Memahami Ketiadaan

Oke pendek saja kali ini, tentang lintasan-lintasan pikiran semalam yang saya lalui di atas pembaringan. Tak langsung terlelap ketika kepala menempel di atas bantal. Tulisan ini akan sedikit filosofis absurd.

Sembari mengerjap-ngerjapkan mata beradaptasi dengan ruangan kamar yang gelap, pikiran saya terbawa kepada suatu diskusi dengan teman saya bertahun-tahun lalu. Tahun-tahun ketika masih berseragam putih-biru. Obrolan sotoy anak Tsanawiyah (sekolah setingkat SMP).

Diskusi yang berawal dari asal muasal api hingga mebahas tentang ada dan ketiadaan sesuatu. Sebelum korek api disulut, dari manakah api datang..? Sebelumnya api bersembunyi di mana..? Berasal dari alam apakah api itu…? lebih kurang pertanyaan-pertanyaan itulah yang kami diskusikan saat itu. Benar-benar sotoy bin ndakik-ndakik.

Pikiran nostalgia itu membumbungkan lebih jauh pikiran saya tentang konsep ‘kosong adalah isi, isi adalah kosong’ yang kerap dituturkan Biksu Tong Sam Cong kepada murid-murid bengalnya. Sebuah konsep yang sudah bisa dijelaskan oleh sains tentang dualitas gelombang partikel.1

Mohon maklum pikiran sebelum tidur suka melantur kemana-mana. :D

Tak butuh waktu lama pikiran saya beralih kepada konsep tenang ‘Fana’ yang sering saya dengar dari pengajian-pengajian tasawwuf. Hadir pertanyaan bagaimana merasai fana..? Apakah hanya melalui pemikiran-pemikiran saja..? Apakah ada cara sederhana untuk mengalaminya..? Edan, bisa ga tidur-tidur nih saya kalau sebelum tidur mikir yang berat-berat macam ini.

Mungkin karena efek cuaca yang gerah membuat saya resah. Sehingga pikiran liar mengalir kesana dan kemari hingga kelelahan dan menanti hingga ketiduran.

Kemudian the other me in my head mulai angkat bicara, “udah tidur ajah yang pules sana, ngapain sih kamu mikir yang berat-berat tentang fana dan sebagainya. Toh ketika kamu tidur pules, kamu enggak ingat apa-apa, kamu engga ada ketika tidur pules..!!”

Waaw benar juga yaa omongan the other me in my head, ketika tidur pulas, kesadaran kita entah hilang kemana. Tidur tanpa mimpi. Orang lain mungkin sedang melihat kita tertidur, tapi sejatinya kita sedang tak ada. Ahh lega sekali, tak lama setelah itu saya tertidur pulas.

Jadi, mbelghedhes sekali orang-orang yang suka meremehkan atau mendzalimi orang lain. Padahal setiap hari ketika tertidur pulas ia sedang dihadapkan pada kenyataan ketiadaan.

Pantaslah ketika sebelum tidur dianjurkan untuk membaca do’a..

bismikallahumma ahya wa bismika amuut.

dan ketika terbangun dari tidur dianjurkan untuk membaca do’a..

alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur

Kedua doa itu menjadikan proses tidur sebagai sebuah proses spiritual. Hmm adeem..

Ngomong-ngomong, sepekan ini saya membiasakan tidur lebih cepat. Alhamdulillah terasa lebih segar dan bugar di pagi hari.. :)

Salam..
 dia yang sedang meracau ndakik-ndakik



Originally published at DiPtra.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.