Memaknai Kembali Prioritas

Begitulah manusia, dari hari ke hari semakin pandai mencari alasan untuk pembenaran. Pembenaran atas tindakan kurang tepat yang dilakukan. Pembenaran atas hal-hal yang berada di gray area. Seperti yang saya lakukan atas kosong melompongnya blog ini dari pertengaan Maret 2017.

Tidak tanggung-tanggung hampir sebulan lamanya saya enggak menulis di blog ini. Kemudian saya mencari-cari alasan pembenaran atas tindakan ini. Alasan klasiknya sih ingin menghabiskan jatah males. Tuh kan, alasan pembenarannya terlalu dibuat-buat dan nggapleki1.

Alasan pembenaran lainnya adalah terlalu sibuk. Padatnya kuantitas pekerjaan sehari-hari yang harus diselesaikan seolah-olah menjadi pembenaran atas sikap malas menulis ini. Ahh lemah sekali, terkalahkan telak oleh tembakan-tembakan pekerjaan yang mendera setiap hari.

Kemudian saya teringat akan Cak Nun yang rutin menulis di rubrik Daur[²] di website beliau. Hei, coba bayangkan kepadatan aktivitas Cak Nun yang berkeliling dari simpul-simpul Maiyah di seluruh Indonesia masih sempat-sempatnya menulis untuk jama’ah Maiyah.

Rasanya runutan pekerjaan saya tak sepadat aktivitas yang dijalani oleh Cak Nun. Tapi beliau mampu menulis setiap hari dengan kategori tulisan yang dalam dan sarat makna. Bila melihat kapasitas Cak Nun, wajar saja jika beliau mampu menulis setiap hari. Puluhan buku sudah beliau tuliskan. Rasanya bukan perbandingan yang apple to apple jika membandingkan diri dengan Cak Nun. Tapi rasanya tiada salah jika ingin meniru jejak beliau dalam hal konsistensi menulis.

Senada dengan Cak Nun, marketeer terkenal asal Amerika, Seth Godin, juga rutin menulis di blognya[³] setiap hari. Dalam salah satu rekaman podcast-nya di situs unmistakablecreative.com[⁴], Seth Godin menganjurkan untuk ngeblog setiap hari. Padahal sebagai marketeer terkanal, tentu jadwal Seth Godin padat merayap.

Everyone should write a blog, every day, even if no one reads it. There’s countless reasons why it’s a good idea and I can’t think of one reason it’s a bad idea. — Seth Godin

Quote dari Seth Godin di atas mungkin terdengar sedikit gila, tapi gagasan itu sudah dilakukan dengan konsisten oleh Seth Godin sendiri. CJ Chlivers menjelaskan lebih detail tentang pemikiran Seth Godin ini dalam tulisan di blognya[⁵].

Dari dua contoh tokoh yang saya ketengahkan tentang konsistensi Cak Nun dan Seth Godin, rasanya alasan sibuk tidak dapat dijadikan pembenaran atas keengganan menulis, khususnya menulis di blog ini.

Setelah saya telusuri kedalam diri sendiri, permasalahannya bukan ada atau tiadanya waktu untuk menulis. Namun masalah yang sedang saya hadapi lebih kepada hilangnya prioritas menulis dalam keseharian. Jika aktivitas menulis saya masukkan dalam prioritas sehari-hari layaknya makan dan minum, maka sempat tak sempat saya akan meluangkan waktu untuk menulis. Apapun itu bentuk tulisannya.

Permasalahan selanjutnya adalah mencari tahu penyebab menulis tiada lagi masuk mejadi prioritas dalam keseharian. Saya rasa, keluarnya aktivitas menulis dari prioritas kembali pada term di awal tulisan ini, yaitu menghabiskan jatah malas. Ini benar-benar sebuah alasan pencarian pembenaran paling menyebalkan yang pernah saya timbulkan untuk diri sendiri. Hmm Menyebalkan sekali.

Ahhh mungkin ada baiknya penyebab rasa malas ini saya uraikan di tulisan selanjutnya esok hari. Biar ada alasan untuk menulis setiap hari gitu lho hehe. Untuk saat ini, biarlah tulisan ini menjadi pendobrak tembok untuk memulai rutinitas menulis agar kembali masuk kedalam prioritas aktivitas harian. Kembali lagi memaknai prioritas.

Kemudian saya mulai mengalami dejavu…

Salam…
 DiPtra lelaki berwajah ndangdut


  1. sesuatu yang menjengkelkan; menjengkelkan sekali; membuat emosi.
     [²] : Daur
     [³] : Seth Godin
     [⁴] : What to do When It’s Your Turn with Seth Godin
     [⁵] : Seth Godin Explains Why You Should Blog Daily

Originally published at DiPtra.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated DiPtra’s story.