Tematik Problematik
Nayaka Angger
241

Tapi, Kang, argumen soal “taman” dan “hijau-hijauan” sebagai RTH agaknya kurang tepat, sebab jumlah RTH Kota Bandung tidak berbanding lurus dengan penambahan “taman” dan berbagai “hijau-hijauan” yang digagas Emil.

Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung menyebut jika penambahan RTH Kota Bandung dari 2014 sebesar 12,14% menjadi 12,15% pada 2015. Berarti penambahan terjadi hanya sebesar 0,01%. Sementara per September 2016, diklaim naik sebesar 1,09% menjadi 13,24%

Adapun Walhi Jawa Barat menyebut jika RTH di Kota Bandung hanya sebesar 7–8% pada 2017. Data Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung pada 2015 menyebut jika penyumbang terbesar dari RTH sebesar 12,15% berasal dari wilayah perkantoran dan gedung komersial sejumlah 2,64%.

Walhi, berdasarkan argumennya, menilai “taman” serta beberapa pepohonan di jalan raya maupun wilayah perkantoran dan gedung komersial tidak tepat dianggap sebagai RTH, sebab tak memenuhi syarat. RTH seharusnya dibentuk seperti taman kota dan hutan kota yang dipenuhi vegetasi. Sementara, jumlah taman kota hanya 1,30% dan hutan kota sebesar 0,02% pada 2015.

Adapun Undang-undang No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengatur jumlah RTH minimal seluas 30% dari total luas kota. Dengan demikian Bandung pun -sebab Jakarta dan beberapa kota lainnya bernasib sama- belum memenuhi syarat yang diatur Undang-undang.

Banyak yang dilabeli “taman” maupun “hijau-hijauan” oleh Emil barangkali merupakan ruang publik, bukan RTH.

Salam

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.