Aksi dan Banjir Hari ini

Pagi ini, saya terbangun karena suara air hujan yang menghujam plafon kamar saya. Sepertinya genteng yang senantiasa melindungi rumah saya dari air hujan tak kuasa menahan derasnya sehingga membuat genteng rumah saya bergeser alias kamar saya bocor. Derasnya air hujan yang telah mengguyur Ibukota dan kota-kota sekitarnya telah menyebabkan banjir. Tapi banjir juga terjadi karena kurang mampunya tanah menyerap volume air yang begitu besar. Atau mungkin, ini kemungkinan loh, Tuhan menurunkan airnya begitu deras sehingga menyebabkan banjir untuk memberikan istirahat kepada makhluk ciptaannya yang telah berubah menjadi makhluk ekonomi yang selalu menggerakkan roda ekonomi tanpa pernah menggerakkan roda ibadahnya.

Tapi bukan banjir yang mengganggu saya sehingga tulisan ini dibuat. Tapi perilaku manusia itu sendiri. Bukan dalam lingkup peribadahan atau semacamnya. Tapi dalam lingkup politik yang sedang panas-panasnya di negara saya ini. Saat saya melihat salah satu media sosial saya, banyak dipenuhi oleh berita tentang aksi 212 (bukan muridnya sinto gendheng) jilid II yang akan digelar pada hari ini. Aksi tersebut bertempat di gedung DPR/MPR dengan tuntutan terpenuhinya hak angket kepada Presiden Jokowi untuk memberhentikan Gubernur DKI Jakarta yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Saya melihat banyak yang nyinyir atau mendukung penuh aksi tersebut di media sosial. Ya saya selalu melihat pergumulan berbagai pendapat di media sosial terkait suatu hal. Sekarang ya tentang aksi 212 jilid II.

Terlepas dengan pendapat saya tentang aksi tersebut maupun isi dari aksi dengan berbagai tuntutannya, saya hanya bisa mengingatkan saja. Ada banyak hal yang terjadi di negara kita saat ini yang justru menurut saya harus kita cermati lebih dalam. Yang paling gampang adalah apa yang sedang melanda daerah ibukota maupun daerah sekitarnya. Ya banjir. Alangkah baiknya daripada menimbulkan suu’dzon dari banyak orang dengan melakukan aksi 212, mengapa anda tidak membantu para korban banjir. Anda dapat turun langsung ke daerah-daerah banjir dan membantu kawan-kawan kita yang terkena banjir tersebut. Saya rasa justru kebaikan yang akan anda dapat bahkan bisa menghilangkan sifat suu’dzon. Saya yakin air yang membasahi anda saat membantu orang-orang yang terkena banjir lebih indah rasanya dibandingkan dengan air yang anda dapat saat melakukan aksi 212. Walaupun air tersebut tetap air hujan.

Atau jika anda berada dalam ranah pikiran ruwet ngejelimet seperti saya, alihkan saja aksi tersebut dengan mendoakan pemerintah kita yang sedang memperjuangkan hak-haknya di tanah Papua sana melawan Freeport. Pandangan masyarakat apalagi pemerintah akan lebih indah daripada anda melakukan aksi-aksi yang saya lihat lebih kental muatan politisnya. Dukungan anda terhadap pemerintah memang juga bermuatan politis. Namun menurut saya muatan politis tersebut lebih positif dibandingkan dengan tujuan aksi 212 tersebut.

Tapi kalau anda lebih mempercayai bahwa aksi 212 lebih baik dan mulia dibandingkan dengan apa yang saya anjurkan, itu terserah anda. Saya percaya setiap manusia dapat melihat prioritas apa saja yang harus ia lakukan untuk jam,menit, maupun detik yang akan datang. Atau saya yang mungkin delusional atas pendapat saya terkait aksi tersebut. You’ll be the judge.

-DK

Like what you read? Give Dimas Fauzi Hidayat a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.