Menabrakkan Diri ke ‘Tarian Penghancur Raya’ Milik .Feast

Dionisius Dexon
Nov 8 · 4 min read
Sumber gambar: Instagram .Feast

Sebelumnya, saya perlu berkata bahwa apa yang saya tulis ini bukanlah ulasan lagu — saya tidak punya kapabilitas untuk melakukan itu. Apa yang saya tuliskan kali ini adalah fragmen-fragmen yang muncul di kepala saya ketika saya mendengarkan lagu ‘Tarian Penghancur Raya’ karya grup musik .Feast.

Mengapa saya memutuskan untuk menulis semua ini?

Alasannya sederhana: ‘Tarian Penghancur Raya’ menghadirkan cukup banyak fragmen di kepala saya — hampir sebanyak fragmen yang muncul ketika saya mendengarkan ‘Jesus of Suburbia’-nya Green Day.

Sebagai orang yang sangat menikmati musik dari liriknya, berikut adalah fragmen-fragmen yang muncul di kepala saya ketika potongan lirik Tarian Penghancur Raya mencubit gendang telinga saya. Lirik Tarian Penghancur Raya ditulis oleh Baskara Putra.

Sumber gambar: Instagram .Feast

Mata dan peluh yang asin
Perlahan dihapus angin

Di kepala saya, muncul sekumpulan orang yang sedang berjalan di tengah kota yang dipeluk oleh gedung-gedung pencakar — dan penjilat — langit. Orang-orang itu berharap angin datang untuk membius tubuh mereka yang sangat berkeringat. Tubuh mereka adalah mata air yang suatu saat nanti akan dimanfaatkan oleh negara ketika separuh wilayah menjadi kering.

Jogja yang beku mendingin
Menari, menghancurkan alam raya yang kecewa
Dibuatnya malapetaka

Seseorang menari dengan sangat sederhana. Seseorang yang sudah lama hilang. Sederhana yang sudah lama malang. Sederhana yang marah.

Kamar berjeruji berpenghuni bersafari berbagai fauna

Hewan dipenjara oleh manusia, Manusia dipenjara oleh sesamanya. Tanpa sadar, manusia tumbuh bersama standar-standar kenyamanan tertentu; ruang ber-AC, rumah berkoneksi internet tinggi dan tak terbatas, lantai marmer dan atap nuklir. Orang-orang bersembunyi dalam kandangnya masing-masing karena neraka sedang dibangun di luar kandang.

Sumber gambar: .Feast — Tarian Penghancur Raya (Official Lyric Video)

Flora kerasukan freon di ruko toko bunga

Tumbuhan adalah komoditas. Orang-orang menjual bunga di mall untuk bertahan hidup. Orang-orang pergi membeli bunga di mall untuk mendukung gaya hidup.

Bank ahli industri teknologi etnografi produksi menggurui penghuni asli

Ada sekumpulan orang yang merasa paling mengerti soal apa yang dibutuhkan oleh dunia ini. Tumpukan kertas dan berbagai macam cap instansi membuat mereka hidup bersama pemikiran mereka sendiri; menjadi guru untuk segala sesuatu yang tidak benar-benar mereka ketahui.

Berbicara cepat bilang haram
Kearifan lokal yang dibungkam

Di kepala saya muncul salah satu judul berita dari tahun 2018.

Tuli pada yang belajar alam
Mati sesak nafas tengah malam

Orang-orang yang merasa ‘tahu’ tak mau mendengar orang-orang yang ‘mengerti’. Pada akhirnya, mereka sengsara karena pengetahuan mereka sendiri.

La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la

Di kepala saya muncul satu sosok kuning. Teman Tinky Winky dan Dipsy.

Trotoar lebar, bahan hijau, Tesla
Kalah cepat disalip kuda Asia
Tewas di lampu merah, garis zebra

Segala sesuatu hadir serba terlambat dan orang-orang tidak bisa diatur. Lampu lalu lintas dianggap seperti lampu pasar malam — atau sebaliknya? Lampu yang tiba-tiba berubah menjadi merah adalah tanda untuk menarik gas lebih kencang.

Efek Rumah Kaca tiba-tiba suddenly di mana-mana

Di kepala saya muncul poster salah satu acara ERK.

Uap terlontar mengepung kota
Berlomba ciptakan plastik kita
Saat senja kehabisan kata
Siang malampun gelap gulita

Apa yang muncul di kepala saya hanyalah kota yang dipenuhi asap. Itu saja.

Oh, ya, saya agak kaget karena ada kata ‘senja’ di sini. Mengingat dalam beberapa wawancara, Baskara sering membahas penggunaan kata ‘senja’.

Kerja bakti menyusun neraka
Kita miliki bahan bakarnya

Ada proyek besar dengan harga miliaran untuk membangun neraka. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan itu sudah tersedia — hanya tinggal diolah dan dipakai.

Suatu hari nanti, akan muncul berita di televisi: HARAP BERSABAR! NERAKA 4.0 MASIH DALAM TAHAP PEMBANGUNAN — TETAPI TIKET MASUK TETAP BISA DIBELI DI NERAKAKITA.COM.

Sumber gambar: .Feast — Tarian Penghancur Raya (Official Lyric Video)

Perihal waktu tunggu datangnya
O2 dijual oleh negara

Suatu hari nanti, oksigen adalah komoditas. Udara bersih dengan kualitas tinggi hanya dimiliki oleh konglomerat. Masyarakat berpendapatan rendah hanya bisa bersabar dengan membeli masker seharga 1000 rupiah.

Oh terima kasih ‘kan usahanya
Sedotan besi, plastik cycle tiga
Pun pepohonan tak berkuasa
Lawan kebijakan yang bertamasya

Sebagian orang terus mencari cara untuk menyelamatkan. Pohon-pohon juga sedang melakukan hal yang sama. Mereka sedang mencari cara untuk memindahkan diri mereka sendiri — agar mereka tidak dihancurkan.

Sumber gambar: .Feast — Tarian Penghancur Raya (Official Lyric Video)

Burung bersiul malapetaka
Gurun menatap dingin manusia
Laut dan pegunungan kecewa
Kudeta besar alam semesta

Alam semesta sedang murung. Kasih sayang mereka dipatahkan oleh manusia.

Siarkan kabar penelan surya
Meleleh matikan kutub utara
Amalkan tarian penghancur raya
Kobarkan tarian penghancur raya

Seseorang sedang menari sambil menghitung mundur. Alam semesta fokus memperhatikan — karena mereka harus tahu kapan angka mencapai 0.

BAIKLAH.

Sepertinya, itu saja fragmen-fragmen yang muncul di kepala saya ketika mendengar Tarian Penghancur Raya. Mungkin, kalau didengarkan lebih sering lagi, akan muncul lebih banyak fragmen.

SELAMAT / SUKSES, .Feast

Saya tak bisa menyebut diri saya Kelelawar, tetapi saya akan terus mendukung karya-karya kalian.

— Salam, Dionisius Dexon
@diondexon

Dionisius Dexon

Written by

Saya menulis agar kepala saya tidak meledak. | Buku: Seratus Pekan Sebelum Ledakan (2018), Yojana: A Hope Under Machine Gun (2019), USPYMRMA (2019) | @diondexon

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade