Meminjam Kisah Orang Lain

dinnah
dinnah
Jan 4 · 2 min read

Ketika ia menutup buku kisah ini, ada kerisauan yang belum selesai.

Jika seorang aktor perlu mengobservasi karakter sebuah peran, maka sejauh dan selama apapun ia menelitinya, sebuah karakter tak akan benar-benar 'menjadi' karena di dalam diri sang aktor, ia hanya akan menemukan dirinya sendiri. Mungkin begitu pula pelukis, penulis, penyair, maupun disiplin kesenian lainnya, yang memerlukan sebuah kisah. Kisah yang menuntun ruh dalam diri, menemukan jalan yang terus mengajak menuju kedalaman dan tempat yang jauh. Terkadang, jalan itu menuju ruang yang di suatu masa menyimpan segenap energi; kegembiraan, atau luka.

Atau, kegembiraan yang telah lalu, yang menghadirkan luka.

Dalam perjalananku mendekati 'the magic if’, aku menyadari di setiap latihan, pengerahan selalu bermula dari nol. Tak sedikitpun rasa berada dalam 'if' pada latihan sebelumnya hadir kembali, atau setidaknya menyisakan degup irama yang kukenal. Ketika latihan yang baru dimulai kembali, kau harus belajar merelakan: bahkan yang pernah tumbuh di dalam dirimu, bisa pergi dan menghilang. Sehingga yang harus terus kau lakukan adalah pengerahan dari awal lagi, dan lagi. Mungkin itu sebabnya kata-kata dalam naskah pada akhirnya seakan menemukan dirinya sendiri. Seiring waktu, kehidupan kita yang linear terhadap tahapan-tahapan latihan dari titik awal ke seterusnya, justru membuka pintu dalam jiwa atau batin ke arah sebaliknya: rekaman masa lalu. Jangan-jangan semua usaha (atau aku lebih suka menyebut proses ini sebagai meditasi) itu malah menjadi paradoks ke arah sebaliknya. Seperti sifat cermin yang reflektif: kita berjalan ke titik di depan, dengan kecepatan yang sama, jiwa kita berefleksi ke arah belakang. Titik tengahnya kesadaran kita.

Untuk sampai ke sebuah titik di mana hadir kata 'sudah selesai’, rupanya tak akan kau temukan di manapun kau berhenti. Kisah, atau karakter yang kau mainkan, ternyata tak pernah akan ditemukan ujung akhirnya. Tak ada rasa puas di sana. Pun ketika kau akan memulainya, titik nol yang sesungguhnya adalah variabel ilusif yang dipinjam agar seakan-akan ada permulaan, tak benar-benar kosong juga. Maka itulah, yang muncul hanya rasa panik ketika membaca naskah. Hahaha! Bagaimanapun, sang tokoh belum kau kenal baik. Jalan yang kutempuh untuk mengisi kekosongan itu, ialah dengan riset dan observasi. Jika masih panik, aku sontek sebentar gaya aktor lain dari Youtube, atau filem-filem. Tetap saja, semua bersumber dari Kisah Orang Lain. Mungkin tak apa meminjamnya sebentar, untuk ditemukan lagi sesuatu yang lain nantinya. Toh sang tokoh tak akan terpuaskan dahaganya meski pentas telah usai.

Oh ya! Kelas Akting Salihara akan segera mulai. I’m so excited!

French Fries and more pickles. Also pineapple on top of my Pizza. I use my own photograph. #Libra INFJ.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade