Tiga Cerita Singkat

Dimas Jarot Bayu
Jul 28, 2017 · 2 min read

Seseorang memanjat menuju posisimu berdiri saat ini. Dia merangkak dan kau menginjaknya dari atas. Kakimu kau gerakkan naik turun ke atas kepalanya. Kau berharap agar ia tak cepat sampai. Kau takut kehilangan, seperti juga kucing liar di pekarangan belakang yang tengah menggigit tulang ayam.

Kau terlalu bersemangat menginjak dan tergelincir jatuh. Satu benturan, dua benturan, tiga benturan, terus begitu sampai ke dasar.

Seseorang yang kau benci tiba-tiba sampai di atas, kemudian kembali turun. “Tak ada apa-apa di sana,” kata orang itu. Satu, dua, tiga orang tak percaya, syahdan membuktikannya sendiri. Mereka berlomba-lomba naik ke puncak gunung kastamu.

Rupanya orang-orang tak tahu kau telah kehilangan segalanya. Orang-orang tak tahu kau berdiri di puncak sana cuma untuk meninggikan egomu sendiri. Tak ada istana, singgasana, selir-selir yang tertawa manja, emas yang gilang-gemilang, serta anjing-anjing yang ramah dan patuh.

Ah, memangnya apa yang lebih baik dari harga diri?

Kau ingin sekali membunuh dirimu sendiri.


Dokter selalu bilang bahwa rokok akan membunuh pelan-pelan. Tembakau yang membuat paru-paru kembang kempis itu konon mengandung berbagai macam racun.

Hidup di kota membuatmu menderita. Kau depresi sebab pacar yang kau kawini semalam segera pergi ketika tahu tititmu kecil. Uangmu terlanjur habis untuk whisky yang kau beli sembunyi-sembunyi di warung lapo belakang kantor polisi. Bos di kantor lebih menyebalkan dari ibu kos yang setiap pagi menagih iuran listrik yang kau tunggak sejak sepuluh bulan lalu.

Sebungkus rokok di toko kelontong seberang jalan terlihat begitu menggiurkan. Kau lelah, dan barangkali satu atau dua batang saja bisa menghilangkan penatmu.

Dari kanan jalan, sebuah mobil kap berisikan sayur mayur terburu-buru ke pasar. Semalam sang sopir datang ke lokalisasi dan menemukan sundal baru yang murah. Sementara, mobil tua miliknya belum diservis sejak dirakit dengan penuh cinta. Cinta memang cepat berpindah.

Kau menyeberang jalan untuk membeli rokok, dan sopir mobil kap mengantuk sambil bergegas menyetir.

Di alam kubur, kau selalu bertanya, siapa yang benar-benar membuatmu terbunuh: rokok, sopir mobil kap, atau penderitaanmu selama ini.


Para pelanggan selalu datang dengan membawa setumpuk masalah ketika datang ke kedai itu. Hari-hari menyebalkan dan matahari yang terbelah menjadi dua pukul 12 siang. Berkas-berkas dan laporan yang tak kunjung habis seperti mukjizat. Lelah yang menggelayut dan mata yang menghitam ketika senja menguning di ufuk barat, senja yang tak pernah jadi berharga di kota.

Ada segelas kopi di kedai itu yang tak pernah habis. Kopi tanpa gula dengan bau yang menyengat. Orang-orang sudah merasa cukup pahit.

Penuh dengan kekosongan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade