Sebuah ilusi bernama ‘besok’

dan mengapa itulah yang membedakan manusia dengan hewan


“Besok gue kirim deh ya”
“Duh, besok-besok aja ya, sekarang lagi capek banget”
“Besok aja lah ngerjainnya…”

Besok. Sebuah kata yang berusaha mewakili waktu yang akan datang kurang lebih 24 jam dari sekarang, atau minimal ketika lewat fase manusia memejamkan mata. Makanya kadang saya suka berkelakar, kalau malam ini saya begadang, maka besok adalah saat ketika saya tertidur ☺. Betapa biasanya kata “besok” ini disebut, sampai kita mati rasa bahwa besok adalah konsep yang sangat abstrak. Besok itu ilusi.


Semua berawal dari pikiran

Manusia terlahir untuk belajar dari pengalaman, dengan mengobservasi lingkungan. Ketika kita belajar menggunakan jari-jemari sewaktu bayi, kita belajar bahwa dengan jari itulah sebuah balok bisa kita angkat dan lemparkan. Dari kejadian itu pula kita melihat mengapa balok selalu jatuh kebawah. Berbagai mainan lain yang kita lemparkan selalu berlaku sama sewaktu dilepaskan dari genggaman bayi kita : jatuh menuju permukaan bumi. “Ada satu hal yang konsisten terjadi disini…”, begitu mungkin pikiran bayi kita dalam bahasa dewasa. Konsistensi memberikan kita celah untuk menebak dan memprediksi, lalu berusaha mengantisipasi. Semua benda selalu jatuh kebawah, disitulah kita belajar fenomena jatuh, yang kemudian kaum fisikawan berusaha mengantisipasinya secara matematis melalui konsep gravitasi.

Dari peristiwa sederhana tadi, terlihat bahwa manusia selalu tertarik mengikuti pola. Pola ini sangat bermanfaat dicari oleh otak supaya mudah dikenali dan diabaikan. Manusia, terutama otaknya, sudah diatur untuk menjadi pemalas, berusaha mencari jalan pintas. Bukan tanpa sebab, otak manusia yang berjalan dengan voltase sangat rendah ini harus mampu mengefisienkan sumber dayanya sebisa mungkin. Otak harus mampu memilah mana urusan yang benar-benar perlu dipikirkan dan mana yang bisa diurus secara lebih ringkas. Bagaimana caranya kita memilah dan memilih hal penting dan tidak penting? Jawabannya sederhana : pola. Ketika suatu peristiwa terasa tidak membahayakan nyawa dan otak sudah mampu merekam pola dari peristiwa tersebut, maka otak akan mengurangi porsi energi untuk mengolahnya di benak dan mulai mengolah informasi lain yang lebih penting. Contoh paling mudahnya adalah ketika kita mengemudi.

Cobalah mengingat-ingat rute perjalanan yang paling sering kalian lewati, entah itu perjalanan dari rumah ke sekolah, kampus, kantor, pusat perawatan tubuh, apapun. Ceritakanlah ke mana arah jalur dan belokan yang harus kalian lalui untuk mencapai tujuan tersebut. Mudah, kan? Sekarang, pertanyaannya akan saya ganti : Cobalah mengingat 10 hal baru yang kalian temui di perjalanan dibanding hari kemarin. Apakah ada poster yang baru dipasang, rumah yang baru dicat, plang baru di jalan, dan sebagainya, yang penting harus 10 hal. Terlalu sulit? Oke, saya permudah : Temukan 5 saja hal baru yang kalian temui dibanding minggu lalu. Apakah ada toko baru yang minggu lalu tidak kalian ketahui, tawaran spesial dari restoran favorit kalian, dan lainnya. Saya yakin sebagian besar dari kita akan kesulitan, karena otak kita selalu dengan cerdasnya berfokus pada hal-hal genting-penting (seperti dimana kita harus berbelok, posisi dan keseimbangan kendaraan, rambu lalu lintas, lampu merah) yang selalu variatif setiap saat, sembari berusaha mengabaikan hal-hal tidak penting (warna cat rumah, poster baru, toko baru) yang kita anggap selalu sama setiap hari. Itulah juga yang menjelaskan kenapa kita selalu melamun ketika menghadapi kemonotonan : otak berusaha mengabaikan hal-hal yang konstan.

Keputusan penting atau tidaknya suatu peristiwa didapat dari seberapa sering terulangkah peristiwa itu terjadi? Jika sering terjadi, maka (otak) saya anggap itu tidak penting untuk diperhatikan lagi. Jika jarang terjadi, maka (otak) saya harus belajar banyak dari ini dan menjadi hal yang penting.

Ya, itulah yang kita sebut sebagai pola. Manusia cenderung mengabaikan peristiwa jika peristiwa tersebut bisa diprediksi karena sering terjadi, alias memiliki pola. Apel jatuh dari pohon tidak akan dianggap aneh karena memang polanya. Matahari timbul tenggelam tidak dianggap aneh karena memang polanya. Manusia tidur untuk bangun kembali tidak dianggap aneh karena memang polanya. Dan kebiasaan otak inilah yang menjadi tunas kenapa “besok” bukanlah hal yang aneh.


“Besok” lahir dari imajinasi

Besok berusaha mewakili suatu untaian peristiwa 24 jam dari sekarang. Bangunan dirubuhkan besok, mengisyaratkan bahwa ketika matahari terbit lagi, bangunan tersebut akan diratakan menjadi puing-puing. Saat ini bangunannya masih utuh, tapi kita mampu berpikir menembus waktu sekarang menuju kabut bernama masa depan, membayangkan bahwa 24 jam lagi bangunan itu akan tiada.

