Tukang Bigo Naik Haji

sumber: google image

Sepuluh juta download dalam satu semester sejak dirilisnya aplikasi live broadcasting berbasis android dan iOs asal Singapura pada Maret 2016, Bigo Live masuk dalam daftar 18 aplikasi populer tahun ini dikalangan pengguna ponsel pintar yang penggunanya tidak pintar-pintar amat.

‘’BIGO LIVE is a live video streaming social network. Watch broadcasters show their talents and share their interests. Broadcast your life and build your audience!’’.

Begitulah deskripsi yang tertulis di official page Bigo Live.

Talents, interest, life dan audience adalah objek kunci dalam deskripsi, namun ada yang aneh dan nyeleweng dari cita-cita penggunaan Bigo sebagai aplikasi dalam deskripsi oleh penggunanya yang tidak pintar-pintar amat itu. Pengguna yang tidak pintar-pintar amat yang berdomisili di Indonesia, terutama sebagian besar remaja wanita di Indonesia menggunakan Bigo untuk menunjukan talents-nya dalam hal joget diiringi musik dugem atau dangdut dengan dresscode tanktop atau pakaian yang bikin payudara dan paha kelihatan. Entah itu memang benar-benar talents atau memang yang seperti itu adalah talents yang paling mudah untuk dikembangkan dan dipelajari dalam kehidupan masa kini yang kian entah. Lagipula, talents seperti joget erotis merupakan interest yang menarik dan masuk diselera mayoritas audience, terutama laki-laki.

Demam Bigo di Indonesia bisa dijadikan suatu refleksi keadaan psikologis dan intelektualitas masyarakat Indonesia dalam kaitannya dengan penggunaan media sosial. Di era 2000-an demam foto bugil oleh remaja awal atau remaja dewasa putri sempat menjadi trend masyarakat pengguna telefon seluler yang penyebarannya masih menggunakan bluetooth atau MMS. Kecenderungan untuk mengambil foto telanjang menurut peneliti Fakultas Psikologi Universitas Nevada, Amerika Serikat, Marta Meana adalah suatu keinginan dari otak atau pikiran pribadi yang disadari.

“Merasa diinginkan itu sangat merangsang bagi perempuan.”, ujarnya.

Kini, trend di masa lalu seolah didaur ulang di Bigo Live, namun tentunya agak sedikit berbeda dengan kecanggihan dan fitur yang menguntungkan dan selalu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang aji mumpung. Di kehidupan Bigo Live ada yang menjadi tipikal broadcaster (lebih sering live daripada menonton) kebanyakan dari kaum perempuan dengan berbagai motif yang bisa diamati langsung dalam siaran live mereka, terutama yang sudah terkenal, atau bisa dibilang selebnya Bigo.

Bigo yang menyediakan fitur gift dan diamond menjadi ajang pengumpulan pundi-pundi uang yang fantastis bagi para selebnya Bigo. Bagaimana tidak fantastis, dengan melakukan minimal penukaran 6.700 diamond yang didapat dan dikumpulkan dari penonton yang memberi gift, si selebnya Bigo bisa memperoleh 2 juta rupiah. Semua itu bisa didapatkan dengan sedikit joget provokatif untuk memancing penonton penasaran dan penonton akan memberikan gift lebih banyak sebagai saweran agar si selebnya Bigo mau beraksi lebih vulgar. Sebagai contoh, seorang pengguna Bigo bernama Olyvia asal Jakarta, yang dijuluki Queen of Banned bisa mendapatkan 20 juta dalam sekali penarikan dalam live-nya. Dengan penghasilan dari Bigo yang bisa bikin iri penari striptease di Las Vegas memungkinkan si Olyvia melakukan implan payudara yang sempat juga di-broadcats-kan secara langsung pada saat pasca operasi. Mungkin selanjutnya si Olyvia bisa naik haji agar titelnya bertambah banyak dan makin terkenal.

Bisa dikalkulasi dengan kira-kira bahwa 20 juta juga tidak instan-instan amat seperti yang dipikirkan. Bayangkan saja si Olyvia ini sudah melewati sekian ratus kali banned dari pihak Bigo karena kevulgarannya (tapi gak kapok-kapok) dan tentunya juga kita harus memperhitungkan setiap keringat yang mengalir di sela-sela payudara serta kulit mulus di pahanya yang senantiasa bergoyang tak kenal lelah meladeni subscibernya yang tanpa pikir panjang memberikan gift yang mereka beli dengan uang saku dari orang tua atau dari gaji yang tidak kunjung naik. Betapa mulia.

(Disadari atau tidak) Motif uang sebenarnya hanyalah motif bonus, karena motif utama dari pada pengguna media sosial adalah eksistensi yang kontinyu dan kalau bisa yang terus dan terus meningkat. Jika dianologikan dengan pasar, untuk membuat, mempertahankan dan sukses bereksistensi di media sosial, kita harus memproduksi sesuatu yang menarik pasar atau mengikuti selera pasar agar diikuti.

Selera pasar media sosial dengan mata uang perhatian mengharuskan broadcaster wanita di Bigo memproduksi produk yang sekiranya laku di pasar media sosial Indonesia. Kembali karena membuat itu lebih sulit eh juga karena katanya membutuhkan intelektualitas dan kreatifitas, maka mengikuti selera pasar umum adalah solusi agar bisa kaya dan sukses serta tentunya memperoleh eksitensi yang nantinya dibayar oleh konsumen dengan perhatian. Selera yang dimaksud adalah erotisme. Erotisme itu mudah jika terlepas dari seni dan segala tetekbengek yang bikin otak panas. Betapa tidak mudah, joget dengan pakaian minim atau telanjang sekalian adalah perkara mudah. Mudah dilakukan, mudah dinikmati.

Jika dipikirkan (kalau mau) lebih dalam ternyata kemudahan sendiri itu tidaklah mudah. Penjelasan tentang kemudahan yang mendalam tentunya bakal membutukan filsafat dan ilmu-ilmu lain yang bikin pusing. Mudahnya, pernyataan bahwa mudah itu tidaklah mudah bisa kita dapatkan dengan melupakan segala hal tentang deskripsi Bigo, motif penggunaan Bigo, eksistensi, intelektualistas serta analogi tentang pasar dan mari kita telisik lagi dengan sudut pandang masing-masing di setiap joget manja yang bikin birahi dalam siaran-siaran cewek semok dengan tanktop dan celana gemesnya dan di setiap uang serta waktu yang terbuang demi membujuk entah siapa untuk menurunkan BH-nya sedikit lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.