Seratus Satu Kali Mengunjungi Kota

Ilustrasi: Walking in the City/Hanson Mao

Jamal lagi-lagi datang ke kota itu. Sudah seratus kali ia bertandang ke kota itu dengan kemeja lusuh, jins kumal warna biru pudar dengan robekan sana-sini, dan sepuntung rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah. Sudah seratus kali dan kunjungan Jamal kini menjadi ganjil seratus satu kali. Seratus satu kali tapi tak juga ada yang mengenal Jamal. Tak ada yang menyapa atau memulai percakapan atau menyapa dan memulai percakapan dengan Jamal. Tak ada.

Meski begitu Jamal tetap saja mengunjungi kota itu. Jamal tak peduli. Kaki Jamal terus saja melangkah hingga menyusuri sudut-sudut angker dan jalanan-jalanan kosong tanpa lampu di kota itu. Ini kali keseratus satu Jamal melewatinya dan ia tak juga menemukan apa-apa.

“Sial,” umpatnya. “Harus kemana lagi aku mencari?”

Jamal ingat betul, setahun yang lalu, ia pernah berdebat dengan seorang perempuan di kota itu perihal masa depan -sesuatu yang tak pernah bisa diramal. Tak ada kesepakatan dalam percakapan keduanya.

Bagi Jamal, masa depan lebih mengerikan dibandingkan apapun juga. Ia jauh lebih angker dari sudut-sudut manapun di kota itu yang hanya berisi bandit-bandit. Ia jauh lebih gelap daripada jalanan kosong di kota itu yang lampunya mati akibat karat atau gigitan tikus yang bersembunyi di gorong-gorong. Sementara si perempuan berkukuh, masa depan jauh lebih menyenangkan dari apapun juga. Bahkan dari bualan-bualan manis Jamal tentang si perempuan.

“Mal, tidak bisakah kita berharap saja?”

“Tahu apa kamu soal harapan? Jangan mengada-ada.”

Jamal tak pernah suka dengan harapan. Ia mengerti jika si perempuan boleh saja berharap-harap, bercita-cita. Tapi ia ragu jika harapan akan terwujud, terlebih di kota itu. Harapan, bagi Jamal, hanya menjadi dagangan para pecandu akut politik. Ia diperjualbelikan kepada orang-orang dan tak pernah terwujud. Karenanya Jamal takut memberikan harapan tentang masa depan kepada si perempuan.

Perdebatan tak pernah selesai. Tak ada kesepakatan di dalamnya. Perempuan itu langsung pergi begitu mendengar jawaban Jamal. Gestur tubuh perempuan itu menunjukkan tanda tak puas dengan jawaban Jamal. Jamal meminta ada pertemuan ulang untuk melanjutkan debat. Jamal ingin membuktikan ucapannya. Tak pernah ada jawaban setelahnya.

Sudah setahun atau barangkali seratus satu kali Jamal mengunjungi kota itu. Tapi Jamal tak kunjung bertemu dengan si perempuan, tidak di pasar, kantor, kafe favorit, atau bahkan di lokasi pertemuan terakhir mereka. Kaki Jamal terus saja melangkah hingga menyusuri sudut-sudut angker dan jalanan-jalanan kosong tanpa lampu di kota itu. Ia tak juga menemukan apa-apa.

Jamal hanya ingin si perempuan tahu dirinya kini tak lagi punya masa depan. Tanpa karir dan uang. Jamal berharap perempuan itu mau mendekapnya sekali lagi, memberikan pelukan atau peluang mengubah masa depan. Jamal ingin sekali mendengar “kau akan baik-baik saja, Mal” dari bibir perempuan itu. Tapi tidak. Ia tak pernah menemukannya meski mencari hingga seratus satu kali.

“Kemana lagi aku harus mencarimu, Nah?” gumam Jamal.

Seratus satu kali. Jamal baru sadar, tak ada yang mau menerima laki-laki tanpa masa depan.