Ini, tentang seorang laki-laki yang kacamatanya tebal. Minus 6 dengan jarak pandang hanya 16,66666 cm.

Suatu sore di bulan Ramadhan 2015, laki-laki itu (akhirnya) memutuskan datang setelah seharian main DoTA. 21 Juni 2015.

Laki-laki itu memilih duduk di pojok kanan belakang (iya yang rambutnya kaya andhika Kangen Band itu), sebelum (akhirnya) memutuskan untuk pindah duduk di sebelah wanita berjilbab jambon motif dan menggeser (paksa) orang yang duluan duduk situ.

Ini, masih tentang lelaki yang sama. Yang memberiku jawaban atas pertanyaan melalui buku. Halaman di atas adalah untuk pertanyaan “kak, kamu ngapain deketin aku?”.Agustus 2015.

Seorang lelaki yang mengajari saya,
Be the light that shines, not the light that burns
Dan akhirnya memutuskan untuk sama sama menjadi reflektor sinaran utama dari wanita yang tadi berjilbab warna jambon,dengan menjanjikannya akan datang menemui calon mertuanya di rumah sang wanita. November 2015.

Lelaki berkacamata itu mengiyakan ajakanku untuk naik ke atas dek kapal, untuk melihat pertemuan laut dan langit. Januari 2016

Lelaki yang sama, yang memberiku kabar ia diterima di pondok hafalan 4 hari setelah aku memutuskan masuk pondok pesantren. Sept 2016 -Mei 2018.

Lelaki berkacamata itu datang saat ayah ibuku merasa berhasil, katanya pesawatnya yang jurusan Balikpapan belok jadi ke Jogja. Oktober 2017.

Lelaki yang membaca harus pakai bantuan lensa itu, memintaku menjadi ibu dari anak-anaknya. Februari 2018.

Ternyata, seluruh keluarga lelaki itu berkacamata. Dan, aku akan jadi satu satunya anggota keluarga yang ditanyai “kacamatanya dimana ya?”. Maret 2018.

Lelaki berkacamata itu, memandangiku di pelaminan. Juni 2018.

Iya, aku berkacamata, semenjak ayahku tidak ingin anak perempuannya terganggu oleh radiasi dari penggunaan alat elektronik saat mengerjakan tugas akhir. Lelaki berkacamata di sebelahku itu juga, ikut ikutan, protektif sepenuh hati. September 2018.
