Menggambar Jaring-jaring yang Ada di Kepala

Tatkala hidup diaggap permainan dan penuh peramalan, masih adakah yang berkata langit itu berlapis? Masih adakah yang melihat awan adalah kerja tangan para malaikat melukis? Masih adakah yang mencari banyak tahu mengapa hati adalah sebuah perkotaan penuh rahasia, sedang orang-orang menyusun cerita—tentang sebuah rasa—yang ingin dibawa tanpa rahasia.


Aku bangkit dari demam, agar bumi sedikit bebas terbebani. Kuperam asam dan sejumlah butir anggur sisa-sisa yang sia-sia dipetik oleh petani, sebagai kedua mataku. Bersama rasa ingin dan rasa lapar, aku bangkit dan aku rawat mereka sebagaimana fajar menuntun hari. Setelah senja, burung hantu yang tersimpan dalam diri, kulepaskan dari sangkar berduri. Lalu, biar aku di sini sebagai cekung dan pawang yang meruwat malam sunyi — sambil melihat orang-orang telanjang sibuk menjaring angin dengan baju yang tak dikenakan lagi.

Aku bisa menjadi talang yang selalu tabah diterpa hujan, terpaksa bekerja mengatur alir demi sampai di pemukiman air sewajarnya. Jika aku bermalasan sebentar saja, alir berhenti, atap dibanjiri, lalu tentu aku dicaci.

Di antara semua itu, aku adalah tangan yang menengadah untuk berterima kasih. Sebab, masih benar kuingat kita sebagai kedua masa yang demikian membuat kita kuat menertawai, dan mencintai dengan cara sembunyi.