Cerita Kota Untuk Kamu no. 2

"Aku belum pernah naik kereta", ucapmu sembari tersenyum. Agak canggung suaramu.
"Metromini atau Kopaja?", sahutku.
"Juga belum pernah".

Beberapa tahun lampau, ada orang yang aku kenal juga mengatakan hal demikian dan aku meresponnya dengan mata membulat besar tanda keheranan yang sangat. Umur memberikan aku kesempatan untuk belajar melihat segala kemungkinan, sehingga informasi macam demikian tidak lagi memunculkan pertanyaan dibenak; "bagaimana bisa?". Bisa saja.

Maka malam itu kita menyempatkan waktu yang menyempil. Mendendangkan suara kota dari sudut yang berbeda, untukmu, yang memberikan pengalaman baru. Untukmu.

Senyummu cukup sumringah kala aku menjelaskan soal ini-itunya naik KRL Commuterline. Menceritakan hal-hal apa yang menarik, sekaligus tidak, ketika berada di gerbong pada jam sibuk. Mungkin buatmu itu cerita yang menggugah, namun bagi yang mengalaminya tiap hari tentu pengalaman yang "meh", bisa jadi memuakan. Tetapi kepadamu, aku ceritakan sebagai keindahan, yang bikin nyeri.

Turunlah kita di stasiun Pasar Minggu. Aku ajak kamu kembali ke area Cikini dengan naik Metromini. 604 jurusan Tenabang. Ada satu, ngetem 30 menit, dan aku menjelaskan padamu apa itu konsep ngetem.

Di dalam Metromini, aku mendongengkanmu soal copet, eksibisionis, bangku yang tiba-tiba patah, penumpang yang hendak turun terjerembab karena supir yang langsung tancap gas, lantai Metromini yang berlubang, sehingga dikala hujan, penumpang mesti rela mendapatkan bonus muncratan air.

Aku ceritakan kau soal supir Batak, kenek Jawa. Supir yang tak peduli penumpang belum menjejakan kaki turun, langsung tancap gas. Si kenek masih terlihat sungkan untuk mengingatkan, hingga suatu ketika, seorang penumpang, ibu tua, nyaris celaka karena kelakuan si supir. Si kenek tak tahan lagi dan berkata;

"Sabar dikit bang, itu tadi anggur merah* hampir tumpah", protes si kenek.

Tak keluar sepatah kata dari si supir, tapi Kopaja berhenti mendadak. Ya mendadak, begitu saja. Persetan parade klakson kendaraan di belakangnya.

Sembari membalik badan, menatap tajam si kenek, dan Sang Supir bersabda;

"Apa kau Jawa?! Berani-berani kau perintah aku?! Ini Kopaja aku yang punya! Kau kenek. Ku tendang kau balik ke Jawa sana!".

Si kenek tertunduk. Diam. Sedikit bergumam. Aku ada tepat disebelah si kenek, entah kenapa hampir tertawa ngakak melihat itu semua. Aku, setengah Jawa.

Tibalah kita di Bundaran HI. Aku sempat tertidur lelap. Kau bertanya; bagaimana bisa? Aku menjawab;

"Suara maha bising kaleng rombeng itu, telah menjelma menjadi aubade berangkat kerja dan simfoni dikala pulang. Kami merekam, mengolah, dan menjadikannya teman. Kadang teman yang menyebalkan, tetapi tidak pernah terlupakan. Ia teman berbincang kami dalam menembus belantara macet, bersenandung tentang mimpi yang hanya kami berdua yang tahu. Tidak teman, istri, orangtua, rekan kerja, bahkan jangan-jangan tuhan, akan pernah tahu mimpi itu. Tukang tagih kartu kredit yang malah mungkin tahu".

Jakarta hujan deras sedari siang hingga sore ini. Barisan kendaraan dijalan, tak gerak, merayap gelisah. Sedari tadi aku saksikan dari teras stasiun kereta. Teringat cerita ini. Aku tak ingin menceritakannya sebagai masa lalu.

Kamu apa kabar?

*anggur merah: istilah untuk orang tua. Berasal dari anggur merah cap Orang Tua.