Ilmu Kanthi Laku

Membaca artikel tulisan Dokter Jisdan1 di bawah ini membuat saya teringat akan petuah Ayah mengenai hidup sederhana. Betapa hidup sederhana sebenarnya sudah mengakar begitu kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Juga mengingatkan tentang isi kitab Ayyuhal Walad karya Imam Ghazali. Sebuah kitab yang menuturkan dengan apik pentingnya beramal setelah mendapatkan ilmu. Karena ilmu menjadi tiada berguna ketika tak diamalkan.

Berikut ini tulisan dari Dokter Jisdan yang berjudul asli Drama… (keempat). 2


Drama…(Keempat)

“Benar memang adanya, Kyai, mohon maaf… Saya sudah hampir 6 tahun di pondok. Banyak yang Kyai ajarkan langsung di setiap harinya. Tapi tak ada satupun ajaran Kyai yang ditulis dan dibukukan. Apa Kyai tidak ingin menulisnya dalam buku. Saya yakin akan sangat besar manfaatnya, setidaknya untuk santri disini seperti saya ini.” Tanya seorang Santri kepada Kyainya.

Terdiam, pandangannya lepas jauh kedepan. Hijaunya sawah, berujung di kaki bukit, dengan rumah-rumah penduduk di sela-sela semak membatasi pinggir pinggirnya.

Suasana desa yang teduh, tenang, dan damai. Sesekali terdengar kicauan burung yang terbang di atas pematang. Semilir angin pedesaan yang lembut membelai sorban yang masih terjuntai di pundak kanannya.

Dengan lembut, Sang Kyai menjawab pertanyaan dari Santrinya, “Santriku, lihatlah kesana. Masyarakat sekitar kita. Mereka hidup tenang dan damai. Setiap hari menekuni apa yang ada di hadapannya. Ketika adzan berkumandang, langsung bergegas menuju masjid. Tidak ada seteru di antara mereka. Tak ada yang “mangro tingal” dan “sing-sing” melirik hiruk pikuk dunia.

Mereka habiskan waktu untuk mengasyiki sawah ladang dengan gembira di sela shalat mereka yang ‘alal waqtiha.

Malam harinya seusai maghrib selalu terdengar “gemrenggeng” suara mereka mengaji menunggu shalat ‘Isya tiba.

Seusai shalat ‘Isya, mereka baru melirik meja makan yang kadang-kadang ada sedikit hidangan jajan pasar atau ketela yang menemani kopi atau teh nya.

Setiap harinya mereka seperti itu. Damai, tenteram, tekun beribadah, dan menjalani urusan dunia dengan lumintu. Tak pernah merasa kekurangan. Tidak grusah-grusuh, kemrungsung, berebut, berkompetisi, bersaing atau saling sikut.

Apakah mereka buta huruf..? Ternyata tidak. Mereka pandai baca tulis huruf hijaiyyah dan aksara latin sederhana, dengan kosa kata yang cukup. Mereka tidak pernah mengenal kosa kata yang aneh-aneh seperti di kota.

Tapi, apakah mereka membutuhkan buku..? Bagi mereka, satu-satunya buku adalah Al Qur’an dan Hadits. Selebihnya, untuk urusan yang lain , mereka belajar “kanthi laku”.

Mereka HANYA mengajarkan kepada anak keturunan dan tetangganya semua hal YANG SUDAH DIJALANINYA. Bukan mengajarkan HAL YANG BELUM DIJALANI.

Mereka sangat terjaga dari “rereged lathi” (kotornya lisan). Mereka jauhkan hal hal yang hanya menjadi polusi otak dari berbagai pengetahuan yang hanya sekedar membuat kita tahu tanpa bermakna dalam keseharian.

Mereka lebih pandai memilih dan memilah mana ilmu, mana pengetahuan. Sehingga semua kata-kata yang keluar dari “lathi” atau mulutnya, tidak ada yang sia-sia. Semua menjadi santapan telinga yang meneduhkan.

Mereka tidak mengenal ada hama tikus atau belalang. Bagi mereka, tikus atau belalang yang tiba-tiba banyak dan merusak sawah ladangnya adalah alam yang diperintahkan Allah untuk menyapa. Kesempatan dari Allah memperbanyak puasa. Bukan musibah. Bukan bencana. Mereka tak pernah gelisah karenanya. Karena mereka yakin tikus atau belalang itu kapasitas perutnya tidaklah seberapa dan hanya makan sesuai kebutuhannya. Tidak serakus manusia, yang tak akan pernah puas melahap ber lumbung-lumbung padi seluruh petani.

Santriku, Teramat banyak buku yang hanya dibaca sekedar untuk kepuasan menguasai “ilmu” yang terkandung didalamnya dan sekedar menjadi andalan mereka untuk beradu argumentasi, berdebat, menunjukkan kehebatan luasnya ilmu dan sebagainya, tanpa ada peran mereka sama sekali terhadap nasib saudaranya yang miskin. Tak merubah watak mereka menjadi santun.

Bahkan kebanyakan mereka menjadi arogan dan merasa paling memahami persoalan dunia, karena telah membaca buku-buku tebal, buku hebat dan sebagainya.

Mereka tak pernah menunjukkan (meski hanya sekali) bukti bahwa apa yang dibacanya telah diamalkan.

Bagaimana bisa diharapkan telah mengamalkan, sedangkan yang tertulis dalam KITAB SUCINYA, yang WAJIB dijalankan saja, masih ditinggalkan dengan berbagai dalih.

wa maa kholaqtul jinna wal insa illa li ya’buduun…

kita ini diperintahkan FOKUS pada ibadah. Sedang untuk urusan rejeki, Allah telah mencukupkannya.

Jadi, untuk kecukupan rizqi, kita tidak perlu grusah-grusuh, berebut, dan takut tidak kebagian. Menjalani aktifitas duniawi untuk menjemput rejeki yang wajar saja.

Sikap rakus lah yang membuat kita merasa harus usaha begini dan begitu, harus punya ini dan itu, dan kemudian menghadirkan kompetisi di antara kita sendiri. Dunia dan seisinya tak akan pernah cukup untuk memenuhi rakusmu.

Wa maa min daabatin fil ardhi illa ‘ala Allahi rizquha…

Jadi, untuk urusan tulis menulis, buat apa aku menulis segala yang aku ajarkan kepada kamu semua, kalau kemudian hanya menjadi bahan bacaan sesaat dan tidak menjadi amalan dan perilakumu.

Aku hanya memberi bekal kepadamu segala hal dan tata cara dalam menjalani hidup seperti yang aku lakukan. Itu saja.

Kamu akan menjalani hidup dengan ragam yang berbeda dengan aku yang jauh lebih beragam. Dan kemampuanku hanya membekalimu sesuai kapasitasku. Hal yang lainnya, kamu sendiri yang menghadapi dan mencukupkannya.

Sebagaimana Aku belajar dari guruku. Guruku dari gurunya. Dan gurunya guruku dari gurunya lagi dan seterusnya. Pada ujungnya adalah MENCONTOH tatacara RASULULLAH dalam menjalani laku hidup.

Santriku, belajarlah menjadi orang yang penuh dengan “laku”. Bukan mempermanis mulutmu dengan kata yang sekedar menjadi polusi kehidupan tanpa arti.

Ilmu itu kalakone kanthi LAKU.”



Originally published at DiPtra.