Bahasa di Generasi Langgas

Kemarin saya diskusi mengenai penggunaan bahasa di sebuah proyek yang sedang kita kerjakan. Proyek itu terkait dengan Generasi Langgas, sebuah termin yang kami ciptakan untuk menggambarkan Millennials di Indonesia.

Langgas, sebuah kata di bahasa Indonesia, berarti bebas. Kenapa bebas? Karena kami merasa bahwa millennials di Indonesia memiliki kebebasan yang luas. Mereka (eh, saya berhak untuk bilang kami disini, saya kan lahir tahun 1980 jadi masih berhak dong menamakan diri saya millennial).. oke saya ulang ya.. kami, para millennials di Indonesia, kini bebas untuk memilih jalan hidup sendiri, bebas untuk menentukan karir, pasangan, ilmu yang ingin ditekuni, dan bebas melakukan banyak hal lainnya.

Apalagi di Indonesia, kebebasan berpikir dan berekspresi sudah dibuka luas, apalagi sejak era reformasi 1998. Akhirnya pola pikir kami pun menjadi bebas. Rasa-rasanya kami sering kali berpikir tidak ada hal yang tidak dapat kami lakukan.

Terkait dengan kebebasan tersebut, penggunaan bahasa pun menjadi bebas. Kami bebas untuk menggunakan bahasa campur aduk, terserah mau pakai bahasa inggris campur indonesia, atau pakai bahasa 4L4Y, bebas saja selama konteksnya dapat dimengerti oleh lawan bicara.

Yang menarik, walaupun dengan menggunakan bahasa inggris terkesan kami melupakan warisan bangsa, yang terjadi di balik itu sungguh berbeda. Kami melakukan berbagai wawancara dengan Millennial di berbagai kota di Indonesia dan kami temukan warisan bangsa ataupun adat adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh para Millennials ini. Jadi ekspresi dalam berbahasa tidak berhubungan langsung dengan kedekatan terhadap identitas bangsa.

Eh kok jadi ngelantur kesitu.. pembahasan soal identitas bangsa di kalangan millennials bisa jadi diskusi yang panjang sekali, jadi kita simpan saja ya untuk lain waktu.

Kesimpulan dari diskusi kami kemarin adalah proyek ini bisa kita campur adukkan bahasanya, toh lawan bicara kami yaitu para generasi Langgas masih akan mengerti kok.. Coba kita lihat nanti ya kalau wujud nyata proyek ini sudah berjalan, bagaimana respon dan animo para generasi Langgas..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.