Inspirasi Waria Hingga Tercipta Tari Semarangan

Bintang Hanggoro Putro melatih puluhan penari di Kawasan TBRS Semarang

Dua lelaki tampak luwes membawakan tarian asal Semarang di depan puluhan para penari di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Rabu (3/8). Mereka adalah Bintang Hanggoro Putro dan Aloisius Agus, dua orang pencetus Tari Denok dan Tari Semarangan.

Kedua tari tersebut mereka ciptakan sejak lebih dari 20 tahun silam. Berawal dari observasi yang mereka lakukan pada tahun 1991, akhirnya melahirkan macam-macam gerakan yang mencerminkan berbagai hal tentang Semarang.

Bintang mengatakan, gerakan yang tercipta pun tak lepas dari berbagai aspek mengenai Kota Semarang, seperti Geografi, Geologi, Sosial, dan Budaya.

Aspek geografi, Semarang merupakan kota yang terbentuk pada dua dataran yakni tinggi dan rendah. Kemudian menciptakan gerakan-gerakan yang selalu berdampingan antara tinggi dan rendah seperti gerakan tangan pada Tari Semarangan ada yang naik dan ada yang turun.

Kemudian dari aspek geologi, Semarang merupakan daerah patahan yang rawan terjadinya longsor. Sehingga menciptakan gerakan-gerakan pengulangan antara jongkok dan berdiri.

Dari aspek sosial, sebagian besar masyarakat Semarang berprofesi sebagai pedagang. Selain itu juga merupakan kota industri sehingga hiruk pikuk kota. Hubungan antar masyarakat juga terjalin sangat kuat. Hal tersebut menciptakan gerakan yang krentek dan lincah.

Sementara aspek budaya, Semarang didominasi dari tiga lintas budaya yakni Cina, Arab, dan Jawa. Ketiga budaya yang berbeda tersebut melekat pada dua tarian yang ditemukan dari gerakan, kostum, maupun musik.

Bintang Hanggoro Putro

Vokalis Waria

Untuk macam-macam gerakan, Bintang mengaku mengadopsi beberapa gerakan dari vokalis group Gambang Semarangan yang ditemui saat melakukan observasi. Pada waktu itu, ia menemukan group tersebut di sekitar Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok.

“Nah pada waktu itu yang mbikin saya tertarik untuk mengadopsi gerakan itu, ada beberapa group Gambang Semarangan yang saya perhatikan dari generasi ke generasi itu semua penyanyinya waria, dan gerakannya selalu seperti itu,” ungkap Bintang.

Beberapa gerakan yang ia lihat dari para penyanyi group Gambang Semarangan tersebut kemudian diolah hingga menjadi beberapa gerakan dalam tari. Ada empat gerakan yang ia adopsi dari para penyanyi waria tersebut. Tak hanya gerakannya, nama gerakannya pun ia adopsi dari istilah-istilah yang digunakan oleh para waria tersebut.

Keempat gerakan tersebut yakni Jalan Tepak, Geol, Ngeyek, dan juga Ngondek. “Ya itu gerakan gerakan tadi emang seperti gerakan waria pada umumnya, sama kayak ngondek. Kalau ngeyek itu goyangan melenggok lenggok namun tumpuannya bukan pada pinggul seperti pada Tari Jaipong milik Jawa Barat, tapi tumpuannya pada lutut,” beber Bintang.

Selain karena penyanyi dari generasi ke generasi semuanya waria, pemilihan gerakan sebagai bahan tarian juga karena lagu Gambang Semarang telah ditetapkan sebagai lagu asli semarang yang juga menjadi pengiring Tari Semarangan.

Sementara itu, untuk kostum dalam tari ini dipengaruhi dari dua lintas budaya yakni Cina dan Arab. Berbentuk kebaya encim, yang pada waktu itu sering dipakai oleh masyarakat Arab dan dipadukan dengan warna-warna ngejreng khas Cina dengan dominasi warna merah.

Dalam perjalanannya, tarian ini mengalami beberapa perubahan gerakan yang juga merupakan tampungan dari ide ide masyarakat. “Dari rasa gerakannya, awalnya masyarakat yang melihat seperti jaipongan. Kemudian kita olah lagi sehingga terbentuklah tarian tersebut, itu waktu sarasehan budaya bersama teman teman, ada seniman, tokoh, guru, juga pejabat di Kota Semarang ini,” imbuhnya.

Tarian tersebut juga pernah dibawakan secara massal di dua tahun setelah observasi di sebuah lapangan yang juga disaksikan oleh walikota Semarang yang pada saat itu dipimpin oleh Soetrisno Suharto. “Itu Pak Wali melihat langsung suka dengan tarian yang ini. Setelah itu kemudian diresmikan dan tarian ini diberi nama Tarian Semarangan,” ungkap Bintang.

Budaya Cina

Seiring berjalanan waktu, kemudian sekitar tahun 1998, tarian ini mulai tersosialisasikan kepada masyarakat Semarang pada khususnya. Bahkan dua orang penemu ini juga pernah membawa tarian ini ke Australia untuk disosialisasikan disana.

“Bahkan dulu itu waktu kami di Australia ada salah seorang yang juga seniman asal Cina memperhatikan dan mengamati tarian kami dia merasa bahwa tarian yang kami bawakan itu mengandung unsur Mandarin, padahal pada waktu itu kami juga tidak menyadari itu bahwa ada rasa Mandarin di dalamnya,” tambah Bintang.

Setelah itu, lanjut Bintang, ia mengakui bahwa memang ada pengaruh budaya Cina dalam tarian tersebut. Terutama pada musik pengiring yang menggunakan kongahyan, alat musik tersebut merupakan musik gesek yang menyerupai rebab kalau di Jawa.

“Baru kita menyadari bahwa kesan Mandarin itu ternyata ada, kita juga ndak tau, dan ternyata muncul gitu kesan itu,” ungkap Bintang.

Seiring perkembangan zaman, banyak para seniman yang memodifikasi tarian tersebut hingga tercipta berbagai tarian-tarian yang hampir menyerupai Tari Denok maupun Tari Semarangan. “Ya ada yang mengaku-ngaku bahwa itu ciptaan mereka, bahkan masih banyak yang neragukan bahwa Tari Semarangan seperti itu, tapi menurut saya prinsip sebuah generasi bisa saja membuat budaya, kapan pun, generasi apapun bisa membuat apapaun, namanya budaya itu masyarakat yang mengukur,” pungkas Bintang.

Namun, menurut Bintang hingga saat ini masih banyak generasi yang mulai mendalami tarian ini. Bahkan dengan adanya beberapa festival seperti yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang dalam upaya pelestarian budaya.

Kedua penemu tari tersebut kini melakukan workshop yang diselenggarakan oleh Disbudpar Kota Semarang dalam persiapan menghadapi Festival Gambang Semarang yang akan dilaksanakan pada 29 Agustus mendatang. (efendi)

Artikel ini pernah dimuat di metrosemarang.com, Sabtu 5 Agustus 2017