Aku tak paham, kenapa aku harus paham? Dengan keadaan dimana rasa bimbang menjadi sebuah kepastian. Dimana jawaban’mu’ adalah jawaban yang membingungkan

Aku tak ingin, yasudah jangan buat aku merasa ingin! Merasa untuk pergi dari’mu’ adalah keinginan tersiratku. Sungguh tak ingin.

‘Kamu’ mau pergi? Silahkan. Tapi aku tak ingin, dan tak akan, terserah ‘kamu’ mau kemana, toh aku akan mengikuti. Entah dalam diam atau gaduh sekalipun. Aku ikut, dibelakang’mu’, pasti.

Biarlah maksud tulis hanya menjadi penjabaran yang fana, karena terkadang tulis menulis tidak perlu dipikir namun dirasa, ini hak ku untuk menulis, dan aku paham adalah hak kalian untuk membaca, juga mengomentari? Mengkeritik? Ah terserah. Yang jelas itu hak mu, maka jangan paksa aku untuk berhenti menulis, kan aku tidak memaksa mu untuk berhenti membaca? toh ini teruntuk dia, wanita yang kusebut dengan sebuah nama bunga. Wanita dengan kutipan ‘kamu’ yang dimaksud.Bukan untukmu, pembaca yang kebetulan menemukan tulisan absurd dan tak jelas ini.

Jika kamu bertanya mengapa aku menulis ini? Aku hanya rindu. Kepada mahluk ciptaanNya yang mungkin dipandang biasa oleh mata yang tak pernah menatap dalam matanya.

Mata dalam teduh yang kurasa dicipta ketika tuhan sedang ingin dipuji agung? Ah Dia memang agung. Bisa menghadirkan perempuan yang membuat rindu.

Maka kembali teruntuk kamu dengan nama bunga, aku rindu. Jangan paksa aku untuk ingin dan paham, karena dalam ketidakpahaman inilah aku merindu, dalam ketidak inginan ini aku terus ada di sisimu. Aku rindu. Sangat rindu. Pasti rindu, kepada kamu

-D

Like what you read? Give insomniacmoments a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.