Teori Kritis : Awal Mula dan Kemunculannya

Dimas Putra Permadi — Kajian Media 1506736070

Dalam era demokrasi di depan mata seperti ini, perbedaan pendapat seringkali terjadi dan tak dapat dihindari. Hal ini seringkali menimbulkan konflik yang berawal dari adanya usaha untuk menegasikan pendapat pihak lain. Dalam ranah akademis hal ini dikenal dengan istilah thesis dan anti-thesis. Anti-thesis inilah yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai kritik.

Dalam perjalanannya, teori kritis ini berusaha dirumuskan oleh beberapa ahli teori Jerman yang tergabung dalam lembaga Institut fur Soziaflorschung tahun 1923. Lembaga riset ini didirikan oleh Felix Weil bersama direktur utamanya Carl Grunberg. Teori kritis awalnya berujuan untuk menilai dan mengoreksi teori Marxian dan membongkar teori yang
dikembangkan oleh Marxian melalui pengetahuan kritis. Pada tahun 1931, teori kritis mengalami perkembangan pesat dibawah pimpinan Horkheimer dengan idealismenya bahwa untuk menuju teori kritis dari yang sebelumnya berpedoman pada filsafat, masyarakat harus bersifat praktis, dalam artian lebih luas, mampu membawa perubahan sosial.

Pada tahun 1934, Horkheimer dan kawan-kawan terpaksa bermigrasi ke Universitas Columbia, US, demi melanjutkan produksi teori-teori kritisnya lantaran kondisi pemerintahan Nazi di Jerman yang tidak kondusif. Dalam pengungsiannya ini, Horkheimer dan Adorno menciptakan sebuah karya yang cukup penting pada masa itu, yaitu Dialektik der Aufklrung (Dialektika Pencerahan). Pada tahun 1945 setelah perang Dunia II selesai, Adorno dan
Horkheimer bertolak ke Universitas Frankurt, Jerman. Adorno menggantikan posisi Horkheimer sebagai pemimpin yang dikenal sebagai Mahzab Franfurt, disisi lain Horkeimer dipercaya menjadi rektor Universitas Franfurt.

Dalam kacamatanya, Horkheimer berpendapat bahwa masyarakat modern cenderung mengarah pada positivism. Sedangkan hal ini ditentang oleh Harbert Marcuse, tokoh revolusioner yang dianggap “nabi” bagi kelompok The New Left, yang menganggap masyarakat modern hanya memiliki satu dimensi yaitu kapitalisme dan menyebabkan masyarakat tersebut bertindak pasif dan reseptif. Setelah itu muncul juga Jurgern Habermas yang menjadi penanda kembalinya cendekiawan Amerika. Dia membedakan ilmu pengetahuan menjadi tiga macam yaitu empiris-analitis, historis-hermeneutis dan ilmu tindakan. Solusi yang pada akhirnya ditawarkan oleh Habermas bagi teori kritis adalah bukan menjauhkan manusia dengan modernitas, melainkan memperluas diskusi rasional.

Referensi :
(1) Haryanto, Sindung (2012). Spektrum Teori Sosial: Dari Klasik Hingga Postmodern. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
(2) Budi Hardiman, Fransisco (2004). Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen
Habermas. Jogjakarta: Buku Baik
(3) Magniz Suseno, Franz. (2010), Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius: Yogyakarta
(4) Borgatta, Edgar F. And Rhonda J.V. Montgomerry (2000). Encyclopedia of Sociology. Dalam Haryanto, Sindung
(2012). Spektrum Teori Sosial: Dari Klasik Hingga Postmodern. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media