Entah, Masih Adakah Kesetiaan?

http://beatmag.com/bali/scoop/world-aids-day-celebration-2.html
Tulisan ini dibuat bukan karena aku sedang mengalami patah hati. Bukan juga karena aku tengah mengalami perselingkuhan.
Tulisan ini dibuat dalam rangka peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu.

Selama ini, rasanya telah menjadi stereotip di masyarakat bahwa pengguna narkoba suntik (penasun) dan Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah orang-orang yang paling banyak terkena HIV/AIDS. Masyarakat mungkin menganggap mereka “pantas-pantas saja” terjangkit HIV/AIDS karena buah perbuatan mereka sendiri. Penggunaan jarum suntik secara bergantian bersama para pecandu atau seringnya berganti pasangan memang jelas-jelas akan berisiko tinggi untuk tertular HIV/AIDS.

Namun, ada sebuah fakta yang sangat mengejutkan bahwa ternyata di Indonesia, orang yang paling banyak terkena HIV/AIDS justru adalah ibu-ibu rumah tangga.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, dari banyaknya orang yang terkena HIV/AIDS di Indonesia, ibu rumah tangga menempati peringkat teratas. Jumlahnya mencapai 6539 kasus di tahun 2014. Jumlah ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan PSK maupun pekerja di sektor lainnya.(http://pkbi.or.id/pkbi-penularan-hivaids-terbesar-di-indonesia-ternyata-di-dalam-rumah/)

Fakta tersebut telah meruntuhkan stereotip di masyarakat selama ini, yang menganggap bahwa orang yang bekerja di luar rumahlah yang akan paling banyak terkena HIV/AIDS.

Ya, memang harus diakui bahwa penularan HIV/AIDS di Indonesia akhir-akhir ini telah bergeser dari kelompok rentan ke kelompok risiko rendah, khususnya ibu rumah tangga. Pemicunya tentu dari orang terdekat yang perilakunya berisiko tinggi, yakni para suami.

Jika sang suami berperilaku seks berisiko, seperti suka membeli jasa pekerja seks komersial atau merupakan pengguna narkoba suntik, maka para istri juga akan ikut menanggung akibatnya.

Laki-laki seperti inilah yang disebut oleh Nafsiah Mboi ―Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II― sebagai ‘Laki-laki 4M’. Mobile Men with Money in Macho environments atau laki-laki yang memiliki mobilitas tinggi, memiliki uang, dan berada dalam lingkungan maskulin. (http://matanajwa.metrotvnews.com/play/2015/12/05/457565/nafsiah-mboi-dalam-hiv-aids-yang-jadi-masalah-itu-laki-)

Lalu, dibandingkan dengan PSK, ibu rumah tangga dianggap lebih rentan terhadap penularan HIV/AIDS karena minimnya “perlindungan”. Hal ini mungkin dapat dilihat dari rendahnya bargaining power untuk meminta informasi tentang status kesehatan pasangan seksualnya.

Dan yang lebih memprihatinkan, ibu-ibu yang tertular HIV/AIDS oleh suaminya sendiri masih berisiko untuk menularkan kembali pada anak-anak kandungnya. Ini terjadi karena adanya warisan gen berisiko HIV dari ibu kepada anaknya. Akibatnya, ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak yang tidak pernah membeli seks maupun menggunakan narkoba suntik juga ikut menanggung ‘getah’nya.

Ironis bukan?


Hal itulah yang membuat aku bertanya-tanya, “Masih adakah kesetiaan?”

Kini, HIV/AIDS tidak hanya menyebar di lokasi prostitusi saja, tetapi juga di dalam rumah. Mungkin menjadi fakta pahit bahwa ibu rumah tangga yang pekerjaan sehari-harinya merawat anak ternyata malah mengidap penyakit mematikan.

Dan kalau sudah begini, entahlah, siapa yang harus dipersalahkan?


Terlepas dari itu semua, tulisan ini mungkin terasa gender biased. Seolah-olah, aku memojokkan para laki-laki dan membela kaumku. Sejujurnya, bukan maksudku demikian. Aku hanya ingin, siapapun yang membaca tulisan ini menyadari, bahwa sebuah hubungan memang memerlukan kesetiaan.

Dan aku sendiri pun percaya bahwa kesetiaan itu masih ada. Ya, masih ada.

Dina Oktavia
Bagian Utara Jakarta, [365/365] 2015

Referensi:

Bisri, Musthofa. 2015. Ratusan Hijaber Terinfeksi HIV/AIDS, Ini Penyebabnya. http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/08/058672908/ratusan-hijaber-terinfeksi-hiv-aids-ini-penyebabnya diakses 31 Desember 2015

Emrald, Ichsan. 2015. Ironis, Ibu Rumah Tangga Kelompok Penderita HIV/AIDS Tertinggi Di Indonesia. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/01/15/ni7xhn-ironis-ibu-rumah-tangga-kelompok-penderita-hivaids-tertinggi-di-indonesia diakses 31 Desember 2015

Galuh, Johanes. 2015. Ibu Rumah Tangga Tertinggi HIV/AIDS. http://print.kompas.com/baca/2015/03/14/ibu-rumah-tangga-tertinggi-hiv-aids diakses 31 Desember 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dina Oktavia’s story.