Jendral Tiang Feng berpesan bahwa derita cinta itu tiada akhirnya. Itu karena dia selalu gagal mendapatkan cinta dari Cang E salah satu bidadari di khayangan.

Lha iya, cinta ditolak saja bikin hati pedih. Jendral Tiang Feng malah dikutuk jadi babi dan diturunkan ke bumi. Pantaslah dia menyatakan bahwa cinta itu deritanya tiada akhir.

Kita tengok lagi kisah cinta epic dari dalam negeri. Percintaan Rangga dengan Cinta. Kisah cinta epic anak-anak muda awal tahun 2000 an. Anak-anak muda itu kini sudah beubah menjadi bapak-bapak dan emak-emak.

Betapa Cinta yang diperankan oleh Dian Sastro menderita karena ditinggal ngibrit Rangga ke Amrik. Di-PHP-in selama 14 tahun. Semakin pedih ketika si kutu kupret Rangga ga pernah nge-poke Cinta di eFBi.

Lhaaah tahun 2002 kan udah ada internet. Yaa masak Rangga dan Cinta enggak main MiRC atau Yahoo Messenger untuk saling tukar kabar. Anak jaman sekarang tahu MiRC kagak yak hehe. Itu apa namanya kalo enggak tengil. Dasar Rangga sok kegantengan. Untung kagak dikutuk jadi babi ngepet.

Akan lain cerita misalkan Rangga dikutuk jadi babi ngepet. Maka dapat dipastikan Rangga tak akan main di sekuel AADC 2. Tapi Rangga akan main di sekuel Babik Ngepet 2 bersama Suzzana. Modar kowe, untung Cinta enggak makan yang mengandung Babi.

Coba bayangkan jika orang tua Cinta adalah pengusaha kuliner sukses di sektor daging Babi. Iyaa Rangga akan tetep main di AADC, tapi sekuel ke tiga. AADC 3 : Misteri Hilangnya Rangga.

Maan ini bakalan jadi kisah cinta paling epic selama Indonesia ada. Berkisah perjuangan Cinta mengembalikan Rangga menjadi manusia. Disertai bumbu drama macam kisah Siti Nurbaya. Pemisahan cinta dua insan karena tak direstui orang tua.

Jika Syamsul Bahri dikirm ke medan laga, maka dalam sekuel AADC 3, Rangga dikirim ke rumah potong hewan. Aduh malah semakin runyam. Jangan-jangan Rangga ini jelmaan Jendral Tiang Feng.

Mari kita lupakan kisah menye-menye seputar cinta dan printilannya. Jika cinta ditilik dari sudut pandang itu yaa memang cinta sebagai pangal penderitaan. Karena fondasi cintanya itu rapuh.

Dalam dunia pengembangan diri, cinta malah menjadi energi terbesar untuk terus tumbuh. Tumbuh menjadi pribadi lebih baik. Menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Seperti cita-cita kebanyakan anak SD ketika ditanya mengenai cita-cita.

Selanjutnya, masuk ke dalam wilayah mindfulness. Cinta akan menghadirkan compassion atau welas asih. Jika ada orang mempelajari mindfulness kemudian tidak melahirkan compassion, maka perlu ditinjau ulang. Jangan-jangan dia titisan Jendral Tiang Feng.

Ratusan abad yang lalu seorang bijak pernah bersabda perihal cinta. Beliau besabda bahwa kelak di akhir zaman para pengikutnya dan kebanyakan manusia akan ditimpa suatu penyakit. Penyakit cinta dunia sehingga melahirkan ketakutan untuk mati.

Perihal penyakit cinta dunia secara berlebihan inilah yang menjadi salah satu landasan saya menjalani hidup minimalis. Saat ini sudah memasuki akhir zaman. Akhir zaman walau belum mencapai ujungnya.

Bercak-bercak kecintaan terhadap dunia begitu nampak dalam keseharian. Termasuk keseharian saya. Jika hati diibaratkan gelas, mungkin kecintaan tehadap dunia hampir memenuhi rongga-rongga gelas.

Menjalani setapak demi setapak hidup minimalis dengan melepaskan barang-barang yang dicintai. Mengurangi kepemilikan terhadap benda-benda yang kurang esensial.

Kecintaan tehadap kebendaan menghijab kecintaan sejati terhadap nilai-nilai kebaikan. Cinta yang menjadi pangkal penderitaan.

Memasuki akhir tulisan, ada benarnya pernyataan Jendral Tiang Feng bahwa cinta deritanya tiada akhir. Jendral Tiang Feng seolah-olah memberikan nasehat tersirat bahwa cinta terhadap dunia deritanya tiada akhir. Dalam hal ini cinta yang berlebihan.

Kemarin saya jalan-jalan ke Gramedia Matraman. Buku AADC menjadi Buku terlaris ke dua pada display buku-buku best seller. Beberapa hari lagi sekuel ke 2 AADC kabarnya akan premier di beskop-beskop. Saya penasaran apakah Rangga akan menjalani nasib yang sama dengan Jendral Tiang Feng..?

Entahlah. Semoga tidak sekuel AADC ke 4, Rangga Ngepet.

The post Pangkal Penderitaan appeared first on diptra.

Originally published on Wordpress