MABA 101

Jadi mahasiswa baru, unyu unyu, polos, bahagia haha begitulah ya kira-kira pandangan gue si matu alias mahasiswa tua saat melihat hype dedek-dedek gemesh yg baru mulai menerjang arus perkuliahan. Tahun ini adek gue baru masuk kuliah, dan mungkin karena dia masuk ke univ yang sama dengan gue, dia jadi banyak banget nanya-nanya ke gue tentang per-maba-an yang kadang bikin gue keki juga sih dan bergumam dalam hati “Perasaan dulu gue nyari info nyari sendiri, mau nanya ke siapa nggak ada, ni anak banyak nanya bener si” emang naluri aja sih gue jutek jadi kakak. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, waktu gue jadi maba dulu, gue sendirian (gaada kakak), barengan temen seangkatan juga belom terlalu kenal kayak sekarang, banyak banget hal-hal yang membuat gue berandai-andai dan menyesal. Kalau aja gue tau hal itu a little bit sooner, gue pasti akan lakukan dengan berbeda. Maka dari itu, disini gue gak ingin adik-adik maba ku sayang merasakan “ke-yah-an” seperti yang gue alami dengan berusaha memberikan sedikit tips ala gue tentang apa yang harus lo lakukan sebagai mahasiswa baru a.k.a MABA 101!

Tapi sebelum bahas jauh tentang MABA 101, mungkin akan ada yang nggak setuju dengan statements gue di tulisan ini, karena emang sulit kalo mau digeneralisir pada semua jenis universitas atau fakultas. Jadi sekarang ini gue mau mengingatkan bahwa sudut pandang gue adalah berdasarkan pengalaman gue di Universitas Indonesia yang harapannya masih bisa relate dengan temen-temen semuanya!

1. Ospek Survival Kit dan Faedahnya!

Pertama-tama kalau ngomongin maba pasti gak lepas dan gak jauh dari ospek! Ospek disini termasuk segala jenis registrasi sampai rangkaian orientasi yang ngejelimet itu, tetapi percayalah they are not as bad as you thought.

Tanpa harus ber-muna-ria, dulu gue sangat amat memandang ospek sebelah mata. Buat gue segala gimmick di dalamnya itu cuma buat seru-seruan aja, segala tugas yang diberikan gak beneran diperiksa, dan segala kegiatannya itu gaakan mempengaruhi kehidupan kampus gue. Makanya, dulu itu waktu ospek gue bener-bener semales itu! Termasuk juga karena mental yang agak kurang siap menghadapi kakak-kakak Komisi Disiplin (KOMDIS) yang walaupun gue gapunya salah, tatapannya tetep kayak kucing liat ikan asin.

Tapi yang terlambat gue sadari adalah, hal itu terjadi karena gue gatau apa dan bagaimana semua rangkaian itu bisa berguna untuk gue nantinya. Mungkin gue ceritain dulu sekilas tentang kegiatan awal maba gue dulu. Berawal dari orientasi universitas! Hmm sebetulnya gaada yg terlalu spesial-spesial banget sih. Standar aja kayak orientasi universitas pada umumnya, intinya disini sih yang perlu ditekankan adalah mandiri guys karena semuanya wajib ngurus sendiri, cari-cari info sendiri, inisiatif, jangan sampe nanti ada info penting terus kita gak tau. Pembelaan kayak “gaada yg ngabarin saya” atau “saya gatau” itu super duper extra BASI!. There is the reason why they put “maha” di depan kata siswa untuk kalian. Terus juga aktif! the point is… kalau kalian udah bisa menjalin pertemanan lebih banyak dengan waktu yang lebih cepat, keuntungannya benar-benar untuk kalian sendiri. Kadang suka ada aja temen yang baik hati ngingetin, atau bahkan sampe bersedia dititipin keperluan-keperluan ospek!

