Matematika, Seni, dan Marvel
Kenapa ya, ketika punya hubungan dengan seseorang kita cenderung mengikuti apa yang dia suka.
Contoh pertama, Shandi. Shandi suka dan jago banget matematika. Zaman SMP dulu nilai matematikanya hampir selalu sempurna. Sementara, aku sangat pas-pasan. Bahkan pas UAS matematika, aku pernah minta semua jawaban dia dari nomor 1–40. Tapi, dari situ aku jadi malu dan berpikir buat menyukai matematika. Hampir tiap hari aku latihan, dan lama kelamaan mulai suka buat otak-atik rumus. Ternyata nilai UN matematika aku pun nyaris sempurna. Shandi juga bikin aku suka banget sama film Harry Potter. Kita yang waktu itu masih bocah, bela-belain nonton ke bioskop sepulang sekolah. Setelah itu, kita pun bahas dengan penuh excited.
Kedua, Dwi. Dwi ini penyuka seni tingkat tinggi, terutama lukisan dan musik. Dia pernah ajak aku ke galeri-galeri lukisan. Meskipun aku gak ngerti arti dari lukisan-lukisan itu, tapi aku suka melihatnya. Dimana para pelukis menuangkan apa yang ada di pikirannya ke dalam sebuah gambar. Bukan cuma lukisan, Dwi juga memperkenalkan aku pada lagu-lagu Coldplay dan Maroon 5. Sebelumnya aku sangat jarang mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi lama kelamaan aku jadi suka bahkan sampai sekarang.
Terakhir ketiga, Yoga. Yoga penyuka astronomi, katanya dia senang ngeliat tentang bintang, bulan, dan apa aja yang ada di luar angkasa. Yoga pernah ajak aku liat bintang-bintang di suatu bukit. Emang keren sih. Yoga juga seorang Marvel Addict, sebelumnya aku sama sekali gak pernah nonton film-film superhero Marvel. Tapi, karena ajakan Yoga yang wajib banget nonton film-film itu makanya aku ikut, dan ternyata seru juga. Malah aku jadi nunggu film-film selanjutnya.
Tapi, semua ini tuh satu arah gak sih? Kalau menurut aku jawabannya, enggak.
Bukan cuma aku yang ngikutin apa yang disukai mereka, tapi mereka juga ngikutin apa yang aku sukai. Aku penyuka film horor dan thriller. Walau kebanyakan perempuan gak suka genre ini, but that’s my favorite. Aku ajak mereka buat nonton berbagai film horor dan thriller. Meski itu bukan genre yang biasa mereka tonton, tapi mereka coba ikutin. Aku bisa liat ekspresi-ekspresi tegang atau takut kaget yang mereka tunjukkin. Tapi semakin sering diajak, aku rasa mereka juga jadi suka film-film genre itu. Bahkan sampai ngasih rekomendasi film horor atau thriller buat ditonton bareng.
Ya, mungkin adanya hubungan yang terjalin bikin kita berusaha saling menyukai kegemaran masing-masing. Biar semakin dekat, biar semakin erat. Mungkin?
#DR
