Manusia yang lupa menjadi bahagia

Beri saya waktu beberapa menit dari hidup kalian untuk menyisipkan pertanyaan sepanjang 600 kata ini, diantara banjir distraksi notifikasi, timeline foto-foto narsistik, dan deadline berbagai hal yang mendorong hidup kalian berjalan terlalu cepat.


Mari kita merenungi perjalanan hidup kita.

Kemajuan teknologi membuat manusia bergerak dalam kecepatan yang luar biasa tinggi dibanding belasan tahun silam. Butuh bukti? Sewaktu kecil saya masih menikmati tampilan Yahoo! yang buruk rupa sedang dimuat di browser saya dalam kecepatan yang lambat, tapi saat ini ketika tidak muncul tulisan apapun di browser dalam kurun waktu 6 detik, tombol Ctrl-R akan saya hantam berkali-kali. Teknologi semakin cepat, sumbu kesabaran kita memendek, semua dihitung menggunakan detik, bahkan lebih cepat lagi. Mungkin ini adalah harga yang harus dibayar ketika dunia kita saling terkait dan terbelit dalam koneksi yang erat, tanpa batasan ruang dan waktu.

Kebutuhan ini mendorong masyarakat bergerak maju dengan melihat hanya ke depan, dan semakin lupa untuk melihat ke sekitar. Hal ini pula yang menginspirasi Jessica Walsh dan Timothy Goodman, dua warga New York biasa, untuk bereksperimen setahun penuh mengasah kepekaan mereka yang tergerus “kejamnya” kota melalui jurnal “12 Kinds of Kindness”.

Manusia tidak diciptakan untuk bergerak tanpa alasan, karena berkah berupa gumpalan lunak bernama otak di tengkorak kita mampu untuk mencerna lebih dari sekedar perintah. Manusia tercipta bukan seperti komputer yang siap mengeksekusi program-program dingin. Manusia terlalu “mahal” untuk berjalan sebagai eksekutor, karena manusia diciptakan dengan program bawaan bernama self-awareness. Sebuah kemampuan untuk merenungi dirinya dan makna dari hidupnya sendiri, yang terpasang eksklusif pada manusia.

Namun, manusia zaman modern telah berevolusi menjadi makhluk yang lupa bahwa ia adalah manusia. Yang berkembang menjadi generasi apatis. Yang hanya bergerak untuk bertahan hidup setiap harinya atau bergerak hanya demi kesenangan semu. For sustenance or for self-enjoyment. Sangat egosentris. Apa yang terjadi?

Katanya, mereka mengejar “kebahagiaan”.


Semakin sering saya mengunjungi toko buku, semakin saya merasa heran. Bertumpuk-tumpuk buku self help dan motivasi bahagia tampaknya menggandakan dirinya setiap bulan. Semakin sesak dan semakin variatif. Bukankah ini adalah hal yang aneh, kebahagiaan semestinya adalah kemampuan inheren seorang manusia, namun kita seakan berubah menjadi makhluk paling bodoh untuk urusan kebahagiaan.

“Tersenyumlah! Buat dirimu disukai orang lain! Berpikirlah positif! Dan kamu akan menemukan kebahagiaan!”

Saran-saran itu … terdengar seperti teriakan sumbang tukang jual obat ajaib di pasar. Artifisial sekali. Sangat ajaib, ketika teknologi semakin maju, masyarakat semakin lupa menjadi bahagia. Ternyata kebahagiaan tidak bisa dipenuhi hanya dengan benda-benda fisik, atau dengan jempol digital di timeline kita. Kebahagiaan ternyata hal yang sangat transenden.

tran·scend·ent (tran(t)ˈsend(ə)nt/) : adjective
 -
beyond or above the range of normal or merely physical human experience.

Maka pada akhirnya saya sampai pada satu titik kebingungan : Apa yang salah sebenarnya? Apakah manusia yang telah berubah menjadi makhluk yang menyedihkan? Atau konstruksi kebahagiaan kita yang telah ditopang oleh hal yang rapuh?

Jangan-jangan model “kebahagiaan” yang kita adopsi adalah produk cerminan sosial yang mendefinisikan bagaimana seseorang yang “bahagia” itu seharusnya hidup, apa yang harus ia pakai, apa yang harus ia makan, dan dimana ia harus bekerja. Model yang difabrikasi secara industrial, yang penuh pewarna dan pemanis buatan, dan dijajakan melalui televisi, majalah, media maya, atau menular dari mulut ke mulut. Dari bisikan miring seorang tetangga. Dari komentar orang tua terhadap pilihan hidup anaknya. Dari pembandingan diri teman sepantar. Dari tuntutan orang-orang sekitar.

Sepertinya ini saatnya kita menggunakan fitur kesadaran diri kita untuk menelaah “kebahagiaan” yang selama ini senantiasa kita kejar. Kita butuh sebuah kerangka pikir yang menghancurkan tempurung egosentris kita dan mulai berjalan mencari makna kebahagiaan yang hakiki. Bukan kebahagiaan yang disumpali oleh berbagai hal-hal kebendaan, bukan kebahagiaan yang terpusat-diri, namun hal yang jauh lebih mendasar sebagai seorang manusia.


Nampaknya kita perlu menyingkir dari kehirukpikukan dunia sejenak, melepaskan invisible force yang memaksa kita melakukan apapun di hadapan kita secara membabi buta, dan berpikir secara mendalam :

“Kenapa saya hidup? Apa yang saya cari?”

Mungkin ini momen yang tepat untuk merekonstruksi secara kritis arti dari kebahagiaan dan hidup kita. Terima kasih telah bersedia menekan tombol pause hidup kalian. Mari kita lanjutkan hidup kita yang berjalan terlalu cepat ini.

Hati-hati di jalan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dimas Dwi Adiguna’s story.