Nah setelah rangkaian ospek Universitas, selanjutnya masuk ke rangkaian orientasi fakultas. Disini ya mungkin yang tiap fakultas punya budaya masing-masing. Tapi intinya tetep sama kok, supaya maba nya tau gimana work pace, lifestyle, dan hal-hal lainnya yang perlu kamu ketahui tentang fakultas kamu. Contohnya kayak waktu gue ospek, gue dapet tugas disuruh bikin dua essai ilmiah. Pada saat itu dan posisinya gue tuh gapernah bikin essai ilmiah baik di sekolah maupun di luar sekolah. Untungnya waktu itu ada yang namanya kelas penulisan, yang bertujuan untuk ngasih kita gambaran tentang how to write a scientific essay. Sedikit banyak gue cukup terbantu sama kelas itu. Tapi waktu itu gue keras kepala dan merasa kesel ngapain sih mesti bikin-bikin essai?. Dan ternyaataa…. sepanjang kuliah tugas essai itu berdatangan terus dari berbagai mata kuliah. Dari situ gue langsung bersyukur seenggaknya walaupun sampe udah mau lulus juga belom jago bikin essai, tetep bangga karena udah pernah latihan bikin pas ospek. Jadi intinya apa? Intinya adalah percayalah fakultas itu mempertimbangkan kalian kok, I’m not gonna lie! mungkin ada yang emang ospeknya parah banget dan sejujurnya ga perlu-perlu banget, tapi itu off the record lah ya. Bahkan menurut gue kegiatan yang off the record tadi kalau mau kita telaah, ternyata ada positifnya loh. Kaya misalnya waktu ada kegiatan ospek yang berjudul Program Cinta Kampus (PCK). Itu maba disuruh bawa ikan dong ke kampus untuk dilepas di danau UI.. trus faedahnya apaa??. Eh ternyata karena pas PCK itu kita digabung sama fakultas lain, gue jadi nambah banyak kenalan dari berbagai fakultas, dan karena di program itu kita keliling kampus, gue jadi tau kawasan-kawasan yang ada di UI. See? Ada faedahnya kan?

2. Being a College Student is All About Tolerance

Ini hal yang betul-betul pengen gue highlight. Karena mahasiswa itu datang dari berbagai penjuru negeri atau bahkan dunia, as soon as lo memasuki masa kuliah, semua orang yang tadinya lo kira ga mungkin ada di dunia ini, tiba-tiba muncul di depan muka lo. Banyak tipe orang yang unexpected yang bisa lu temui di perkuliahan, dari mulai yang 11–12 sama lo, sampe yang beda banget.

Then, how to deal with them?

Tolerance is the key!

Yaz! Lo nggak bisa punya prinsip “Gue baiknya sama si A aja, ngobrolnya sama si A aja” Cuma karena dia punya sifat atau latar belakang yang 11–12 sama lo. Milih temen deket tuh harus, tapi kalo bersikap baik dan ngobrol mah harus bisa sama siapa pun. Karena kita nggak pernah tau temen yang mana yang akan bisa bantu kita dalam hal tugas-tugas, apalagi tugas kelompok. Jadi jangan terlalu PD dan yakin kalo orang yang 11–12 sama lo akan selalu bisa sekelompok dan membantu lo dengan siap sedia.

Selain itu kalian juga harus toleransi sama perbedaan diantara sesama mahasiswa. Mungkin di UI memang didominasi sama mahasiswa Jabodetabek yang notabene kultur yang dibawa nggak terlalu beda, tapi di UI juga banyak loh mahasiswa dari luar Jabodetabek atau dari luar pulau jawa yang membawa kultur berbeda. Nah disitulah biasanya letak kesulitan beradaptasi mulai terasa. Tapi bukan berarti karena perbedaan kultur itu kita jadi menutup diri dari mereka. Sekali lagi gue ingetin, dunia kuliah itu sangat banyak challengenya friends! Dan bisa jadi disetiap challenge, orang yang bisa keep up sama kalian adalah orang yang berbeda. Jadi coba lah untuk nggak menutup diri dari orang-orang disekitar kalian karena bisa jadi one day kita harus kerjasama loh sama mereka untuk menyelesaikan challenge.

Dan percayalah no one will want to be friends with you kalau lo judgemental, bcz you are entering adult world where everybody needs to mind their own bussiness. Open your mind widely until there is no space for negative thinking!

3. Choose What You Have to Choose

Ketika lo jadi mahasiswa, lo akan amazed dengan betapa banyaknya kegiatan mahasiswa yang ditawarkan dari mulai di tingkat fakultas sampe di tingkat universitas, please choose wisely ya!