Besok saya akan mengerjakannya, mengisyaratkan bahwa ketika saya mampu membuka mata kembali setelah tidur, saya akan segera mengerjakan tugas tersebut. Saat ini saya belum tidur, tugas pun belum tersentuh, tapi saya bisa membayangkan di benak saya bahwa 24 jam dari sekarang tugas itu akan segera rampung.

Kalau dipikirkan lagi dalam-dalam, ini adalah hal yang aneh. Membayangkan sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi. Saya membayangkan terjadinya kedua peristiwa itu bukan dari pola, tapi murni konstruksi imajinasi saya sendiri. Bangunan itu tidak pernah rubuh sebelumnya. Tugas itu juga belum pernah saya selesaikan sebelumnya. Tapi saya bisa membayangkan pada masa depan bahwa kedua peristiwa itu akan terjadi. Imajinasi, untuk kemudian kita manfaatkan sebagai bahan baku perencanaan, adalah berkah yang hanya diberikan kepada manusia, makhluk yang memang memiliki tugas khusus menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah yang bertugas merawat dan menjaga, tentu akan sangat membutuhkan perencanaan.

Kemampuan berencana hanya diberikan kepada manusia, dan tidak kepada hewan, karena “perangkat keras” untuk melakukannya eksklusif terletak 3 cm di belakang tulang dahi seorang manusia. Itulah lobus prefrontalis, bagian otak yang bertugas untuk berencana, yang hadir hanya di tempurung tengkorak manusia dan tidak di hewan. Di bagian inilah konsep bercita-cita muncul, imajinasi, membayangkan masa datang dan berusaha meraihnya. Di sisi lain, hewan tidak mampu membayangkan masa datang, mereka hanya memprediksi menggunakan insting mereka untuk mengendus pola peristiwa : “Oh musim panas, saatnya menimbun makanan untuk musim dingin seperti biasanya”, dan bukan memahami masa depan : “Oh musim panas, sepertinya saya akan menimbun lebih banyak dari biasanya saja, sebagian saya nikmati ketika tua, sebagian saya wariskan pada anak.” . Membayangkan masa datang (pada manusia) dan memprediksi pola peristiwa masa datang (pada hewan) adalah dua hal yang berbeda.

Pada lobus prefrontalis manusialah kita memahami konsep masa datang, masa yang sangat penuh kabut dan tidak pasti, bahkan belum pernah kita alami sebelumnya. Disitulah konsep abstrak ini terasa mungkin diraih…

Otak manusia terbiasa mengabaikan hal yang biasa terjadi. Otak manusia juga memiliki kemampuan untuk mengerti konsep masa datang. Kedua hal ini bereaksi menghasilkan ilusi bernama “besok” yang terasa sangat nyata.

Kemungkinan dari sebuah besok

Sebenarnya inti dari racauan saya adalah dua kalimat ini : Konsep besok menjadi biasa, karena kita terbiasa selalu menghadapi besok. Padahal besok masih memiliki kemungkinan untuk tidak terjadi. Selama 21 tahun hidup saya, patut disyukuri bahwa (Allah berkehendak) saya tidak pernah gagal menemui besok. Peluang yang saya miliki untuk gagal menemui besok adalah 1:7665 atau sekitar 0,013% saya akan gagal menemui besok. Kecil kemungkinannya secara probabilistik. “Kemarin saya bisa menemui hari ini, minggu lalu saya bisa menemui besok, lalu mengapa hari ini saya harus ragu menemui besok?”. 7665 kali berturut-turut tidak ada kegagalan dalam menemui hari esok. Bayangkan 7665 kali melempar koin, 7665 kali pula memunculkan sisi yang sama, apa yang menghentikan kita mendapatkan sisi yang sama lagi pada lemparan ke 7666?

Besok sangat tidak pasti, tapi kita percaya bahwa besok selalu ada. Besok adalah ilusi, ketiadaan yang kita yakini ada. Besok adalah ilusi yang selalu menipu…

Secara tidak sadar pola pikir inilah yang menjangkit di otak kita, besok yang tadinya merupakan suatu konsep abstrak dan penuh ketidakpastian tiba-tiba menjadi sangat kongkrit senyata akar dari sebuah pohon. Besok, yang sebenarnya masihlah 50-50 (saya bisa menemui besok atau saya tidak bisa menemui besok) terasa selalu 100% karena sangat berlimpah. Keberlimpahan kesempatan kita menemui “besok” ini membuat kita mati rasa akan kemungkinan bahwa selalu ada celah kita untuk gagal menemui besok. Hal ini diisyaratkan dengan sebuah do’a yang selalu dianjurkan untuk dibaca setiap kali kita terbangun dari tidur :

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit

Sebuah do’a sederhana yang selalu terlupa, yang mengandung sebuah makna dalam : Allah telah memberikanmu satu kesempatan lagi untuk menemui besok. Dan bagaikan permainan russian roulette yang menyimpan sebutir peluru untuk meletus, setiap hari justru kemungkinan kita untuk berkelit dari peluru itu semakin menipis, dan menipis. Besok, setiap harinya, semakin tidak pasti untuk kita temui.

Pertanyaannya kemudian bukan kapan peluru itu meletus, bukan pada “besok yang keberapa”, tapi seberapa siap kita ketika besok itu benar-benar tidak ada?


*) Sebagian besar kerangka pikir mengenai cara manusia berencana dan membayangkan masa depan didasari dari buku karya Daniel Gilbert, Stumbling on Happiness. Kalian nggak akan menyesal membacanya ☺