Ketika Rojiun Cuti Makan Nasi

Apakah kau tau beberapa ciptaan Tuhan sudah dimanipulasi manusia..? Mereka memanipulasi DNA ciptaan-Nya layaknya mengedit artikel di meja redaksi surat kabar. Mereka menginginkan hasil utak-atik DNA itu serenyah editorial pagi surat kabar ibukota.

Apakah utak-atik DNA ini sebentuk makar kepada Tuhan..? Aku sendiri tak tahu, karena selama ngaji di madrasah belum sampai pada bab fatwa memanipulasi DNA.

Kala di madrasah, ustadz masih sibuk membahas bab waris, apakah anak durhaka mendapat jatah waris. Lalu merembet pada Malin Kundang yang mendapat jatah warisan kutukan dari Mamaknya.

Pasti kau sudah tau dari membaca jurnal-jurnal ilmiah mengenai rekayasa genetika yang aku maksud. Tapi aku sendiri ragu kau rajin membaca jurnal ilmiah. Aku tau kau lebih rajin membaca update berita artis dadakan yang terkenal karena keracunan kopi.

Kau sudah tau perihal rekeyasa genetika pun tetap akan aku beri tau. Bahwa nasi yang kita makan sehari-hari sudah dimanipulasi DNA bibit padinya. Bibit-bibit padi yang ditanam Pak Tani dan Bu Tani itu dibeli dari korporasi pemanipulasi bibit.

Korporasi itu membuat lingkaran syaithon monopoli dari hulu ke hilir. Ini bukan kataku sendiri, adalah Rojiun yang kali pertama membisiki aku perihal manipulasi DNA padi ini.

Kau tahu kan masyarakat Nusantara tercinta ini hampir 100% pemakan nasi setiap hari. Bahkan sampai didoktrinkan konsumsi nasi 3 kali sehari.

“Ini bukan perkara memenuhi hajat hidup orang banyak.” bisik Rojiun beberapa hari yang lalu. “Ini perkara pasar yang empuk dan everlasting.” sejenak suara Rojiun terdengar meninggi.

Kesambet jin dari mana nih anak bisa berpikir setajam ini, Rojiun yang madrasah tsanawiyah saja tak lulus, pikirku. Aku sendiri tak pernah memikirkan sampai sejauh ini. Padahal aku sendiri hampir tak lulus madrasah tsanawiyah karena tergolong begundal pembuat onar di kelas.

Sebagai praktisi di bidang eksak, sesuai dengan jalur kuliah, aku jarang memikirkan hal-hal yang berbau ekonomi. Aku sedikit alergi dengan pelajaran-pelajaran sosial macam ekonomi, politik dan pedukunan. Padahal, kehidupan sendiri memerlukan pengetahuan sosial yang cukup untuk tetap bisa survive.

Sembari memamerkan smartphone android terbarunya yang dilarang beroperasi oleh seluruh maskapai penerbangan, Rojiun menunjukkan artikel tentang monopoli bibit ini.

“Coba kau baca artikel tentang penolakan petani atas monopoli bibit ini, Di..” kata Rojiun dengan matanya yang membelalak. Padahal matanya sipit macam orang Mongol. “Kau pasti akan terperangah heran.” begitu ia melanjutkan penuh semangat.

Aku membacanya sekilas dan mendapatkan prespektif baru mengenai kedaulatan pangan dalam negeri. Hal yang selama ini tak pernah terpikirkan. Kemudian aku juga mendapati 90% pasar benih dikuasai oleh korporasi asing. Hmm bahaya ini jika diteruskan dan pemerintah manggut-manggut seperti kerbau dicocok hidungnya.

Aku kira Rojiun sedang ngelindur. Biasanya juga dia tidak jelas apa yang dibicarakan. Macam orang berkumur-kumur dengan air tajin. Tapi untunglah kali ini racauannya masuk akal.

“Kau tahu ga Di, kalau aku sekarang sedang cuti makan nasi?” seperti rollercoaster, bahasan yang dibicarakan Rojiun mendadak berubah dengan cepat. Dari membahas kedaulatan pangan menjadi cuti nasi.

“Emmh mana ku tau, kau kan memang tidak doyan makan Ji walau perutmu macam anak busung lapar..” memang begitulah keadaannya. Perut agak membuncit dengan bola mata sipit menjorok keluar hampir menyerupai katak. Walaupun begitu, dia sudah punya anak satu. Mengalahkan para manusia single yang merasa rupawan.

Nah, perihal ini Aku mulai bingung. Apakah alasan Rojiun cuti makan nasi karena mutasi DNA pada bibit-bibit padi yang ditanam..? atau kah ada hal lain yang membuat anak ini bertingkah tak normal.

Jangan-jangan dia sedang tertimpa penyakit miskin. Lho bukannya dia salah satu warga yang menerima bantuan tunai langsung dari presiden..? Dalam kondisi semiskin apapun, Rojiun yang kukenal tetap makan nasi.

“Aku hanya sedang menerapkan prinsip keadilan Di…, coba kau perhatikan setiap ada iklan rokok, selalu ditampilkan himbauan tentang rokok yang bisa menyebabkan kanker.” sambung Rojun datar.

“Lantas maksudmu apa hee..? aku masih tak paham kaitan antara cuti makan nasi, keadilan dan rokok..” tukasku dalam kebingungan menebak-nebak kemana arah pembicaraan Rojun.

“Harusnya restoran, warung, iklan beras, dan segala hal yang berkaitan dengan beras menampilkan himbauan bila makan nasi bisa menyebabkan diabetes dan penyakit turunannya..” begitu penjelasan singkat Rojiun. “Ini kan namanya tidak adil, sama-sama menyebabkan penyakit tapi tidak ada himbauan ataupun peringatan sama sekali.”

Hmmm mengenai prinsip keadilan yang disampaikan Rojiun, Aku mengangguk-angguk saja daripada mendebat lebih jauh dan akhirnya aku kalah argumentasi hihihi. Oke sebelum dia memamerkan gadget terbarunya, dengan alasan ingin menunjukkan artikel yang menjadi landasan sikapnya cuti mana nasi, maka Aku mencoba mencari sendiri di Google.

Aku mencoba mencari artikel mengenai kaitan konsumsi nasi dan penyakit diabetes. Ternyata, lumayan banyak artikel yang membahasnya. Aku menemukan 3 artikel yang membahas hal ini.

Dari Republika, Aku mendapati nasi putih merupakan penyebab terbesar diabetes. Di dalamnya menyebutkan kenaifan orang Indonesia yang mengidentikkan kata makan dengan makan nasi. Belum disebut makan jika belum makan nasi.

Media Kompas online juga mengutarakan hal yang lebih kurang sama, nasi putih lebih berisiko menyebabkan dibetes daripada minuman manis. Hmmm semakin kuat saja apa yang disampaikan oleh Rojiun. Dalam artikel itu menyampaikan bahwa orang Asia lebih berisiko dalam hal penyakit diabetes dibandingkan orang Kaukasia.

Bahkan, Media online yang lain juga menyampaikan hal yang sewarna. Media online Detik menyampaikan bahwa nasi merupakan sumber karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik tinggi yang mecapai angka 74. Selain itu, nasi memiliki kadar serat yang rendah. Hal ini membuat gula darah naik dengan cepat dan jika berlarut-larut akan menuntun pada diabetes.

Rupanya Rojiun memperhatikan diriku yang sibuk mencari artikel tentang diabetes. Sambil tersenyum tengil yang khas, Rojiun meledekku “ Bagaimana Di..hape bututmu itu bisa membuka artikel tentang kaitan antara nasi dengan diabetes..?” dengan songong-nya dia menggoyang-goyangkan gadget-nya itu.

Aaahhh kalau tak ingat dia sahabat baikku, sudah kulempar hape bututku ini ke selangkangannya. Aku merasa jijik ketika dia mulai mempecundangi aku. Apalagi dalam hal-hal duniawi, aku tak suka melihat simpul senyumnya yang penuh kemenangan sekaligus melecehkan itu. Hmm dasar siluman ikan sapu-sapu pikirku.

“Jadi sudah berapa lama kau ambil cuti makan nasi Ji..?” Tukasku sebelum dia ngenyek lebih jauh perkara hapeku.

“Lebih kurang aku sudah ambil cuti makan nasi 3 pekan lah Di..” senyum tengilnya mulai meredup.

“Lantas, tumben-tumbenan dirimu main ke rumahku hari ini. Kau kan main ke sini hanya kalau ada maunya..” Aku mulai meninggi.

“Justru itu Di, aku main ke rumahmu ingin bicara empat mata kepadamu. Aku mau ngutang satu liter beras kepadamu. Aku kangen sama cita rasa nasi punel yang selama ini rutin aku makan.” Tiba-tiba Rojiun besuara lirih.

Belum sempat aku menjawab, dia sudah mulai angkat suara “Aku cuti makan nasi bukan karena takut diabetes, tapi semata-mata tak punya uang, antar diabetes dan nasi itu hanya sebuah kamuflase alasan.”

Hmmm kali ini aku merasa di atas angin, “Baiklah sebagai jaminan hutang satu liter beras, aku ingin menukarkan hape bututku ini dengan gadget super canggihmu itu..”

Kemudian aku melihat tatapan kosong Rojiun dengan mulut menganga seolah dia baru saja melihat valak. Dia shock setelah mendengar kenyataan pahit berpisah dengan gadget barunya.

Aku tahu paling banter gadget super canggihnya itu hanya dia gunakan untuk melihat video porno.