Sebab hidup adalah perjalanan, tinggalkan beban yang tak diperlukan
— Teddi Prasetya Y.
Keluar dari pintu tempat kerja langsung memasang earpod ke gadget. Mulai mencari-cari lagu yang dirasa pas sebagai teman perjalan menuju kosan. Tempat kerja menuju kosan lebih kurang bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, dengan jalan kaki. Tak terlalu jauh, pun tak terlalu dekat.
Saat melintasi lapangan rumput di depan tempat kerja, niat saya mendengarkan musik seketika urung. Seharian tadi sudah mendengarkan lagu-lagu Asian Kung-fu Generation dan L’Arc~en~Ciel. Waktunya telinga beristirahat pikir saya.
Berjalanlah saya menyusuri rute pulang seperti biasanya. Berjalan kaki tanpa iringan musik dan tanpa main gadget membuat saya melakukan self talk sepanjang perjalanan. Sering kali ide-ide bermunculan ketika badan bergerak, seperti jalan kaki. Mungkinkah gerakan fisik akan merangsang otak untuk berpikir? Dalam kejadian malam ini boleh jadi iya.
Jadilah akhirnya saya merenung sepanjang perjalanan. Merenungkan tentang kehidupan, bahwa sesunggunya kehidupan adalah ibarat perjalanan menuju suatu tujuan. Tujuan setiap orang berbeda-beda, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut.
Ada yang tidak mempercayai akan adanya hari pembalasan, ada juga yang mempercayai sepenuh hati tentang adanya hari pembalasan kelak. Kepercayaan terhadap nilai-nilai itu akan mempengaruhi tingkah laku sehari-hari.
Percaya atau tidak percaya tentang adanya hari pembalasan, setiap orang sedang berjalan dengan pasti menuju hari kematiannya. Hari yang menjadi misteri bagi setiap orang akan kedatangannya. Percaya atau tidak dengan hari akhir, materi yang kita akui milik kita, tidak akan kita bawa mati.
Seperti halnya ketika melakukan perjalanan, beban yang berlebihan akan memberatkan langkah. Jika kekurangan juga akan menyusahkan ditengah jalan karena kehabisan bekal. Pandai-pandailah menakar apa yang dibutuhkan selama perjalanan. Wajalah jika seorang pengembara memberikan bekal yang tidak dibutuhkan kepada orang yang ditemui di perjalanan. Dengan begitu langkahnya akan terasa ringan sampai ditujuan.
Adalah sebangun dengan perjalanan kehidupan manusia menuju akhirat. Perjalanan di dunia ini hanyalah sejumput waktu untuk membawa bekal secukupnya untuk negeri akhirat. Bukan bekal materi yang hendak dibawa ke negeri akhirat, namun materi yang sudah ditransformasikan menjadi hal-hal ruhani. Bekal ruhani yang menjadi cahaya penerang perjalanan selanjutnya menuju Tuhan.
Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan, akan menghalangi transformasi bekal ruhani. Orang yang cerdas akan mentransformasi sebanyak mungkin, materi yang dimilikinya menjadi cahaya.
Namun sering kali kita abai atas hal-hal yang benar-benar dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan. Penumpukan materi yang sebenarnya tidak dibutuhkan menjadi hal yang lumrah. Iklan dan marketing yang begitu manis membuat barang-barang yang berada dalam koridor keinginan berpindah pada koridor kebutuhan. Jadilah kemudian kita gagap mengenali apa yang sesungguhnya kita butuhkan.
Bukan hanya materi, kegagapan mengidentifikasi itu juga meramabah pada amal-amal yang semestinya diprioritaskan. Hidup menjadi tidak efektif dengan melakukan hal-hal yang tiada bermanfaat.
Inilah yang menjadi salah satu alasan untuk menjalani hidup minimalis. Memahami hal-hal yang menjadi kebutuhan esensi. Tidak berlebihan dalam konsumsi. Iklan-iklan itu membuat sesuatu yang biasa saja tampak baika. Padahal tak semua yang tampak baik itu bener-benar baik, bahkan tak semua yang tampak baik kita perlukan.
Tak terasa perjalanan saya sudah sampai di tujuan, kosan. Renungan sejenak dalam perjalan ini sebagai cermin untuk menghisab tindak-tanduk diri selama ini. Masih terogolong sebagai orang-orang yang lalai. Astaghfirullah.
salam..
The post Jalan-Jalan appeared first on diptra.
Originally published on Wordpress