Karena semester awal adalah penentu kehidupan kuliah lo di semester-semester berikutnya. Kalau di satu semester pertama lo gabisa mengatur waktu dan kegiatan lo terus nilai lo anjlok, itu gawat, TAPI kalau lo terlalu mengkhawatirkan nilai lo terus lo jadi ansos gamau ikutan kegiatan apapun, lebih gawat lagi. Jadi, kedua nya bener-bener harus seimbang. Nah terkait dengan milih kegiaatan, gue punya pengalaman yang kurang mengenakan nih. Jadi waktu semester pertama gue pilih banyak kepanitiaan dan organisasi di tingkat universitas. Dan disana gue sering didoktrin kalo organisasi tuh lebih penting dari akademik, karena disana lo bisa dapet banyak pengalaman dan softskill yang berguna buat hidup lo. Dan saat itu gue percaya tuh sama belief yang kaya gitu. Sampe akhirnya gue mendewa-dewakan organisasi dan mengesampingkan akademik gue. Well, organization is a good thing, tapi bukan berarti lo mengesampingkan akademik. Walau bagaimana pun ketika nanti gue dapet gelar sarjana psikologi a.k.a S.Psi, masyarakat diluar sana akan punya ekspektasi kalo gue harus punya berbagai basic skills dan knowledge tentang psikologi, yang harusnya gue dapetin dari mata kuliah yang gue ambil saat gue kuliah di Fakultas Psikologi dongg. Itulah kenapa akademik nggak kalah penting sama organisasi! Kalo gue dapet berbagai skill dan knowledge tentang psikologi dari berbagai mata kuliah, tapi life skill kaya negosiasi, akomodasi pendapat, problem solving, leadership, itu semua gue pelajari dari organisasi dan kepanitiaan. Jadi alangkah indahnya kalo lo bisa menjaga keseimbangan antara akademik dan organisasi atau kepanitiaan itu friends! Trus gimana cara milihnya?. Coba mulailah ngobrol sama diri sendiri bagaimana batasan lo, kalau udah merasa lelah, jangan dipaksakan. Kalau sudah mahasiswa, gaakan ada lagi yang mau ngingetin lo terkait kebutuhan diri lo sendiri ya selain diri lo sendiri!

4. Gaya Belajar

Gaya belajar sebetulnya sifatnya sangat relative sih, masing-masing fakultas atau bahkan departemen biasanya suka beda-beda gaya belajarnya. Tapi ada satu hal yang semua mahasiswa pasti ngalamin ketika belajar: andragogy! Beda ya sama androgyny. Intinya andragogy itu adalah sistem pembelajaran orang dewasa yang mengandalkan keinginan diri sendiri dari si murid dan udah sama sekali gak ada yang namanya di cekokin. Beda sama masa-masa sekolah yang kalo mau ujian aja masih ada kisi-kisi. Di kampus? Jangan harap akan ada kisi-kisi! Materi aja harus nyari sendiri! Jangan kaget kalo nanti kalian dapet dosen yang masuk kelas cuma ngasih tugas terus keluar lagi atau dosen yang cuma ngomong doang di depan gapake koma gapake titik, gapeduli juga mahasiswanya mau jungkir balik. Alhamdulillahnya gue masih jarang ketemu dosen yang kaya gitu di psikologi, tapi gue sering denger kisah-kisah temen gue dari fakultas sebelah. Kalo yang gue dapet dosennya masih pada ngajar dengan bener, tapi ya itu tadi, motivasi belajar, ngerjain tugas, pokoknya semua nya tentang kuliah itu kita yang ngatur. Dosen taunya lo ngumpulin tugas nggak, hadir nggak, baik nggak, aktif nggak, ikut tes nggak, sisanya mah lo atur ajaa sendiri. Tipikal tugas kuliah juga beda. Lo pasti udh ada bayangan lah ya, nggak mungkin tugas anak kuliahan yang bisa nyontek pagi-pagi buta di kelas HAHA! Dan nggak mungkin juga ada tugas anak kuliahan yang jawabannya bisa lo comot asal-asalan dari mbah google. Kalo dari hasil pengamatan gue selama 6 semester kuliah di UI, tugas-tugas ini nggak Cuma menjawab pertanyaan “what” aja, tapi juga “How” & “why”. Itulah kenapa disetiap tugas, lo akan dituntut untuk berpikir kritis dan kreatif. Jujur yaa, ini emang challenging banget untuk anak dari SMA konvensional kaya gue yang lebih sering dijejelin pertanyaan “what”. Butuh banyak eksplor gaya belajar yang cocok buat gue. Dan menurut gue setiap mata kuliah punya keunikannya masing-masing, dan itulah kenapa setiap mata kuliah punya pendekatan gaya belajar yang berbeda. Kuncinya, jangan lelah sama proses adaptasi gaya belajar disetiap mata kuliah. Karena perkara adaptasi adalah perkara yang emang nggak pernah selesai dan akan terus terjadi.

Hmmm udah sih terus gak kepikiran lagi tips apa yang bisa gue kasih, intinya jadi mahasiswa itu wah banget sih, banyak banget kesempatan sana-sini tapi kalo ga pinter-pinter memanfaatkan bisa banyak penyesalan juga. Mumpung masih pada maba nihh, yok be wise! :)

Sincerely,

Dira & Dinni