Jojo Seksi, Hamil Online, dan Pelajaran Ariana Grande soal Ekspresi Seksualitas.

Dimas Wahyudi
Sep 3, 2018 · 5 min read
Selebrasi buka baju Jojo yang membuka diskursus soal pelecehan seksual.

Satu hal dari sederet momen epik yang tersaji sepanjang gelaran Asian Games yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas adalah bukan soal keberhasilan Jojo menyabet medali emas! Tapi soal selebrasi buka bajunya dong hehehe~

Jagat dunia maya langsung banjir dengan berbagai komen netizen unisex (saya sebut begitu karena memang unisex) dari soal “Rahimku anget mas!”, “Hamil online aku bang!”, sampai yang menurut saya paling radikal “Bec*k nih bang!” dan sejenisnya, ada yang menganggapnya hal yang biasa-biasa saja tapi ada pula yang beranggapan “Oh, cewek juga bisa melakukan pelecehan seksual ya” dengan menyodorkan berbagai dalil feminisme.

Apakah komentar perempuan soal ‘seksi’nya laki-laki juga merupakan bentuk pelecehan seksual selayaknya yang dilakukan laki-laki kepada perempuan?

Memahami soal pelecehan seksual harus dibuka melalui konsep ketidaksetimbangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan, Kilmartin (2001) dalam bukunya Sexual Assault in Context: Teaching College Men about Gender dengan gamblang menjelaskan bahwa pelecehan seksual terjadi atas rencana dan pelaku yang sadar betul bahwa dirinya memiliki kuasa, kesempatan, dan pembacaan situasi korbannya, singkatnya pelecehan seksual dilakukan oleh pihak yang punya kuasa atau kapasitas lebih besar untuk memaksakan kehendak bila ia mendapat penolakan dari target. Sebagai ilustrasi, seorang karyawan terpaksa diam menerima berbagai perlakuan dan perkataan keji yang melecehkan lantaran Si Bos mengancam akan memecatnya bila melawan, ada unsur kuasa, kesempatan, pembacaan situasi korban, dan paksaan di dalamnya.

Ketimpangan relasi kuasa juga dapat dielaborasi dengan perspektif Rape Culture (Budaya Pemerkosaan) yang dijelaskan Cobos (2014) dalam “Rape Culture” Language and the News Media: Contested versus Non-contested Cases dimana perempuan selalu dalam posisi objek seksual dan membenarkan agresi maupun kekerasan terhadap perempuan, perilaku kekerasan dianggap bukan murni motif dari pelaku namun juga adanya dukungan ekstenal termasuk korban sendiri yang dapat ‘memancing’ kejadian yang menimpanya, menempatkan perempuan sebagai objek seksual yang dapat diperkosa.

Gambar promosi Lisa dalam mini album Blackpink “Square Up”.

Objektifikasi inilah yang kemudian memancing perdebatan, beberapa orang di jagat maya menyamakan kasus Jojo dengan komentar salah satu rapper Young… -sebut saja YL lah yaa- soal Lisa Blackpink sebagai bahan masturbasinya, menurut saya pribadi kedua kasus tersebut memang serupa tapi tak sama, membandingkan kasus Jojo dan Lisa menurut saya bukan perbandingan apple to apple, objektifikasi perempuan punya keterkaitan yang erat dengan budaya pemerkosaan, perempuan dan segala atribut keperempuanan yang dimilikinya (fisik maupun psikis) memposisikan perempuan dalam level inferior, pasif, dan diwajarkan bila perempuan mengalami pemerkosaan, maka dalam perspektif budaya pemerkosaan ini, komentar YL soal foto Lisa yang jadi bahan masturbasinya adalah tindakan objektifikasi perempuan sebagai penyalur hasrat seksualnya, sedangkan pada kasus warganet terhadap Jojo, saya lebih memilih menggunakan istilah ‘ekspresi’ kekaguman dan kesenangan.

Saya harus katakan bahwa kesetimbangan relasi kuasa tidak bisa menjadi satu-satunya pisau analisis dalam kasus YL, terlebih bila menggunakan relasi kuasa sosial ala Fitzgerald karena jelas Lisa punya relasi kuasa sosial yang lebih besar sebagai member girlband Korea paling berpengaruh era ini (say bye to SM and JYP ehehe #teamYG), memang ada daya untuk menolak komentar tak senonoh YL, tapi bila memakai perspektif budaya pemerkosaan, maka jelas tindakannya adalah bentuk pelecehan karena Lisa (atau perbincangan tentang Lisa) ada dalam masyarakat kita yang punya budaya pemerkosaan, komentarnya punya daya opresi bahkan potensi provokasi.

Hal ini tidak berlaku pada perempuan, sebagai perempuan dan segala atribut keperempuanannya, mereka tidak memiliki daya opresi bahkan potensi apapun pada Jojo, selayaknya fangirl Minho Shinee, Taeyang Bigbang, Sehun EXO, atau Jimin BTS yang kerap kali tampil shirtless saat manggung, hanya ada kesenangan bukan hasrat seksual yang sifatnya opresif, sekali lagi ekspresi seksualitas perempuan sama sekali berbeda dengan pengalaman pelecehan yang dilakukan laki-laki.

Standar Ganda Feminisme?

Saya tidak mengatakan bahwa pelecehan seksual hanya ada pada relasi laki-laki kepada perempuan, tidak hanya pelecehan seksual bahkan kasus pemerkosaan perempuan terhadap laki-laki nyatanya juga terjadi, kembali lagi, bila kita berusaha memahami kasus pelecehan seksual atau bahkan pemerkosaan, baik dilakukan oleh laki-laki ataupun perempuan, maka relasi kuasalah yang harus ditinjau mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Mengatakan objektifikasi perempuan tidak sama dengan objektifikasi laki-laki bukan bermaksud untuk membentuk standar ganda dan menodai spirit feminisme itu sendiri, spirit feminisme bukan ‘anti laki-laki’ atau berusaha selalu membenarkan apapun posisi perempuan, namun menutupi kenyataan empiris tentang apa yang sebenarnya dimaksudkan perempuan dalam ‘ekspresi seksualitas’ dan menyamakannya dengan perilaku pelecehan yang dilakukan laki-laki juga bukan hal yang bijak, justru perilaku seperti inilah yang menodai perjuangan feminisme dalam kesetaraan dan menghilangkan perlakuan pengkerdilan terhadap perempuan dari masa ke masa.

Ekspresi Seksual

Soal ‘ekspresi seksualitas’ perempuan, saya sependapat dengan apa yang dilakukan salah satu bintang pop solois wanita Amerika, Ariana Grande yang dengan gamblangnya tidak hanya mempromosikan ‘kesetaraan gender’ namun lebih jauh hingga menyentuh pada equality in bed dalam single terbarunya bertajuk God is Woman.

Yang akan coba kita bahas kali ini bukan tentang apakah Tuhan itu perempuan seperti yang dikatakan Ariana karena spirit lagu tersebut memang bukan soal itu namun tentang kebolehan perempuan mengekspresikan seksualitasnya yang seharusnya tak tabu lagi di era saat ini khususnya setidaknya pada budaya barat, namun konstruksi masyarakat yang selama ini berkembang hanya mengakomodasi identifikasi (laki-laki maupun perempuan) antara -virgin or whore- yang terus menerus memberi perlakuan shaming bagi perempuan dalam membicarakan tema-tema seksual, karena sekali lagi, dalam budaya pemerkosaan selama ratusan tahun perempuanlah objek seksual yang wajar dieksploitasi laki-laki.

You love it how I move you

You love it how I touch you

My one, when all is said and done’

You’ll believe God is Woman

Kutipan dari Gloria Steinem yang pernah ia cantumkan dalam salah satu unggahan media sosialnya di tahun 2015 lalu agaknya relevan dengan fenomena ini “Any woman who chooses to behave like a full human being should be warned that the armies of the status quo will treat her as something of a dirty joke…”

Layaknya ilmu-ilmu sosial lain, feminisme lahir dan memang harus berkembang melalui serangkaian diskursus dan kompleksitas dinamika dengan berbagai alternatif pandangan yang beragam. Sebagai simpulan, sejauh pemahaman saya yang sangat minim ini, komentar-komentar perempuan bernada sensual pada selebrasi buka baju ala Jojo adalah hal yang sepenuhnya wajar dan tak perlu ada kecemasan soal terjerumusnya dalam perilaku harassment, dan sebagai penutup bagi anda pembaca yang masih menganggap komentar ‘rahim anget’ dan sejenisnya sebagai perilaku harassment bagi laki-laki ataupun tidak, Simoen de Beauvoir (salah satu tokoh pelopor gelombang feminisme ke-dua) dalam bukunya The Second Sex mengatakan “no one is more arrogant toward women, more aggressive or scornful, than the man who is anxious about his virility”.

    Dimas Wahyudi

    Written by

    a.k.a. Moentatoz. Living life to the fullest..

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade