Jagalah Shalatmu
Jagalah Shalatmu

Barusan saja saya bengong sendirian di kamar. Menanti rendaman pakaian yang sedang menyerap aroma pewangi pakaian. Saya kepikiran tentang kaitan meditasi dan mindfulness. Pertanyaan saya terantuk pada kalimat “mengapa harus meditasi..?”

Kemudian saya teringat kisah Sayyidinaa Umar Bin Khattab yang ditegur oleh Rasulullah ketika menenteng kitab lain. Maka terjadilah pengaitan initisari kisah tersebut dengan mindfulness.

Mempertanyakan kembali apa salah satu tujuan dari mindfulness. Sepemahaman saya, tujuan mindfulness adalah mencapai ketenangan. Sedangkan, salah satu perangkat kebahagiaan adalah ketenangan.

Kondisi mindfulness ini yaa mirip atau sama dengan kondisi khusyu’ yang hadir ketika shalat. Jika shalat mampu menghadirkan khusyu’ atau mindful lantas ngapain saya latihan meditasi..?

Iya saya tau dalam preambul pelatihan-pelatihan meditasi bahwa meditasi untuk segala kalangan lintas agama. Namun saya mendapati hal yang lebih dekat dengan saya selama ini telupakan. Hal yang sudah diperkenalkan orang tua sejak kecil. Shalat.

Telupakan bukan berarti tidak melakukan. Hanya saja lupa untuk lebih mendalami. Karena dari shalat yang selaiknya menjadi kebutuhan berubah menjadi rutinitas yang tiada membekas.

Sibuk mencari ketenangan di luar malah melupakan metode ultimate untuk mencapai kebahagiaan. Merasa benar-benar sebagai orang yang abai.

Hingga timbul bunyi dalam hati yang bekata, “apakah shalat sudah tidak mencukupimu untuk mencapai kebahagiaan..?”. “apakah kamu harus mencari-cari lagi metode lain untuk pencapaian kebahagiaan..? padahal sepanjang hayatmu selalu bersentuhan dengan pintu gerbang kebahagiaan..?” Pertanyaan-petanyaan serupa bertalu-talu di dalam hati, semakin lama semakin mengeras suaranya…

Hingga akhirnya saya ga sanggup meneruskan tulisan ini…

The post Back To Shalat appeared first on diptra.

Originally published on Wordpress