Puisi

Poros tak bersama
Oleh: Dile

Pada rembang senja kala itu,
Kau menatap dengan bait-bait kata yang tersurat. 
Membuat masa silamku hanya tinggal jejak jejak semburat.

Pun pada degup-degup yang sayup kala itu, 
Terdengar dari balik indah pandangmu,
Yang secara diam-diam melumat rasa pada ragaku.

Getar itu Tuan, 
Seakan tak bisa dikendalikan oleh nalar
Sementara,
matamu masih menelusuri diri

sampai diri akhirnya jatuh hati

-- Dan kita...
berikrar untuk saling mencintai

Kala itu, 
Darah-darah yang menjalar seakan tumpah ruah membanjir
Dari kepala hingga pada batas bibir
Yang kau kecupi sampai samar berakhir

Aku Tak berdaya pada ruas tengkuk dan dadamu.
Yang Membuat hening paling bening
menjadikan kau sebagai satu-satunya sebuah ingin.

Ingatkah kau pada kala itu Tuan, 
Pada janji yang sengaja kita patri sendiri

Saat rasamu menyelami dasar hati

hingga ke nadi.

Namun saat ini, 
ingin seakan menjadi angan yang tertiup angin. 
Hilang ke entah.
Meninggalkan aku,
yang dihujani rindu dengan pasrah.


Jakarta, 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.