Cerita Fiksi

Tadi sekitar pukul tujuh pagi, sambil bermalas-malasan di atas lantai kamar, mata saya terutuju pada tumpukan buku yang ada di atas rak. Iseng saya ambil buku novel Laskar Pelangi yang sudah bertahun-tahun lalu saya baca. Sebuah novel favorit.

Bukan tanpa alasan saya mengambil novel Laskar Pelangi, sebuah masterpiece karya Andrea Hirata. Alasannya adalah di tahun ini saya membuat resoulusi ringan, yaitu membaca kisah fiksi secara rutin. Karena selama ini jenis buku yang paling jarang saya baca adalah buku fiksi, baik itu berupa novel, cerpen maupun cerbung.

Saya memutuskan untuk membaca kisah fiksi atas saran Joshua Becker. Dalam sebuah artikel yang membahas tentang resolusi awal tahun 1, Joshua Becker memberikan saran untuk membaca kisah fiksi sebagai sebuah resolusi. Dia bersandar pada fakta bahwa membaca kisah fiksi memiliki efek yang baik untuk otak.

Membaca kisah fiksi akan memperkuat konektivitas antar neuron dan aktivitas otak 2. Dengan menguatnya konektivitas antar neuron otak, bisa jadi akan menambah pengetahuan-pengetahuan baru karena interkoneksi antar simpul-simpul informasi pada neuron.

Jadi, kesimpulan sementara saya adalah dengan membaca kisah fiksi, akan meningkatkan kecerdasan dan daya ingat.

Nah, kembali kepada apa yang saya lakukan tadi pagi, tentu saya tak akan membaca ulang dari awal hingga akhir novel Laskar Pelangi. Namun, saya membaca secara acak.

Bab nomor 19 — Sebuah Kejahatan Terencana 3 adalah chapter yang saya baca secara acak tadi pagi. Baru membaca beberapa paragraf saya sudah dibuat terpingkal-pingkal oleh rangkaian alur dan diksi yang disampaikan oleh Andrea Hirata. Jenius yang jenaka dalam kata-kata.

Bagian ini mengisahkan alur rencana busuk yang diatur oleh Mahar untuk festival seni tahunan. Dengan lihainya Mahar mengatur koreografi murid-murid sekolah kampung Muhammadiyah dan mengalungkan biji buah aren ke leher kedelapan temannya yang berkostum sapi. Rencana jahat yang direncanakan Mahar adalah melumernya getah buah aren sehingga merembes ke kulit kedelapan temannya. Akhirnya kedalapan anggota Laskar Pelangi dengan kostum sapi itu menari di acara karnaval bak orang kesetanan karena menahan gatal getah buah aren di sekujur tubuh.

Akhirnya performa seni yang dihadirkan sekolah kampung Muhammadiyah tahun itu mendapat apresiasi luar biasa dari penonton sehingga memenangkan fesitval seni tahun itu. Mereka berhasil menyingkirkan Sekolah PN yang langganan juara setiap tahun. Ahh bahagia sekali membaca kisah-kisah seru dan lucu semacam ini.

Kemudian saya melompat pada bab-bab akhir Laskar Pelangi, dimana Andrea Hirata mengisahkan paradoks-paradoks hidup yang dilalui teman-temannya sesama Laskar Pelangi. Lintang yang jenius harus pasrah dengan guratan kerasnya hidup menjadi kuli kasar. Mahar yang menjadi tokoh budaya melayu. Ada juga Syahdan yang menjadi ahli IT Networking dan Sahara yang menjadi guru TK.

Berpesan juga Andrea tentang takdir yang tak semestinya ditunggu dengan berpangku tangan dan pesimisme. Andrea berujar bahwa seseorang yang enggan membanting tulang menerima saja nasibnya yang menurutnya tak ‘kan berubah karena semua telah ditakdirkan adalah sebuah lingkaran setan yang umumnya melanda para pemalas.4

Dari sini saya kembali ingat akan kekuatan sebuah kisah. Bahwa pesan moral atau nasehat, lebih mudah disampaikan dalam bentuk kisah. Melalui kisah, maka value yang hendak disampaikan menjadi lebih mudah dicerna dan diterima. Mungkin karena pada dasarnya otak manusia menyukai kisah-kisah. Dari membaca kisah fiksi pula saya belajar bagaimana cara bertutur dan membebaskan imajinasi.

Tentang membaca kisah fiksi saya cukupkan sampai di sini. Pada beberapa kesempatan yang lalu saya pernah membuat kisah fiksi tentang Rojiun. Semoga di waktu-waktu yang mendatang ada keluangan waktu untuk mengisahkan ulang keabsurdan yang dilakukan oleh Rojiun.

Jadi, selama ini kisah fiksi macam apa yang kalian sukai..?

Salam..
 dia yang ahem-ahem kepada kisah fiksi



Originally published at DiPtra.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated DiPtra’s story.