi dan lagi) dan mereka lupa, mereka juga sedang dibicarakan orang lain.

Pidi Baiq mencipta sesajak: 
aku hujan
kamu tak suka tak apa
silakan berteduh

Atau Sai Baba berujar: Life is a song, sing it. Life is a game, play it. Life is a challenge, meet it. Life is a dream, realize it. Life is a sacrifice, offer it. Life is a love, enjoy it.

3.

Mari mencipta bahagia dengan berbagai cara termudah — apapun. Bangun pagi seperti biasanya, kemudian menemukan link tulisan ini lalu membacanya, dan membincangkan aku di pergumulan kalian, misalnya.

Tabik!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.